Ketika Dunia Medis Bertemu Mistisme; Review Buku Lanang Karya Yonathan Rahardjo
Ketika Dunia Medis Bertemu Mistisme; Review Buku Lanang Karya Yonathan Rahardjo
Buku Lanang karya Yonathan
Rahardjo mungkin menjadi salah satu buku terabsurd yang pernah saya baca. Mengisahkan
seorang dokter hewan bernama Lanang yang sangat berdedikasi dengan dunia
profesionalismenya, bahkan di desa tempat ia mengabdi tidak ada permasalahan
tentang hewan yang tidak bisa ia atasi.
Namun suatu hari, masalahnya berbeda. Selepas membantu seekor sapi melahirkan,
sebuah penyakit muncul, sebuah penyakit yang tidak pernah dibayangkan akan ada
sebelumnya, sebuah penyakit yang membuat daging sapi berbintik-bintik dan
memiliki benjolan seperti jerawat, sebuah penyakit yang pada akhirnya membuat
hewan itu, mati.
Hal yang lebih aneh lagi adalah, penyakit tersebut muncul beriringan dengan
kemunculan seekor babi bersayap yang mengganggunya saat ia sedang melakukan kegiatan
di atas ranjang bersama istrinya. Selepas babi itu mengganggunya, penyakit itu
kemudian muncul, tetapi apa kaitannya? Dan bagaimana bisa ada seekor babi
bersayap?
Setidaknya, hal tersebutlah yang menjadi dasar masalah dari novel Lanang
karya Yonathan Raharjo ini. Tak ayal ia pernah memenangkan lomba DKJ yang
merupakan lomba sastra nasional karena keunikan ceritanya serta bagaimana
cerita tersebut disampaikan.
Meski demikian, karya ini tidak lepas dari protes. Protes itu berasal dari
konten dan isi dari novel Lanang yang cenderung vulgar dan memiliki
adegan-adegan seks, yang mana adegan itu tidak ditayangkan sekali dua kali. Namun
jikalau membacanya, saya pribadi mengangguk-angguk dan memahami kenapa konten
tersebut dimasukkan.
![]() |
| Cover Buku Lanang (Dapatkan Bukunya Disini: Lanang) |
Bahas Novel Lanang Yonathan Rahardjo
Secara tidak langsung, sebenarnya novel Lanang ini mengkritisi bagaimana
dunia kedokteran kita, dan bagaimana persinggungannya dengan dunia perpolitikan
yang ada di Indonesia.
Ada satu pertanyaan yang dilontarkan Yonathan Rahardjo selaku penulis melalui
karakter bernama Rajikun; mengapa kiblat medis kita harus berorientasi ke
Barat? Seolah yang bukan berasal dari Barat bukanlah medis itu sendiri?
Saya rasa, poin pertanyaan itu ada disana, dan menurut saya, ada betulnya
juga.
Selama ini apa yang kita pelajari selalu bergantung pada perspektif dunia
Barat dan seringkali kita menihilkan dunia medis kita sendiri. Memang kalau
dibandingkan hal itu akan lucu sebab dunia medis Indonesia seringkali erat kaitannya
dengan mistisme, tentang jampi-jampi dan sejenisnya.
Namun pertanyaannya, apakah dunia medis kita hanya sebatas mistisme?
Tidakkah ada yang lain selain itu? Tentu jelas, tidak. Keberadaan rempah-rempah
kita, kerajaan masa lampau serta tabib-tabibnya membuat kita abai dan lupa
dengan kearifan lokal kita.
Pertanyaan kenapa semua harus berkiblat ke Barat inilah yang menjadi
pertanyaan yang harus kita jawab bersama, sebab secara tidak langsung, kita
terjajah disana, terjajah secara ideologi.
Marilah kita melihat kritik Hamka tentang bagaimana masyarakat saat
mempelajari agama, pandangannya akan absah bilamana menggunakan kacamata orientalis
barat, sementara menggunakan kacamata sendiri dianggap tidak mumpuni.
Dalam hal inilah kita ditekan agar persepsi kita seolah benar jikalau hanya
menggunakan persepsi Barat. Bahkan untuk mempelajari Islam, akan dianggap absah
ketika kita menggunakan paradigma tokoh-tokoh barat, bukan tokoh Islam itu
sendiri.
