Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Kecoak di Tengah Peradaban Mesin

Menjadi Kecoak di Tengah Peradaban Mesin

Belakangan saya mulai berpikir untuk terlahir sebagai kecoak saja. Entah mengapa, hanya sedang merasa tidak berguna, hanya merasa tidak kompeten dibandingkan yang lainnya.

Modernisme dengan slogan kerja, kerja, kerja, produktif, produktif, produktif! Nampaknya benar-benar melindas saya. Kereta api kapitalisme ini tidak bisa saya bendung, dan tercekiklah saya, terseret-seret.

Bahkan seandainya Tuhan memiliki kamera pantau, saya mungkin akan menjadi orang yang pertama kali melambaikan tangan pada kamera sembari berkata; nggak kuat! nggak kuat![1].

Sebagaimana Kafka dengan buku metamorfosisnya yang mengisahkan manusia yang tiba-tiba menjadi kecoak—dan hal yang ia pikirkan pertama kali adalah bekerja—saya seringkali merasakan hal yang sama.

Pun saya juga semakin merasa seperti Mersault, tokoh yang dikarang oleh Albert Camus dalam bukunya, The Stranger, yang mengisahkan tentang manusia yang terasing yang bahkan tidak tahu kesalahannya apa, namun tahu-tahu masuk penjara.

Atau mungkin saya juga merasa seperti Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway yang mengisahkan lelaki yang merasa gagal sebagai pelaut, dan sebagai upaya menunjukkan dirinya, ia terpontang-panting oleh hidup.

Ah…hidup…

Hidup pada abad 21 saya yakini sebagai sebuah kutukan sekaligus keberkahan, saya menyebutnya sebagai keberkahan sebab pada masa ini terjadi gebrakan manusia untuk lebih menonjol pada segi kemajuan teknologi, atau istilah kerennya, metamodernisme.

Kita telah melampaui modernitas, sekarang kita memiliki mesin-mesin yang bekerja untuk kita. Kita tidak perlu menulis, mencuci, atau barangkali kita juga tidak perlu membersihkan lubang pantat kita sendiri sebab mesin telah mengambil alih pekerjaan-pekerjaan itu. Entah akan menjadi apa tangan, kaki, dan otak kita bilamana semuanya nanti berganti mesin, tidak ada yang tahu.

Namun tentu saja, saya juga katakan bahwa ini adalah kutukan sebab mau tidak mau dan tidak dipungkiri lagi bahwa mesin-mesin yang kita puja telah melepas kita dari kehidupan itu sendiri, dan perlahan-lahan, kita bahkan telah menjelma mesin itu sendiri.

eksistensi manusia di tengah mesin
Dibuat menggunakan Gemini

Pada masa ini saya bahkan sudah kesusahan dan kebingungan untuk mempertanyakan diri saya sebagai manusia atau sebagai mesin, kalimat kerja, kerja, kerja yang pernah dicetuskan pak Jokowi nampaknya realistis saja, namun dilain sisi merenggut jiwa saya. Kalimat ini menggerogoti dan entah kapan akan membuat saya mati.

Saya menyadari bahwa perasaan dan pertanyaan itu muncul sebab sebagai manusia, saya hanya sedang kehilangan arah. Dunia bergerak terlalu cepat, segalanya melesat seperti peluru dan saya seumpama kura-kura yang tergopoh-gopoh mengejarnya.

Saya percaya bahwa saya tidak sendiri, barangkali milyaran orang diluar sana juga mengalami hal yang serupa seperti saya. Sebagaimana Gregor Samsa yang merasa dirinya sebagai kecoak, atau sebagaimana Santiago yang babak belur oleh lautan, saya percaya bahwa meski merasa tidak berguna, setiap diri kita pasti sedang berjuang di hidup yang tak pasti ini.

Mungkin, kamu salah satunya.


Manusia Sebelum Kita

Jikalau saya boleh bertanya, apakah manusia sebelum saya, terlepas berabad-abad lalu juga mengalami hal serupa? Apakah orang-orang yang berada di tengah perang, sembari bersembunyi dari bredelan peluru senapan mesin, pernah mempertanyakan makna hidupnya? Lalu, apakah para nabi yang dibimbing oleh Tuhannya juga mengalami frustasi di tengah-tengah kehidupannya?

Maksud saya, apakah mereka juga tidak jauh berbeda seperti kita masa kini, yang dalam hidupnya terkapar dan terbentur antara realitas dan idealisme? 

Asumsi saya …iya.

