Buku Yang Bagus: Bagaimana Sebenarnya Memutuskan Buku Yang Bagus Untuk Dibaca?
Buku Yang Bagus: Bagaimana Sebenarnya Memutuskan Buku Yang Bagus Untuk Dibaca?
Ketika saya sedang melakukan
bedah buku secara daring bersama adik kelas, ada sebuah pertanyaan yang masih
membayangi hingga saat artikel ini ditulis. Pertanyaan itu sederhana; Sahabat
mengatakan bahwa ini buku bagus dan ini buku bagus, apa sebenarnya buku yang
bagus itu?
Audiens kemudian memberikan
contoh tentang buku Atomic Habits yang ditulis oleh seorang sarjana saja namun
bukunya telah menjadi best seller dan mengilhami banyak orang.
Di lain sisi, banyak sebenarnya
buku-buku yang ditulis oleh akademisi dengan gelar yang berjejeran namun
nyatanya bukunya biasa-biasa saja, tidak memiliki kebaharuan dan hanya
menempel-nempelkan pendapat orang lain. Hal biasa yang bisa dilakukan bahkan
oleh anak SMA!
Pertanyaan tersebut sebenarnya
mengingatkan saya kepada pendapat Hoeda Manis yang juga merupakan seorang
penulis dan seorang blogger. Hoeda pernah menjelaskan panjang lebar tentang
betapa bagusnya sebuah buku sehingga pada akhirnya memberikannya kepada
temannya, dan apa yang dikatakan temannya? Buku itu biasa-biasa saja.
Nampak pada akhirnya buku
seumpama makanan, ia tergantung selera orang-orang tertentu. Beberapa orang
menyukai buku sejarah, beberapa lagi menyukai buku tentang konspirasi, beberapa
lagi yang lainnya menyukai buku tentang agama, dan banyak genre buku yang jelas
membuat kita memiliki pereferensi sendiri-sendiri.
Pertanyaan yang saya haturkan
kepada diri saya sendiri adalah. Siapa yang sebenarnya memiliki hak untuk
menentukan suatu buku itu baik dan tidak? Apakah orang awam seperti kita memiiliki
hak terhadapnya? Atau hanya golongan-gologan tertentu saja yang memang memiliki
hak tersebut?
Kita bisa katakan bahwa Buku
the Miracle of Water adalah buku yang bagus mesti isinya adalah kebohongan,
atau buku tentang Candi Borobudur yang adalah buatan nabi Sulaiman, atau
mengatakan bahwa Hilter mati di Garut.
Buku-buku tersebut bisa saja
bagus secara penyampaian, namun dalam persoalan isi, apakah bagus juga? Apakah
layak kita membaca, misalnya, sebuah buku yang memiliki penyampaian yang bagus
namun sebenarnya menyampaikan kebohongan?
Saya mempertanyakan itu kepada diri
saya pribadi, dan meskipun telah banyak buku-buku yang diterbitkan, hanya
sedikit yang pada akhirnya mendapatkan spotlight. Hanya beberapa buku
yang pada akhirnya memenangkan Pulitzer maupun Nobel, hanya beberapa buku yang
pada akhirnya memenangkan Khatulistiwa Literary Award dan DKJ, hanya beberapa buku yang bisa memenangkan hati pembaca. Namun ini belum
menyelesaikan sebuah pertanyaan; bagaimana sebenarnya memutuskan buku yang
bagus untuk dibaca?
Dalam hal ini setidaknya saya
memberikan beberapa hal yang bisa saja menjadi sebuah perbincangan untuk
memilih buku yang bagus itu.
Pertama, tujuan.
Mortimer J. Adler menjelaskan
bahwasanya buku yang bagus setidaknya membuat kita semakin dewasa, dan pada
titik tertentu membuat kita menjadi orang yang bijak. Namun hal ini layak kita
diskusikan sebab tidak semua orang menginginkan hal tersebut. Beberapa membaca
karena memang ingin membaca, beberapa membaca untuk kesenangan, dan beberapa
lagi membaca untuk mendapatkan informasi.
Lalu apa makna kita membaca?
Sebagaimana judi dan sabung ayam, bolehkah kita menyebut membaca sebagai perkara
yang sia-sia? Namun membaca tanpa tujuanpun pada akhirnya bisa mendapati ilham,
sebab beberapa orang menemukan sesuatu karena mereka tidak mencarinya. Beberapa
lagi sebaliknya, mereka menemukan sesuatu karena mereka mencarinya.
