Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bahas Buku Geng Remaja Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia karya Rob White dkk.

 Geng Remaja Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia

Membaca buku kekerasan remaja mengingatkan saya pada beberapa hal. Misalnya film dan game konsol The Warriors yang dulu sering saya mainkan saat kecil. Kedua, film Dilan yang pernah viral dengan cerita remajanya serta geng motornya, dan ketiga, permasalahan Klitih di Jogjakarta.

Berkembangnya kekerasan remaja memang sering dianggap sebagai patologi sosial, dianggap sebagai penyakit, dan sebagaimana penyakit, ia mesti disembuhkan.

Hanya saja, penyakit ini seolah tidak ada matinya. Kita bisa melihat bagaimana kekerasan remaja dekade belakangan telah berkali-kali masuk berita; pertarungan antar pelajar atau tawuran, balapan liar, penyerangan dan lainnya, semua itu tidak pernah ada habisnya.

Hal yang paling mencengangkan belakangan adalah peristiwa pada bulan Agustus 2025 kemarin, ketika terjadi pembakaran pada kantor pemerintahan.

Saya pernah mendengar kabar burung yang menyatakan bahwa terdapat dugaan adanya penggunaan komunitas atau geng untuk melaksanakan tindakan tersebut.

Konspirasi yang beredar, terdapat orang yang memang sengaja menggunakan remaja untuk 'membakar' gedung-gedung itu.

Buku ini mempertanyakan hal yang serupa. Apakah geng-geng yang beredar selama ini hanyalah jembatan maupun patronase politik? Apakah sebenarnya ada hubungan yang kuat antara politik, kekuasaan, dan kemiskinan dengan geng dalam suatu negara?

Hematnya; apakah geng sebenarnya adalah alat politik belaka?

 

Geng Remaja Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia karya Rob White dkk.
Dibuat menggunakan Gemini AI

Apa Sebenarnya ‘Geng’ Itu? Definisi Geng Remaja

Buku ini mempertanyakan hal yang serupa. Geng remaja meski nampak sederhana namun masih sulit untuk didefinisikan.

Namun secara umum geng bisa dipandang sebagai komunitas atau perkumpulan sesama anggota yang terbentuk sendiri berdasarkan kesamaan karakteristik mereka terlepas itu kesamaan identitas, wilayah, maupun nasib.

Geng remaja, dalam hal ini seringkali pula memiliki wilayah geografis tertentu yang dipimpin oleh seseorang yang tentunya memiliki kekuasaan.

Selain itu, sudah jelas bahwasanya mereka memiliki keterlibatan kolektif dalam melakukan aksi mereka.

Geng remaja susah untuk didefinisikan sebab pada dasarnya kita akan kesulitan kapan menamai suatu hal sebagai geng. Misalnya ketika orang rajin berkumpul, apakah itu hanya kawan main saja, atau sebenarnya adalah geng?

Susahnya mendefinisikan hal ini juga terjadi sebab geng pada dasarnya adalah subkultur sehingga bentukannya pada setiap tempat berbeda-beda, sehingga untuk menggeneralisasinya menjadi sulit.

Kendati demikian, menurut saya pribadi, kita bisa melihat definisi gang pada masa sekarang lebih cenderung mengarah ke ’komunitas’ atau ’organisasi’.

Geng seringkali akan terjadi terlepas mereka memiliki sistem perekrutan maupun ketua geng merekrut sendiri. Dalam epilog buku ini, Makruf menjelaskan bagaimana geng di Bandung seringkali memiliki proses yang identik dengan kekerasan seperti perkelahian.

Yup, tidak jauh berbeda dengan game The Warriors. 

 

Bagaimana Sebuah Geng Terbentuk?

Pada dasarnya geng akan terbentuk sendiri sebab manusia sejatinya adalah makhluk komunal dan akan mendekat dengan yang senasib dengan mereka. Hanya saja tentu dalam urusan geng, generalisasi itu belum cukup.

Dalam buku ini Geng yang menjerumus ke dalam kekerasan seringkali terbentuk sebab kurangnya peran orangtua dan marginalisasi yang dilakukan baik pemerintah atau masyarakat kepada mereka.

Ketiadaan akses, keuntungan dan status sosial seringkali melahirkan geng. Dan meskipun geng sebelumnya sudah ada, geng baru akan terbentuk bilamana 1 atau lebih anggota geng tersebut merasa nilai yang ada di dalam geng sebelumnya sudah tidak lagi ’ideal’.

Hal ini saya rasa sama seperti game konsol the Warriors yang mengisahkan Cleon pada akhirnya keluar dari geng sebelumnya, The Destroyer, karena dikhianati oleh ketua gengnya sendiri.

Setiap negara maupun wilayah memiliki permasalahan geng yang berbeda-beda, sekali lagi, karena subktultur. Dalam buku ini termaktub:

Anak-anak tunawisma di jalan-jalan Brazil yang terlibat dalam kejahatan untuk sekadar bertahan hidup adalah berbeda dengan geng jalanan di Chicago dan Los Angeles.

Meski berbeda, namun pada akhirnya, saya merasa bahwasanya pembentukan geng terjadi karena konsep Kita dan Mereka sebagaimana dikemukakan Agustinus Wibowo.

