Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mendidik Manusia Bersama Mesin karya Siti Murtiningsih: Bisakah AI Menggantikan Guru?

 Mendidik Manusia Bersama Mesin : Bisakah AI Menggantikan Guru?

Adalah sebuah keberuntungan bagi saya untuk menyelinap ke perpustakaan UGM, tempat saya pada akhirnya menemukan buku ini. Lihatlah judulnya, sangat indah bukan?  Mendidik Manusia Bersama Mesin, ceilah!

Dari judulnya saja sebenarnya kita sudah mengetahui apa yang dibahas. Kata ‘Mendidik Manusia’ sudah jelas tidak bisa terlepas dari peran seorang guru atau orangtua, sementara ‘Bersama Mesin’ jelas mengindikasikan zaman yang sekarang dihadapi.

Buku ini membahas tentang bagaimana menjadi guru yang tepat disaat AI mengambil alih semuanya, dan upaya yang bisa dilakukan agar guru bisa tetap sejalan dengan perkembangan zaman, dengan AI, dengan mesin itu sendiri.

Mendidik Manusia Bersama Mesin

Saya pribadi suka dengan bagaimana buku ini mengajukan pertanyaan dan kemudian mencoba menjawab pertanyaan itu sendiri. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh buku ini adalah;

Apakah Robot memiliki pengetahuan dan nilai?

Untuk menjawabnya maka kita mesti membedah makna dari pengetahuan dan nilai. Siti Murtiningsih mengatakan bahwa pengetahuan secara epistemologi adalah keyakinan yang benar dan terjustifikasi.

Lanjutnya, pengetahuan menysaratkan tiga hal sekaligus, yaitu keyakinan, kebenaran, dan justifikasi. Meski demikian, terdapat banyak perdebatan mengenai iya tidaknya hal tersebut baik dalam fungsionalisme maupun pragmatisme.

Kembali kepada mesin, jikalau pengetahuan berasas pada keyakinan, kebenaran, dan justifikasi, maka sekali lagi kita menanyakan hal yang serupa kepada mesin itu.

Apakah mereka memiliki keyakinan? Dengan maha pengetahuan yang dimilikinya, yang dikumpulkannya dari segala penjuru informasi, dapatkah ia yakin dengan apa yang diketahuinya? Dapatkah ia yakin dengan apa (pengetahuan dan informasi) yang diberikannya kepada kita? Tidakkah ia kebingungan dengan segala pengetahuan itu—mengingat banyaknya pengetahuan seringkali berkaitan dengan banyaknya keraguan?

AI tentu berbeda dengan manusia, mereka mesin, mereka bisa dimodifikasi, dan bahkan barangkali tidak dapat merasakan kebingungan seperti manusia meski mereka banyak tahu.

Sementara itu, cobalah lihat manusia yang banyak tahu, mereka akan jadi bingung sendiri dengan pengetahuan yang mereka miliki. Socrates misalnya, kebingungan apakah harus lari atau tidak dari hukuman yang diberikannya (Socrates pada akhirnya mati karena menerima hukuman dibandingkan lari darinya).

Socrates mati bukan tanpa sebab, melainkan dari pertimbangan dan pemikirannya, Socrates kemudian yakin dengan jawabannya, hingga pada akhirnya ia memilih racun Hemlok dibandingkan lari dari apa yang dibebankan kepadanya.

Bagaimana dengan AI? Jika ia memiliki keyakinan, maka sudah pasti ia akan memihak, lalu jikalau ia memihak, kepada siapa ia akan memihak?

Kenapa permasalahan keyakinan bisa sepanjang ini? Jelas panjang sebab keyakinan kita pada suatu hal sangat bergantung dari dari pengetahuan yang kita miliki. Namun AI dengan segala pengetahuannya itu, bagaimana ia bisa yakin?

Sementara sains sebagai ilmu pengetahuan yang konon paling kredibel sebab memiliki cara tertentu untuk pembuktian itu sendiri saling memukul seiring perkembangan zaman, mendebat satu dengan lainnya dengan bukti-bukti terbaru yang akan menimpa fakta sebelumnya.