Saya meletakkan tujuan menjadi
dasar pertama sebab ia terlalu subjektif. Tujuan membaca satu individu bisa
berbeda dengan individu yang lain, meski demikian, membaca akan tetap menjadi
kegiatan sadar untuk memahami apa yang disampaikan penulis.
Tujuan memahami penulis atau apa
yang diceritakan ini setidaknya akan menciptakan pertukaran nilai antara buku
yang dibaca dengan pembaca, yang mana pada akhirnya akan membuat pembaca
berpengetahuan, banyak paham, dan pada akhirnya, menjadi bijak.
Kedua, penyampaian.
Buku yang bagus setidaknya bisa
menyampaikan sesuatu secara universal, atau setidaknya, ia bisa dimengerti oleh
semua kalangan. (Sialnya, beberapa buku tidak bersifat demikian.)
Beberapa bahasa yang digunakan
dalam buku seringkali terikat oleh domain-domain tertentu, misalnya, buku
kedokteran jelas akan sangat mudah dimengerti oleh orang-orang kedokteran,
namun untuk orang awam? Itu bisa jadi hal yang memberatkan.
Namun apakah itu bagus? Jelas bagus!
Meski tidak bersifat universal dan hanya golongan tertentu yang bisa
memahaminya buku tersebut tetap bagus, ia bagus dalam segi isi, ia bagus
sehingga cocok dijadikan referensi.
Buku filsafat disisi lain seringkali
bersifat universal, namun tentu istilah-istilah dan premis-premis yang dibangun
acapkali membuat pusing, dan setidaknya, membaca buku-buku demikian membuat pembaca
membentuk diri mereka yang baru sehingga mereka berupaya untuk memahami, dan karena
itulah mereka berkembang.
Penyampaian dalam dunia kebukuan
seringkali terbagi menjadi dua hal, yaitu naratif dan akademis. Penyampaian
yang bersifat akademis seringkali ditemukan pada buku-buku yang cenderung
akademik, logis, dan bersifat informasional. Sementara penyampaian naratif
seringkali ada pada buku-buku cerita. Meskipun demikian, beberapa buku informasional
masih bersifat naratif, misalnya, karya-karya Eric Weiner dan Carl
Sagan.
Ketiga, isi.
Sebuah buku bisa
saja memiliki kemampuan menyampaikan sesuatu dengan sangat baik dan
menggelegar, namun nyatanya banyak buku demikian dan hanya menyampaikan isi
yang kosong. Buku Sejarah Dunia Yang Disembunyikan memang kontroversial,
namun secara akademis buku ini tidak memiliki pengaruh sebab ia memiliki
kredibilitas yang rendah.
Pada sisi isi, buku yang bagus setidaknya
memiliki nilai yang bisa memberikan pemahaman kepada pembaca, yang mana
pemahaman ini bisa membuat pembaca berpikir tentang benar dan tidaknya. Salah
satu buku yang saya ajukan adalah Blink karya Malcolm Gladwell dan beberapa
buku Malcolm Gladwell lainnya.
Saya mengajukan Gladwell karena
ia objektif. Blink menjelaskan bagaimana orang bisa berpikir tanpa berpikir
dengan mengandalkan pada intuisi. Buku ini bagus karena sifatnya yang objektif.
Sementara itu sebagian buku seringkali bersifat mata kuda atau hanya melihat
satu arah, yang mana penulisnya berupaya untuk memberikan pembenaran terhadap
teori yang dibangunnya.
Dalam Blink Gladwell memberikan
pemahaman intuisi yang berhasil dan gagal, artinya buku yang dibangunnya tidak
100% benar, atau dalam artian lainnya ia tidak mengklaim bahwa temuannya itu
benar-benar berhasil.
Hematnya, buku yang bagus alih-alih
membawa kita pada pembenaran, ia membawa kita lebih dekat kepada kebenaran. Buku
yang bagus tidak menutup mata terhadap kebenaran yang lain.
Gladwell setidaknya kemudian
memberikan ruang untuk sebuah diskursus tertentu. Memang bukunya kemudian
dikutip, namun dilain sisi bukunya kemudian banyak ditentang. Hebatnya, penentangannya
terhadap bukunya menciptakan buku yang baru dan pembaca dipersilakan memilih
percaya yang mana.
Keberadaan dari buku tersebut
jelas memunculkan kepercayaan dan penolakan. Kepercayaan pada akhirnya menjadi
pembahasan, dan penolakan juga pada akhirnya menciptakan pembahasan. Sederhananya,
Buku yang bagus, ia menciptakan
gema.
Keempat, Dampak.