Di lain sisi Herbert Benson dalam buku Keimanan Yang Menyembuhkan pernah
mengkritisi bagaimana dunia medis barat yang kaku, yang memisahkan manusia dengan
jiwanya dan menganggap bahwa manusia tidak beda seperti benda yang bilamana rusak
bisa diperbaiki.
Dengan penelitiannya dengan para biksu di Tibet, Herbert Benson berhasil
membuat dunia medis barat terdiam karena metode mereka yang mereka agungkan
ternyata tidak lebih berharga dibandingkan dengan metode biksu di Tibet yang
dianggap terbelakang.
Novel ini sebenarnya membahas hal yang sama, ia membahas tentang otoritas
medis barat selama ini yang membuat kita hanya merasa bahwa apapun yang berasal
dari Barat sebagai suatu hal yang benar dan tepat, dilain sisi kita merendahkan
ilmu-ilmu yang lain, bahkan merendahkan ilmu medis Nusantara dan menganggapnya
tidak mumpuni.
Persinggungan Medis dengan Politik
Ketika penyakit tersebut menyebar
luas dari desa hingga menyebar menjadi pandemi, maka persoalannya bukan lagi
pada sisi Lanang saja sebagai seorang dokter hewan yang berdedikasi. Melainkan
petinggi negara.
Masyarakat membutuhkan jawaban,
namun jawaban seringkali tidak bisa dihadirkan secara cepat bilamana negara berhadapan
dengan musuh yang kali ini berbeda dengan yang pernah dilalui sebelumnya.
Sayangnya, masyarakat tidak bisa menunggu. Mereka telah melakukan apapun
yang mereka bisa untuk menyelamatkan sapi-sapi mereka dari kematian, dan itu
semua gagal. Masyarakat mau solusi, sialnya, seringkali pemerintah kita
menjawab sesuatu dengan sekenanya, dengan harapan bahwa publik puas.
Pada novel ini, pemerintah sialnya
berpihak pada yang berduit. Ia malah mempercayai dukun dan mengatakan bahwa
masalah yang membuat semua ini terjadi adalah seekor babi jadi-jadian, seekor
babi yang bersayap, seekor babi yang pernah mengganggu Lanang tempo hari.
Masyarakat dan Masalah
Saya rasa bahwa titik absurd dari
cerita ini adalah bagaimana reaksi masyarakat terhadap permasalahan yang ada,
terlebih terhadap sesuatu yang diluar kapasitas mereka.
Masyarakat desa yang bekerja
sebagai peternak adalah peternak, mereka bisa saja bukan akademisi yang berkuliah
di luar negeri, lebih banyak mereka adalah masyarakat desa yang tidak akan
pernah bisa lepas dari nilai-nilai mistisme di masyarakat.
Dalam cerita ini, para peternak sapi
desa pernah berasumsi melakukan tindakan yang konyol, yaitu mengecat sapi mereka
agar sapi mereka tidak terkena penyakit. Rumornya, penyakit itu hanya mengincar
sapi dengan warna tertentu sehingga dengan mengecatnya maka penyakit tersebut
tidak menjangkiti sapi. Sayangnya nihil.
Apa yang dikatakan pak Menteri tentang babi siluman juga membuat kebijakan
politik menjadi efek berganda. Para babi di desa diburu, mereka diincar dengan
harapan bahwa salah satu dari babi-babi itu adalah siluman yang membuat mereka
melarat.
Salah satu kejadian lucunya adalah ketika seekor babi yang dikejar warga
sampai lewat ke pemakaman yang sedang dihadiri pemuka agama, dengan sigap
pemuka agama itu berkata; kita harus rajin beribadah, agar semasa hidup
tidak menjadi babi.
Mengapa Novel Lanang Memenangkan DKJ 2006?
Saya merasa bahwa itu karena isu
yang dibawakan Yonatahan dan kritik yang dibawanya. Cukup jarang saya temukan
sebuah novel yang mengangkat isu kompleks seperti ini yang mana dunia medis,
politik, dan masyarakat bercampur menjadi satu.
