Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bahas Buku Anda Adalah Apa yang Anda Pikirkan karya Doug Hooper

 

Saya tidak mengingat kapan saya menamatkan buku ini, namun barangkali itu adalah pertengahan tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 seolah membuka cabang baru di Indonesia selepas Sukses besar di China.

Malam-malam dipenuhi suara ambulan yang berlalu lalang dan membuat jangkrik di samping rumah saya diam sesekali waktu sebab merasa tersaingi, dan masa-masa itu memang adalah masa yang kelam.

Entah berapa orang yang mati setiap hari dan seiring dengan hal itu juga aku merasa bahwa terdapat ketidakpercayaan masyarakat kita terhadap orang-orang kedokteran.

Orang yang berobat kerumah sakit—apapun penyakitnya—pasti akan dianggap Corona, kata temanku, yang mengisahkan bagaimana temannya yang memukul kaca dan dibawa ke rumah sakit malah didiagnosa Corona.

Kakakku pernah cerita bahwa ia tidak boleh batuk, sebab jikalau ia batuk, terlebih di lorong rumah sakit, orang-orang akan menatapnya.

Itu memang masa-masa yang kelam.

Bahas Buku Anda Adalah Apa yang Anda Pikirkan karya Doug Hooper


Suruh AI Gemini yang buat, sampulnya tetap sama

Well, sebenarnya tidak ada kaitan yang penting antara pembukaan di atas dengan isi dalam buku ini. Saya juga tidak berencana membuat kalian membaca artikel ini sampai akhir.

Namun sebab kalian telah sampai pada artikel ini, barangkali kita bisa memulainya dengan sebuah pertanyaan;

Siapa sebenarnya kita?

Apakah kita adalah apa yang kita pikirkan?

Atau, kita adalah yang orang lain pikirkan?

Bagaimana jika, keduanya?

Doug Hooper setidaknya membahas hal itu dalam bukunya. Ia memiliki argumentasi bahwasanya kita adalah apa yang kita pikirkan. Sederhananya, tidak peduli apa kata orang, yang berarti adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Doug Hooper dalam buku ini memperlihatkan bagaimana pikiran kita seringkali dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan tempat kita tinggal.

Ada sebuah pernyataan Hopper dalam buku ini yang membuat saya mengangkat alis.

Pernyataannya begini; orang yang pernah masuk penjara memiliki kecendrungan masuk penjara lagi dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah masuk penjara.

Awalnya saya ragu, keraguan saya berdasar sebab penjara adalah hukuman. Hukuman tentu sebagai upaya orang untuk tidak melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.

Namun Hooper memberikan argumentasinya dengan sebuah data tentang betapa banyak orang-orang yang masuk penjara memiliki potensi untuk masuk penjara untuk kedua kalinya dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah masuk penjara.

Mengapa? Alasannya, pikiran.

Mereka yang pernah masuk penjara dan kemudian keluar dari penjara memiliki persepsi yang berbeda dengan mereka yang tidak pernah masuk kedalamnya. Sebab pandangan penjara untuk orang lain adalah tempat orang-orang jahat, maka mereka yang pernah masuk penjara secara tidak langsung menganggap diri mereka ‘jahat’.

Sederhana, namun mispersepsi itu pada akhirnya membuat mereka melakukan kejahatan, hal tersebut ditambah dengan mantan napi itu yang menganggap bahwa orang lain melihat mereka sebagai orang yang tidak selayaknya ada di masyarakat.

Overthingking? Barangkali. Namun pada akhirnya, kesalahan pikiran itulah yang mengantarkan mereka ke penjara untuk kedua kalinya. Sebab mereka merasa bahwa diri mereka tidak layak berada di luar penjara.

Jadi, misalnya kamu sekarang sedang berpikir aneh-aneh tentang dirimu, percayalah, itu hanya sebuah pikiran. Mungkin hanya perasaan kamu saja.

Meme perasaan kamu aja
Yup, mungkin perasaan kamu aja

 Salah Satu Tulisan Paling Membekas Doug Hooper dalam buku ini

Dalam ingatan saya, setidaknya terdapat dua hikayah yang masih saya ingat dalam buku ini. Cerita yang pertama adalah ketika Hooper bertemu dengan seorang napi yang sebentar lagi keluar penjara, ia merasa tidak lagi diterima siapapun, dan tidak juga merasa layak untuk diterima sebab ia menyadari betul kesalahannya.

Untuk mempermudah, kita sebut saja orang ini pak Eko.

Dengan perasaan yang sedih, pak Eko kemudian menulis surat kepada istrinya—kurang lebih suratnya berbunyi begini:

”Aku akan keluar dari penjara minggu depan dan akan menggunakan bus melewati taman kota. Aku tidak merasa layak untuk pulang ke rumah lagi, terlebih selepas apa yang telah aku lakukan kepadamu. Jika kamu memaafkan aku, ikatlah pita kuning di pohon beringin di taman. Jika kamu tidak mengikatnya, ini akan menjadi perpisahan terakhir kita, dan aku tidak akan menampakkan diriku dihadapanmu lagi”

Minggu depannya pak Eko keluar penjara. Ia menggunakan bus ketika malam hari dan menoleh ke sisi jalan. Sebentar lagi ia akan melewati taman, dan akan melewati pohon beringin. Ia tidak berharap banyak, ia melakukan banyak kesalahan selama hidupnya dan sudah pasti tidak akan dimaafkan.