Buku yang bagus
jelas adalah buku yang berdampak, namun ini pun pada akhirnya subjektif sebab
bagi pembaca dampaknya bisa efektif dan tidak. Namun demikian, beberapa buku
memang sangat dahsyat sehingga pada akhirnya bisa merubah kondisi maupun
struktur sebuah bangsa. Beberapa buku bisa menampar kita dan membawa kita pada
kenyataan yang sesungguhnya.
Bumi Manusia karya Pramoedya Toer
dan Max Havelaar karya Multatulis jelas adalah salah satunya. Buku ini
menempeleng masyarakat Indonesia yang terlalu menyalahkan kolonial Belanda pada
masanya, dan merasa bahwa penjajahan Belanda tidak dapat diampuni karena mereka
benar-benar menikam masyarakat kala itu.
Meski demikian, kedua buku ini
(Bumi Manusia dan Max Havelaar) membawa kita pada kenyataan baru yaitu bahwa
penjajah itu sebenarnya adalah diri kita sendiri, ia berasal dari bangsa kita,
penjajah yang sebenarnya adalah pemerintah kita. Dan dari kenyataan itu dapatkah
kita membenci bangsa kita sebagaimana kita membenci Belanda? Ataupun, kita akan
memaafkannya?
Buku tersebut setidaknya merubah
banyak hal di Indonesia, misalnya kepercayaan awal yang menjelaskan bahwa Indonesia
dijajah selama 350 tahun berubah menjadi 30-50 tahun.
Sementara dalam skala
internasional, Buku How to Kill A Mockingbird karya Harper Lee yang diterbitkan
di Amerika setidaknya menjadi awal mula bagaimana kasus ketidaksetaraan menjadi
hal yang dilawan, atau buku-buku Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd setidaknya menjadi awal
mula kebangkitan Eropa pada abad 14-16.
Kelima, Gema.
Kita tidak tahu
seberapa banyak buku yang diterbitkan setiap hari, namun pada akhirnya hanya
ada sedikit buku yang pada akhirnya menciptakan gema. Pada akhirnya, hanya akan
ada sedikit buku yang menjadi perbincangan kita di meja makan atau di
tongkrongan, maupun di ranah akademisi.
Buku yang bergema seringkali dikutip,
dibahas, diulas, diresensi. Saya mengambil contoh Alam Terkembang karya Sutan Takdir
Alisyahbana. Sutan Takdir Alisyahbana adalah sastrawan tanah air, meskipun
demikian karyanya tersebut tidak menciptakan gema, ia hanya dibahas pada
awal-awal kemunculan saja namun seiring zaman bergerak karyanya tersebut hilang
bahasan.
Mengapa demikian? Budi Darma
menjelaskan bahwasanya hal tersebut karena novel Alam Terkembang bersifat
menggurui dan menjelaskan secara jelas inti dan moral bukunya apa. Sementara
itu, buku yang bagus seringkali bersifat aforistik.
Keberadaan gema dalam sebuah buku
seringkali ditandai dengan seberapa banyak buku tersebut dijadikan rujukan dan
seberapa banyak buku tersebut dibahas di tongkrongan. Buku Das Kapital karya Karl
Marx masih dibahas dan dijadikan referensi walau pengarangnya telah mati. Buku
kontemporer seperti Laut Bercerita juga masih dibahas kalangan remaja karena
menceritakan sisi kelam negara Indonesia.
Seringkali, buku Filsafat,
Sastra, maupun buku Ilmiah adalah buku yang paling banyak dirujuk baik melalui
ucapan maupun tulisan. Dan saya tidak tahu ini akan adil atau tidak, namun
kitab suci pada akhirnya menjadi buku yang paling banyak gemanya sebab ia masih
ditafsirkan hingga sekarang.
Hanya saja, adilkah kita memasukkan
sebuah kitab yang tidak ditulis manusia, melainkan Tuhan dalam sebuah kategeori?
Saya tidak bisa menjawabnya.
Kelima hal diatas setidaknya bisa
menjadi salah sekian struktur yang bisa menjadi penentu apakah sebuah buku bisa
dikatakan baik atau tidak. Membaca buku kendati adalah kegiatan subjektif yang
mana pengetahuan bisa datang dari buku itu, dari luar buku itu, atau dari Tuhan
sekalipun, akan selalu menjadi upaya manusia untuk memahami dan merasakan
sesuatu, hingga pada akhirnya kita mungkin bersepakat bahwasanya buku yang baik
adalah buku yang menjadikan kita manusia.
Namun, apakah manusia itu?

Posting Komentar untuk "Buku Yang Bagus: Bagaimana Sebenarnya Memutuskan Buku Yang Bagus Untuk Dibaca?"