Selain itu, hal yang perlu
digarisbawahi adalah bagaimana Yonathan menyampaikan ceritanya. Saya rasa,
itulah yang membuat Lanang menjadi juara. Gaya penceritaannya sama seperti gaya
penceritaan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk.
Karenanya untuk membacanya memang
harus menggunakan fokus yang tinggi untuk menikmati ceritanya dan sebisa
mungkin tidak ada distraksi, hal tersebut karena novel Lanang menggunakan
paragraf yang panjang dan lebar serta tidak putus-putus.
Apa Yang Saya Dapatkan Selepas Membaca Bukunya?
Wawasan saya menjadi lebih terbuka. Apa yang dikatakan Rahardjo benar
bahwasanya kita terlalu menutup mata dengan dunia kita sendiri. Selama ini
segala sesuatu memang berporos pada barat, sehingga membuat kita abai dengan
ilmu daerah kita sendiri.
Dalam kacamata saintifis, memang kalah jauh, namun bukan berarti tidak benar.
Beberapa hal yang dilakukan masyarakat sebenarnya mengandung nilai medis yang banyak,
hanya saja sebab tidak diketahui, tidak ada yang tahu.
Misalnya tradisi mamak di Suku Sasak, atau kebiasaan masyarakat memakan
daun sirih yang dicampur dengan bahan lainnya terbukti bisa sebagai pencegah
penyakit kangker.
Bahkan belakangan seseorang menemukan obat dari penyakit selepas berkutat
dengan kitab tua dari China yang membahas tentang medis. Hematnya, local wisdom
kita mesti bisa diintegrasikan dengan kemajuan zaman, agar setidaknya kita
mengetahui nilai tertentu di dalamnya, yang seringkali bukan hanya tradisi.
Selain itu, saya merasa sedikit terbuka dengan bagaimana dunia medis di
Indonesia yang mana tidak bisa lepas dari peran politik dan kepentingan di dalamnya.
Meski kita percaya bahwa dokter kita telah bersumpah, namun apapun yang
bersinggungan dengan bisnis mau tidak mau akan menjadi komoditas.
Realitas, seringkali mengalahkan
ideal yang sesungguhnya.
Kekurangan Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo?
Saya tidak yakin bahwasanya novel
ini akan bisa masuk ke benak banyak orang, meski bagus, saya jarang melihat ada
orang yang membahasnya. Dalam dunia yang dipenuhi brainrot dan AI Slop sekarang,
dengan manusia-manusia yang susah fokus, bacaan seumpama buku ini rasanya tidak
akan laku di pasaran.
Meski demikian, saya menyarankan
untuk membacanya hanya untuk mengetahui sejauh mana kita bisa fokus terhadap sesuatu.
Identitas Buku
Judul Buku: Lanang
Penulis: Yonathan Rahardjo
Editor: A. Fathoni
Penerbit: Pustaka Alvabet
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: Mei 2008
Cetakan: Cetakan I
Kategori: Novel / Sastra Indonesia
Jumlah Halaman: 440 halaman
Ukuran Buku: 12,5 × 20 cm
ISBN: 978-979-3064-59-8 (ISBN-13) / 979-3064-59-5 (ISBN-10)
Bahasa: Indonesia
Dapatkan bukunya: Novel Lanang karya Yonathan Rahardjo
Akhirnya,
Tidak ada yang sempurna di dunia
ini, semuanya memiliki dosa masing-masing. Dendam ada dalam setiap diri orang,
dan profesionalisme seringkali hanya menjadi topeng untuk menutupi kejahatan
kita di masa lalu.
Tidak ada yang pernah tahu bahwa
dendam yang ada di masa lalu bisa abadi dalam tubuh orang lain, ia bisa mewujud
sesuatu yang tidak bisa kita sangka-sangka, seperti orang baru, bahkan, seperti
seekor babi bersayap yang bisa terbang.
Saya merekomendasikan novel
Lanang bilamana tertarik pada susastra yang membutuhkan pemaknaan lebih dalam
tentang bagaimana dunia kita bekerja, serta bagaimana masa lalu seringkali
mewujud dengan cara yang tidak terduga-duga.

Posting Komentar untuk "Ketika Dunia Medis Bertemu Mistisme; Review Buku Lanang Karya Yonathan Rahardjo"