Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Novel The Alkemis, Tentang Impian Kita, Cinta, dan Zona Nyaman

 Novel The Alkemis, Tentang Impian Kita, Cinta, dan Zona Nyaman

Sudah lama tidak membaca sebuah buku yang membuat saya merenung lama, selain buku Fihi ma Fihi karya Jalaludin Rumi, buku The Alchemist karya Paulo Coelho adalah sekian dari buku yang membuat saya melakukan hal tersebut.

Cerita The Alchemist sebenarnya sederhana, bahwa terdapat seorang anak bernama Santiago dari Eropa yang bermimpi menemukan harta karun di tengah padang gurun, dekat piramida Giza di Mesir. Ia tidak yakin dengan mimpinya, namun pada suatu hari bertemulah ia dengan seseorang yang membuatnya yakin dengan mimpi-mimpinya tersebut.

Orang itu menjelaskan tentang takdir yang mesti dipenuhi.  

Karenanya, perjalanan ini bagi Santiago sebenarnya adalah perjudian. Santiago tidak mengetahui akan ada apa di depan sana, ia hanya remaja yang kebetulan bermimpi ada emas di dekat piramida Mesir ketika ketiduran saat menggembala domba-dombanya.

Bagi Santiago yang hanya seorang penggembala, perjalanan jelas membutuhkan biaya. Maka ia menjual seluruh dombanya demi mengejar impiannya tersebut. Sayangnya, ia mendapati dirinya tertipu.

Hanya saja, Santiago tidak pernah menyadari bahwa perjalanan itu mengubah dirinya.


Identitas Novel

Judul: The Alchemist (The Alkemis)

Penulis: Paulo Coelho

Terbit pertama: 1988

Genre: Novel filsafat, sastra, petualangan

Tokoh utama: Santiago

Tokoh lain: The Shopkeeper, Biarawan Koptik, Sang Alkemis, Melchizedek, Fatima, Orang Inggris, Santiago

Review novel The Alkemis karya Paulo Coelho tentang impian, takdir, dan pencarian jati diri
Tertarik membeli bukunya? Dapatkan harga promo disini Promo Novel Sang Alkemis

Mengapa Novel The Alkemis Begitu Populer?

Jika kamu melihat list buku-buku terbaik, maka novel The Alkemis pasti masuk dalam urutan itu. Jika kamu ragu, cek saja booktuber atau bookstagram favoritmu.

Alasannya sederhana, The Alkemis yang ditulis Paulo Coelho menjelaskan suatu hal yang berat dengan analogi sederhana. Ia tidak berhutbah tentang hidup, the Alkemis menganalogikan hidup itu sendiri.

Maka tak ayal novel sang alkemis begitu dicintai pembaca sebab ia adalah sastra, yang menjadi guru tanpa mesti menggurui.


Apa Sebenarnya Yang Ingin Disampaikan Coelho Melalui Buku The Alchemist?

Saya pribadi memikirkan hal yang serupa. Sebab buku The Alkemis adalah buku sastra, maka pemaknaan kita terhadapnya begitu banyak, dan setiap individu bisa menemukan makna-makna yang berbeda.

Karenanya, dari perenungan saya, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dimaknai terkait buku novel The Alkemis.

Hidup terkadang bukan hanya sekadar tujuan.

Bagi saya pribadi, Paulo Coelho melalui novel The Alkemis sedang memberikan kita petuah bahwa terkadang bukan impian itu yang penting. Namun perjalanannya.

Saya berkata demikian sebab apa yang ditemukan Santiago ketika mengejar impiannya sebenarnya jauh lebih berharga dibandingkan apa yang pada akhirnya Santiago dapatkan di akhir cerita.

Santiago sama seperti kita, sebab dalam perjalanan kita mengejar impian, maka itu tentu tidaklah mudah, kita akan mengorbankan banyak hal untuk sampai pada posisi itu.