Jika menelusuri sejarah dari zaman manusia purba, zaman nabi, zaman perang, semuanya tidak bisa lepas dari makna. Upaya manusia menciptakan gambar-gambar pada dinding gua, membuat patung dan totem untuk mereka sembah, adalah bukti bahwa manusia di masa lampau juga berupaya keras seperti kita, mencari makna dalam hidupnya.

Manusia-manusia dalam perperangan juga serupa, mereka pasti pernah percaya bahwa apa yang mereka lakukan bermakna, baik untuk dirinya sendiri, atau untuk orang lainnya. Pasti ditengah-tengah peluru yang melesat merobek udara mereka pernah berharap bisa pulang untuk bertemu keluarga, atau mengungkapkan cinta pada seseorang yang pernah mereka titipkan janji.

Sementara bagaimana dengan nabi? mereka dalam bimbingan Tuhan, bukan? Mereka tentu mustahil frustasi sebab dibimbing sang kekasih, dibimbing oleh Yang Maha Pengasih. 

Sayangnya, mereka juga merasakan hal yang sama seperti kita.

Dalam kisahnya, Nabi Yunus a.s pernah lari dari kaumnya (kemudian ditelan ikan raksasa), nabi Musa a.s pernah jengah dengan bangsa Israil yang tiba-tiba saja menyembah patung emas yang dibuat oleh kaumnya (dapat dimengerti, bangsa Yahudi memang sekampret itu)[2], bahkan dalam salah satu cerita, nabi Muhammad Saw. pernah ingin melompat dari bukit karena ketidakmampuannya mengemban tanggung jawab yang diberikan Tuhannya.[3]

Tetapi, mengapa? Mereka dibimbing langsung oleh Tuhan. Bagaimana mungkin para manusia pilihan yang paling dekat dengan Tuhan sekalipun kalah oleh hal yang diluar diri mereka?

Sederhana, 

karena. 

Mereka. 

manusia.

Sebagaimana kita.

 

Mengapa kita Stress?

Hal yang membuat kita dan para nabi itu stress, tentu saja—salah satu diantaranya—adalah panggilan idealisme. Kita mau hidup yang ideal, namun realitas menjejali kita untuk memakan batu kenyataan. Kita mau memuntahkan kenyataan-kenyataan itu, sayangnya, kita tak mampu.

Dibandingkan kita yang memunculkan rasa stress karena dorongan idealisme kita, para nabi lebih berat lagi sebab panggilan idealisme itu tidak berasal dari dirinya sendiri, namun berasal dari Tuhan.

Para nabi dituntut untuk membuat masyarakat yang ideal. Hematnya, mereka dituntut—atau dituntun—untuk menjadi seorang yang idealis dan menuntun masyarakat yang bobrok itu menuju idealisme yang diinginkan Tuhan-Nya.

Dibandingkan kita yang bisa saja lari dari tanggungjawab tersebut, para nabi tidak diperkenankan lari. Namun meski telah dibeking Tuhan, nampaknya para nabi juga adalah manusia yang pada akhirnya menemui titik buntu, dan meski kewajiban telah dituntaskan, namun sebagian nabi bisa saja disebut gagal jikalau kita menilainya sendiri.[4]

Stress terjadi karena kita berpikir, dan berpikir adalah konsekuensi dari mereka yang sadar. Kita menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dunia ini, dengan negara dan hukum-hukumnnya, dengan masyarakat kita dengan tradisi-tradisinya.

Kita pun mau melakukan perubahan. Sialnya, kita tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan perubahan itu.

Kita mau diam dan abai, namun ia berputar-putar dalam pikiran kita.

Ia menari.

Ia mengejek.

Ia meminta kita untuk memenuhinya.

Sial! Bagaimana caranya?

….

.

Bersambung.



[1] Candaan ini sebenarnya berasal dari tayangan televisi pada era 2000-an, saya pribadi tidak mengingat filmnya, kalau tidak salah judulnya adalah Dunia Lain.

[2] Menjadi perdebatan siapa yang membuat patung sapi itu, ada yang mengatakan bahwa yang membuatnya adalah Samiri, sumber lain mengatakan bahwa yang membuatnya adalah Harun

[3] Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman Mubarakfuri, adegan ini tercatat pada masa-masa nabi Muhammad Saw. mendapatkan tanggung jawab untuk meluruskan umatnya

[4] Nabi Nuh misalnya, meski hidup selama 950 tahun, ia hanya bisa membuat 80 orang percaya kepadanya. Menjadi pertanyaan siapa yang salah, apakah metode berdakwah Nabi Nuh salah? atau hambanya kelewat bebal?


Posting Komentar untuk "Menjadi Kecoak di Tengah Peradaban Mesin"