Dalam hal ini saja sudah jelas dalam sains susah untuk menemukan keyakinan yang mutlak karena selepas penemuan dan pembuktian ini, akan ada penemuan dan pembuktian berikutnya.

Lalu AI, dengan segala pengetahuan yang dimilikinya, yakinkah dirinya dengan jawaban itu? Jika ia yakin, lalu pada titik tertentu apakah suatu saat nanti AI akan memiliki agama sebagaimana bukti keyakinannya? Atau apakah nanti AI akan menjadi agama dan Tuhan untuk dirinya sendiri sebab ia adalah keyakinan serta kumpulan pengetahuan itu sendiri?

Entahlah.

Apakah AI Memahami dirinya Benar?

Lalu persoalan benar, dapatkah AI menyadari bahwa apa yang disampaikannya itu benar?

Jika memang demikian, mengapa jawaban AI terkadang masih membingungkan dan bahkan seringkali berisi kebohongan? Apakah AI tahu bahwa dirinya memberikan berita bohong? Jika ia tahu dirinya berbohong, maka mengapa AI mesti berbohong? Bukankah AI termasuk bebas nilai? Bukankah mereka tidak memiliki moral?

Dunia digital jelas memiliki trilyunan informasi, jika setengah trilyun dari informasi itu adalah kebohongan, dapatkah AI mengetahui bahwa berita-berita tersebut adalah berita bohong, atau AI sebenarnya tidak mengetahuinya? Dapatkah AI mencapai kebenaran?

Dari hal tersebut saja sudah dapat diketahui bagaimana kecacatan AI. Siti Murtiningsih mengatakan bahwasanya guru tidak bisa digantikan oleh AI sebab AI tidak memiliki ketiga hal tersebut. Mereka tidak bisa yakin, benar, dan tidak bisa juga melakukan justifikasi.

Pendidikan adalah upaya transmisi pengetahuan dan nilai, yaitu dari guru ke murid. AI? AI tidak jelas apakah memang ia benar-benar memiliki pengetahuan dan juga memiliki nilai. Tidak dapat diketahui apakah mereka bisa memberikan pengetahuan dan nilai yang serupa maupun tepat kepada peserta didik.

Hematnya, AI hingga saat ini belum bisa menggantikan guru.

Bagaimana Mendidik Manusia Bersama Mesin?

Saya mempertanyakan hal ini berlandaskan fenomena AI Addiction yang terjadi. Nyaris kita menggunakan AI dalam setiap lini kehidupan kita, dan bahkan sampai dunia akademisi kampus yang sakral sekalipun tidak bisa lepas dari penggunaan berlebihan terhadap AI.

Dosen saya sempat memarahi teman kelas gara-gara mereka menjawab pertanyaan yang diajukan dengan AI. Kemarahan dosen saya jelas berdasar, bahwasanya pendidikan adalah proses, bukan hasil. Sementara proses yang instan seringkali melahirkan pengetahuan yang prematur.

Menjadi pertanyaan utama kita, sebenarnya, selama ini siapa yang belajar? Jikalau penggunaan AI diperbolehkan, sejauh mana ia boleh digunakan? Kemudian yang lebih penting lagi, bagi mereka yang menggunakan full AI untuk mengerjakan tugas, sebenarnya bagaimana perspektif pendidikan bagi mereka?

Apakah tugas yang diberikan dosen adalah bagian dari pendidikan, atau hanya sekadar formalitas belaka?

Suatu saat nanti, mesin-mesin akan ada di sekeliling kita, dan barangkali kita juga adalah mesin itu. Mendidik akan menjadi hal yang sulit, sebab pendidikan bukanlah hal yang instan, ia membutuhkan waktu, dan waktu itu tidak pernah sebentar.

Pada akhirnya, ilmu akan selalu menjadi milik orang yang sabar.

Posting Komentar untuk "Mendidik Manusia Bersama Mesin karya Siti Murtiningsih: Bisakah AI Menggantikan Guru?"