Kita akan kehabisan waktu, uang, tenaga, dan seringkali pengejaran kita terhadap impian berujung jalan buntu, bahkan mungkin, sia-sia. Kita akan berhadapan dengan rasa takut, keraguan, dan lebih banyak lagi ketidakpastian.

Meski demikian, itulah yang pada akhirnya berharga.

Orang sukses, ketika sudah sampai pada kesuksesan itu, mereka tidak akan mengisahkan kesuksesan itu, namun bagaimaa perjalanan mereka mencapainya. Mereka akan menceritakan tentang sakit dan jatuh, dan bagaimana mereka terkapar sehabis tertampar berkali-kali.

Pada perjalanan kita menginginkan sesuatu, kita barangkali terluka, barangkali ditipu, dihina, dicaci, namun pada akhirnya, itulah yang berharga.

Dan pada akhirnya, itu tak mengapa.

 

Hidup adalah tentang memenuhi takdir

Ada sebuah frasa yang unik ketika Santiago bekerja dengan pria Arab. Pria itu menyebut sebuah kata penuh makna, ’Maktub’.

Dalam bahasa Arab istilah itu berarti ’telah tertulis’, dan kata itu penting sebab secara tidak langsung Coelho menjelaskan bahwa seluruh kejadian yang terjadi di bahwa matahari, di atas Bumi, sebenarnya telah tertulis, dan kita sedang menuju hal yang tertulis itu.

Makna ini akan membuat kita bertanya, lalu apakah manusia tidak memiliki kehendak? Tentu saja manusia memiliki kehendak, dan kehendak itu adalah bagian dari ’maktub’.

Setiap pilihan kita pun telah tertulis, jadi apapun pilihan kita, adalah hal yang telah termaktub.

Menurut saya ini sangat bermakna. Bukankah itu sangat seru? Kita ada sebab Tuhan ingin kita memenuhi ’apa yang sebenarnya’ telah disiapkan Tuhan oleh kita.

Barangkali kehadiran kita ada untuk alam semesta ini, yang luas dan penuh ketidakpastian.

Atau mungkin, kita ada karena seseorang telah tercipta.

Setiap diri kita memiliki takdir pribadi untuk kita penuhi. Kita harus berani hidup lebih lama dan cukup berani untuk memahami hal tersebut.

Kalau kata Frankl dalam buku Man's Search For Meaning, hiduplah pada hal yang bisa kamu pertanggungjawabkan.

 

Cinta adalah hal yang membuatmu bertumbuh.

Santiago bertemu seorang perempuan gurun bernama Fatima, dan ia jatuh cinta. Ingin ia lama-lama disana, namun mimpinya juga tidak bisa menunggu.

Pada titik tersebut, Fatima mengatakan bahwa Santiago harus pergi. Pernikahan bisa menunggu, mengejar impian belum tentu.

Coelho seolah mengingatkan pada kita bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang membuat kamu bertumbuh. Cinta yang tak membatasi. Cinta yang rela membuatmu lebih baik dari hari ini.

Fatima menunggu, ia biarkan Santiago untuk usai dengan dirinya sendiri. Padahal Fatima dan Santiago sama-sama tak pernah mengetahui; akankah mereka bersama lagi?

 

The Alkemis dan Simbol-Simbol

Sebagai buku sastra, membaca buku The Alkemis saya rasa tidak bisa kita lepaskan dari bagaimana kita mesti melihat bagaimana benda-benda yang ada dalam novel tersebut membangun ceritanya.

