Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perang Dalam Diri Manusia karya Erich Fromm, Sebuah Review Buku

Perang Dalam Diri Manusia, Sebuah Review Buku

Saya baru saja menyelesaikan sebuah buku berjudul Perang Dalam Diri Manusia, sebuah buku karya Erich Fromm yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Judul aslinya? War Within Man: A Psychological Enquiry Into The Roots of Destructiveness. A Study and Commentary in the Beyond Deterrence Series. Gila, panjang betul.

Dalam buku ini Erich Fromm mencoba melakukan analisa terhadap akar dari suatu kerusakan yang ditimbulkan manusia. Dari hasil tersebut, Fromm mengemukakan bahwasanya kerusakan yang terjadi akibat manusia seringkali difaktori oleh satu hal, yaitu nekrofilia.

Perang Dalam Diri Manusia


Nekrofilia

Istilah nekfrofilia akan sering muncul dalam buku ini, namun apa sebenarnya nekrofilia itu? nekrofilia adalah cinta terhadap kematian. Bagi Fromm, tidak semua manusia, namun beberapa manusia menyukai kematian, mereka jatuh cinta pada kematian. Karena kecintaannya tersebut mereka berupaya melakukan penghancuran atas hal-hal yang hidup.

Salah satu nekrofilis yang dicanangkan oleh Fromm adalah Hitler dan Eichmann. Hitler? Benar, si bapak berkumis kotak itu. Fromm mengambil Hitler sebagai perumpamaan karena memang Hitler dalam sejarahnya melakukan pembunuhan masal, khususnya pada bangsa Yahudi.

Bahkan dalam buku ini, meski Fromm mengambil dari suatu hikayah yang tidak terlalu kuat buktinya, namun Hitler dalam cerita itu pernah berdiri dihadapan mayat yang sedang membusuk dan tidak beranjak pergi dari mayat tersebut.

Sementara Eichmann? Mungkin sobat tidak mengenal orang ini. Namun dalam sejarahnya, bukan Hitler, namun Eichmann lah yang melakukan pembantaian lebih banyak. Hematnya, Eichmann adalah anjingnya Hitler.

Dalam buku ini Eichmann tidak dijelaskan lebih komplit, namun melihatnya muncul dan berdampingan dengan Hitler dapat dimengerti mengapa Fromm menggunakan mereka sebagai perumpamaan.

Fromm dalam buku ini menganalisa sekaligus memperkirakan akan adanya perang nuklir, sebuah perang yang jelas akan menunjukkan bahwa manusia adalah seorang nekrofilis.

Namun apakah hanya Nekrofilis? Jawabannya tidak. Fromm memberikan istilah lainnya; Biofilia.

Biofilia

Biofilia adalah cinta terhadap kehidupan. Berbanding terbalik dengan nekrofilia yang mencintai kematian, biofilia ditunjukkan dengan bagaimana manusia berupaya untuk hidup dan bertahan hidup.

Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana manusia maupun hewan-hewan berupaya mencoba lepas dari ancaman yang ada, anggaplah predator, dan hewan tentunya tidak pasrah, mereka melawan, hal yang merupakan bukti bahwasanya makhluk juga adalah seorang biofilis, makhluk yang mencintai kehidupan.

Selain itu, sebagai makhluk hidup kita memiliki ikatan keterhubungan dengan yang lain. Kita memiliki kesadaran untuk tidak merusak, kita sadar bahwa alam adalah bagian dari kita. Keterhubungan antar manusia, flora, fauna, serta bagaimana kita merasa tenang dan nyaman ketika berada dan bersentuhan dengan alam adalah bukti lain bahwa kita adalah seorang biofilis.

Nekrofilia VS Biofilia

Pertanyaan yang diajukan Fromm kepada kita adalah; apakah manusia pada dasarnya serigala atau domba? Istilah domba dan serigala ini jelas mengacu kepada nekrofilis yang merupakan perwujudan kematian dan kehancuran—Fromm mengutip istilah homo homini lupus milik Thomas Hobbes yang berarti manusia adalah serigala untuk manusia lainnya—sementara domba yang merupakan perwujudan biofilia (nampak mengutip dari Alkitab karena dalam Alkitab para hamba disebut sebagai domba) yang merupakan makhluk penuh kasih.

Fromm mengemukakan bahwasanya ketika hidup manusia akan terombang ambing pada dua sisi ini, yang akan saling mendominasi satu dengan lainnya. Manusia memiliki kecendrungan menjadi seorang nekrofilis maupun biofilis dalam titik-titik tertentu, tergantung reaksi mereka terhadap apa yang terjadi kepada diri mereka.

Karenanya, Fromm mengemukakan bahwasanya sangat jarang manusia menjadi seorang nekrofilis sejati, sebab menjadi seorang nekrofilis sejati adalah gila. Sama halnya dengan mustahil menjadi soerang biofilis sejati, karena biofilis sejati artinya menjadi malaikat.

Perang nuklir sebagaimana yang dianalisa Fromm menjelaskan bahwasanya terjadi akibat adanya penyimpangan moral dari yang semestinya biofilis menjadi nekrofilis. Dalam rebuttalnya yang ada di akhir buku, Fromm mengemukakan bahwa pemimpin pada abad 21 seringkali bertindak destruktif bukan karena mereka nekrofilis, melainkan karena terlalu banyak yang mereka pertaruhkan.

Hematnya, selama manusia hidup maka perjudian antara manusia menjadi seorang nekrofilis maupun menjadi seorang biofilis akan terus terjadi hingga akhir hidup manusia.

Bagian akhir dari buku ini ditutup oleh pendapat beberapa tokoh yang melakukan rebuttal dan ketidaksepakatan terhadap apa yang dikemukakan Erich Fromm, namun Erich Fromm kemudian kembali menukas dengan catatan di akhir bukunya.

Tamat, yeay.

Identitas Buku

Judul Buku : Perang Dalam Diri Manusia

Penulis : Erich Fromm

Penerjemah : Aquarina Kharisma Sari

Editor: A. Yusrianto Elga

Tahun Terbit : 2020

Penerbit : IRCiSoD

ISBN : 978-623-7378-49-5

 

Posting Komentar untuk "Perang Dalam Diri Manusia karya Erich Fromm, Sebuah Review Buku"