Seperti dugaannya, ia tidak melihat seikat pita kuning di pohon beringin.

Ia melihat ribuan pita kuning yang terikat.

Sebuah pesan bahwa ia sudah lebih dari dimaafkan.

 

Apa Yang Bisa Kita Ambil Dari Buku Ini?

Dalam pandangan psikologi, pendapat tentang persepsi setidaknya terbagi menjadi dua, yaitu kita membentuk persepsi diri kita sendiri—pandangan Alfred Adler, bisa dibaca pada buku Berani Untuk Tidak Disukai. Kedua, pandangan kita dibentuk oleh persepsi lingkungan kita—bisa lebih dalam mengetahuinya tentang Urie Bronfenbrenner, Bandura, atau penelitian Ibnu Sina tentang domba.

Lalu Doug Hooper ada pada sisi yang mana?

Well, saya rasa keduanya.

Sebagaimana cerita sebelumnya, si pak Eko bisa saja akan tetap merasa tidak layak sepanjang hidupnya jikalau istri pak Eko tidak melakukan tindakan luar biasa tersebut.

Namun potongan pita itu, meski sederhana, telah menghentikan siklus persepsi negatif pak Eko selamanya.

Saya rasa kita semua pernah menjadi pak Eko, dan barangkali orang di sekeliling kita adalah pak Eko itu sendiri. Mungkin kita pernah merasa tidak bisa menerima diri kita sendiri, dan menganggap bahwa kita adalah kesalahan.

Kita barangkali pernah dalam hidup, tidak menerima diri kita sendiri.

Hingga saat itu tiba, terlepas kita pada akhirnya menerima diri kita sendiri, atau akan ada orang lain yang menerima diri kita. Menerima semua kekurangan, menerima hal-hal yang kita benci. Sebab bagi yang mencintai kita; apa yang kita benci dalam diri kita tidaklah terlalu penting.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Saya merasa bahwa buku ini pada dasarnya biasa-biasa saja. Cukup bagus sebagai sebuah buku motivasi, namun cerita tentang ’ribuan pita kuning di taman’ sebenarnya sudah banyak, misalnya pernah termaktub juga dalam Buku Ini Bukan Untuk Dibaca.

Sebab ini buku motivasi dan cenderung ke pemikiran original, maka kita tidak bisa menaruh banyak harap, terlebih jika pembaca adalah pembaca yang logis dan menginginkan sekumpulan data-data yang termaktub valid. Buku ini tidak cocok untuk itu.

Untuk pembaca pemula, saya rasa buku ini cocok. Terlebih buku ini bisa menjadi buku cemilan karena bahasannya tidak berat dan disampaikan dengan baik. Namun sekali lagi, buku ini masih perlu dipertanyakan, terutama masalah kredibilitas datanya.

Saya takutnya buku ini merujuk pada buku Pseudo-Sains seperti buku The Miracle of Water. Namun karena saya tidak memiliki bukti yang tepat, saya akan lebih mengkategeorikannya ke dalam buku pemikiran original, misalnya seperti buku Adam 31 Meter karya Bambang Tri.

Identitas Buku:

Judul Buku      : Anda Adalah Apa Yang Anda Pikirkan

Penulis            : Doug Hooper

Edisi                : 3

Penerbit           : Mitra Utama

Alihbasa/Editor : A. Adiwiyoto

 

Penutup

Saat itu Hooper harus menggunakan mobilnya yang tua dan boros bensin melewati jalanan penuh badai menuju California. Hooper tahu ini adalah kebodohan, namun ia tidak memiliki pilihan.

Ketika berada di pertengahan jalan. Celaka. Mobilnya macet. Ia turun dari mobil dan melihat sekeliling, tidak ada satupun orang, dan ia kini terjebak di tengah badai, sendirian.

Tidak mau mati konyol, Hooper kemudian membuka kap mobilnya dan menyadari bahwa ia tidak tahu dimana letak permasalahannya. Ketika ia hampir pasrah dan menyerah, seseorang datang menembus badai dan tersenyum. Lelaki itu menyapa dan kemudian membantu Hooper.

Tidak berapa lama, mobilnya menyala kembali. Hooper berterimakasih dan ingin memberikannya beberapa dollar namun lelaki itu menolak. Lelaki itu berkata;

Sebagaimana mesin, manusia hanya membutuhkan kesempatan kedua untuk menyala kembali.

Lelaki itu meninggalkan Hopper dan masuk kedalam badai, hilang dalam pandangan, meninggalkan Hooper sendirian dengan kalimat yang tidak akan pernah ia lupakan selama hidupnya.

Posting Komentar untuk "Bahas Buku Anda Adalah Apa yang Anda Pikirkan karya Doug Hooper"