Jika novel Animal Farm mewakili pemerintah korup dengan babi atau para buruh yang dieksploitasi dengan sapi dan hewan peternak lainnya, jika Ziggy Z. mempersonifikasikan Tuhan dengan anak kecil dan hamba dengan sebuah bus. Maka dalam buku The Alkemis ini, Coelho juga mewakili beberapa hal dan melalukan personifikasi. Diantaranya;

  1. Domba. Meski ada yang mengatakan bahwa domba merepresentasikan peribadatan, saya melihat bahwa domba dan rumput-rumput sebenarnya merepresentasikan zona nyaman manusia. Dalam novel ini, hal itulah yang ditinggalkan Santiago.
  2. The Alkemis. Saya merasa bahwa The Alkemis merepresentasikan ‘Guru’. Saya katakan ‘Guru’ sebab pada dasarnya tugas guru adalah membimbing. Sang Alkemis dengan sangat baik membimbing Santiago, hingga anak itu bisa mengeluarkan kekuatan alaminya.
  3. Fatima. Sebagai remaja, Santiago jatuh cinta pada Fatima. Fatima pun tidak memaksa untuk langsung dinikahi, melainkan meminta Santiago untuk ’usai dengan dirinya sendiri’ terlebih dahulu. Fatima erat dengan cinta yang membebaskan, bukan membatasi. Cinta bisa menunggu, mimpi? Belum tentu.

 

Siapa The Alkemis?

The Alkemis sebenarnya merujuk pada seornag pria misterius. Konon pria itu telah hidup ratusan tahun lamanya, ia mengenal tentang alam semesta, dan mengetahui seluk beluk sesuatu.

Jika merujuk pada istilahnya, maka jelas alkemis adalah alkimia. Namun seingat saya terhadap novel the alkemis sendiri, tdiak terjelas secara pasti siapa the alkemis itu. Kemisteriusannya sama gelapnya dengan naskah supersemar yang meruntuhkan pemerintahan Soekarno dulu.

Menuurt pembacaan saya, jika ia bukan nabi Khidir yang bisa hidup ratusan tahun, maka siapakah ia? Karenanya lebih erat saya menyebut sang Alkemis sebagai seorang ’Guru’. Guru yang membimbing, yang membebaskan Santiago dari keraguannya akan sesuatu, yang menunjukkan siapa sebenarnya Santiago yang sesungguhnya.

Mempersonifikasikan The Alkemis sebagai seorang Guru saya rasa tepat, sebab Guru sejati memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan guru biasa. Guru sejati bisa melihat melampaui zaman.

Saya rasa, ini juga makna tak tersirat dari novel sastra ini. Ia ingin mengatakan kepada pembaca bahwa setidaknya, temukanlah guru atau mentor, guru yang akan membimbing kamu untuk menemukan untuk apa kamu diciptakan.

 

Apa Yang Paling Berarti? Kesimpulan Novel The Alkemis.

Tidak ada yang lebih baik selain menyadari alasan kita diciptakan. Ketika kita telah sampai titik pemahaman itu, kita memahami diri kita sendiri, tujuan kita hidup, dan menyadari bahwa segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan.

Hal-hal yang menyakitimu tak selamanya buruk, sebab ia membentuk. Hal yang membuat kau terbuai juga tak selamanya baik, sebab ia membuatmu lalai.

Ketika kamu berani bermimpi, kamu akan dihadapkan dengan serentetan rasa ragu, takut dan putus asa. Kau barangkali akan ditinggalkan dengan orang yang engkau cinta, terlebih melepaskan zona nyaman yang selama ini membuat kau menjadi seorang gembala.

Namun bagaimanapun, terkadang, hidup adalah doa yang panjang, lebih serupa perjalanan yang membuat kamu menemukan ’dirimu’.

Terimakasih sudah membaca.

Catatan akhir, aku rasa novel The Alchemist memiliki kaitan tema dengan The Wizard of OZ karyra Frank Braum. Tere Liye juga beberapa kali—aku rasa—menggunakan novel ini sebagai referensinya.

Misalnya dalam buku Rembulan Tenggelam di Wajahmu, atau buku series Bumi ketika Ra, Seli, dan Ali mencari tahu lokasi bunga magis.

The Alkemis saya masukkan ke dalam salah satu buku Sastra Terbaik Sepanjang Masa yang pernah saya baca.


Baca juga: Semua Buku Yang Pernah Saya Ulas

Posting Komentar untuk "Review Novel The Alkemis, Tentang Impian Kita, Cinta, dan Zona Nyaman"