Kita membentuk tembok kita sendiri untuk membedakan diri kita dengan orang lain sehingga melupakan bahwa kita masih satu spesies, manusia


Baca Juga : Mengapa Pendidikan Moral Kita Gagal? Review Buku Dinamika Pendidikan Pasca Orde Baru


Respon Negara Terhadap Geng Jalanan

Saya tidak tahu persis bagaimana pemerintah atau lembaga polisi Indonesia merespon hal ini. Hanya saja, dalam buku Geng Remaja Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia ini, setidaknya negara memiliki upaya untuk meredamnya.

Upaya tersebut diantaranya adalah dua cara, kasar atau halus, represif atau preventif. Negara melalui polisi bisa saja melakukan tindakan ini, cara-cara represif seperti penangkapan masal, diskriminasi simbol, hingga perubahan UUD.

Namun perlu digarisbawahi bahwa cara-cara yang terlampau represif seringkali menimbulkan bahaya baru. Misalnya Three Strike Problem yang sempat dikemukakan Gladwell dalam buku Tipping Point malah melahirkan masalah jangka panjang.

Dalam buku You Are What You Think, Cooper juga menegaskan bahwa orang yang masuk penjara, seringkali masuk penjara untuk kedua kalinya dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah masuk penjara.

Masuk kedalam penjara bisa saja membuat stigma masyarakat terhadap mereka memburuk, yang mana meningkatkan solidaritas mereka. Bahkan penjara bisa menjadi sekolah kriminal yang baru bagi mereka, yang menguatkan identitas diri mereka.

Tetapi apa menggunakan cara preventif bisa lebih baik?  

Geng remaja pada dasarnya seringkali hadir karena ketiadaan ’rasa’ yang semestinya diisi orang lain seperti masyarakat, lembaga, dan tentunya, orangtua.

Memenuhi akses dan kesempatan mereka, membangun lembaga tempat mereka pulang dari hari yang buruk dirasa lebih tepat. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwasanya untuk menyelesaikan masalah, perlu memahami akar masalah.

Negara seringkali menggunakan rasa takut untuk menyelesaikan permasalahan, sayangnya, hal itu seringkali gagal.

Geng Remaja di Indonesia

Dalam epilog buku ini, Ade Makruf juga menjelaskan bagaimana subkultur geng remaja di Indonesia, khususnya daerah Bandung. Dalam sejarahnya, setidaknya dapat diketahui bahwa geng remaja di Indonesia memang sudah berakar lama.

Makruf menulis bahwa di daerah Bandung dulu telah ada kelompok remaja bernama crossboy pada tahun 1950-an, sebuah istilah yang merujuk pada cowboy dan diplesetkan.

Tiger Mambo adalah yang terkenal diantara crossboy. Mereka umumnya adalah Indo-Belanda keturunan Ambon yang sering berkumpul di jalan R.E Martadinata.

Kemudian pada masa berikutnya ada Boxty, sekelompok orang yang tak hanya berani namun memiliki kemampuan tinju karena mereka petinju amatir.

Hingga tahun 1970 semakin banyak geng yang muncul, seperti New Chicago di jalan Cikaso, Dollars di kawasan Cicadas, dan adapun yang legendaris seperti Buahbatu Boys Club yang dikenal dengan BBC.

Makruf menulis bahwa geng remaja pada masa itu tidak hanya memiliki kawasan tersendiri yang seringkali menyebabkan kekerasan bilamana ada geng dari kawasan lain yang datang, namun juga mereka tidak bisa terlepas dari beberapa kriminal seperti penggunaan mariyuana sebab terinspirasi dari Bob Marley.

Berbeda dengan Amerika yang identik dengan pencurian, konflik, dan pengasingan. Geng di Bandung identik dengan motor yang mana sebelum muncul geng motor, anak anak SMP yang menyukai otomotif lebih dulu membentuk geng seperti Tuji, GBR, Neo Nazi, dan STRG.

Awalnya mereka hanya melakukan trek-trekan dan melakukan tindakan yang tidak jauh berkaitan dengan motor, hanya saja, dari berbagai aktivitas seperti balapan mulai muncul keributan-keributan kecil dan berujung ke perkelahian massal.

Bila dibandingkan dengan masa itu, Makruf menyatakan bahwa geng motor sekarang sudah berubah drastis, sepak terjangnya semakin beringas, dan anehnya geng-geng itu malah menyebar hingga ke daerah Jawa Barat.

 

Akhirnya,

Ketika menulis artikel ini isu Klitih masih sering beredar. Kabar-kabar tentang mereka yang seringkali melakukan kekerasan terhadap masyarakat sekitar masih sering terdengar.

Geng Remaja mengingatkan saya terhadap beberapa buku yang berkaitan, misalnya Balada si Roy karya Gol A. Gong yang mengisahkan Roy dengan permasalahannya dengan geng remaja.

Kemudian Novel Dilan yang pernah viral pada masanya, dan novel Badboy yang juga mengisahkan hal yang sama.

Saya tidak tahu apakah membuat geng adalah sebuah trend atau gimana, namun yang jelas, ini adalah masalah kita bersama. Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas seringkali tidak memiliki pilihan, dan kita mesti cukup tangguh dan baik untuk memberikan pilihan yang lain itu.


Tulisan pendukung : Yogi Esa Sukma Nugraha, CROSS BOYS DI BANDUNG ERA 1950-an #2: Bukan Melulu Kriminal

Posting Komentar untuk "Bahas Buku Geng Remaja Fenomena dan Tragedi Geng Remaja Dunia karya Rob White dkk."