Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa: Kita Semua Adalah Florence yang Menjadi Vinter
Review Novel Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Kalau kamu mengingat lagu Orang
Baru Lebe Gacor karya Ecko Show dkk. dan liriknya yang mengatakan lupa nama
tapi ingat rasa… percayalah, aku juga merasakan hal yang sama dengan novel
ini.
Bukan tanpa sebab, aku membacanya ketika berumur belasan tahun. Aku tidak
ingat apakah membacanya ketika SMP atau SMA, yang aku tahu, aku hanya mengingat
perasaan ketika pernah membacanya.
Perasaan yang...sedikit gamang dan seolah mendapatkan pengetahuan baru.
Barangkali,
buku ini adalah buku yang menjelaskan lebih banyak tentang Eropa kala itu, atau
barangkali, saat itu aku masih bocah ingusan, dan buku ini adalah buku yang
sempat menyentuh perasaan. Who knows?
Aku tidak bisa menjawabnya. Seumpama jatuh cinta dan menemukan pelangi
sehabis gelapnya nestapa, seperti mengingat sesuatu yang telah kau lupakan
begitu lama, seperti lagu yang kau ingat senandungnya namun kau lupa
liriknya...
Mengingat buku ini seolah kembali kepada masa lalu dan sekelebat
rindu-rindu. Namun rindu itu bahkan sudah tidak lagi kau jelaskan sebab telah
terbuang terlalu lama pada waktu.
Ah, bukankah lucu? Kamu akan ingat pada sebuah buku jikalau buku itu tidak
jauh berbeda dengan kehidupan kamu.
Dan akulah Vinter itu.
Identitas Novel
Judul: Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit : GagasMedia, 2012
ISBN : 9797805891, 9789797805890
Mengapa Kita Perlu Membaca Novel Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa karya Prisca Primasari
Buku ini dibuka dengan adegan Florence yang lari dari perjodohan sepihak
yang dilakukan orangtuanya. Dalam perjalanannya melarikan diri ke Honfleur,
tanpa sengaja ia bertemu dengan Vinter di kereta api. Seorang lelaki yang lupa
cara tertawa.
Vinter adalah seorang seniman pemahat es yang kala itu membawa tas mahal. Melihat
Florence yang membawa tas rusak yang membuat barang yang ia bawa berhamburan. Vinter
memberikan tas mahal itu.
Pada titik ini sebenarnya sudah ada ikatan tak terlihat antara Florence dan
Vinter. Mereka memiliki kesamaan masa lalu. Trauma.
Ketika di kereta api pun sebenarnya mereka sama-sama sedang lari dari
perjodohan mereka yang sama-sama gagal.
Perlahan dari kejadian itu, cerita terbentuk dari koneksi antarkarakter. Salah
satu yang paling berkenan tentu saja perkembangan karakter Florence dan Vinter.
Mengapa?
Karena sebenarnya meski orang mengatakan bahwa buku ini adalah buku romansa,
namun bagiku pribadi, bukan.
Novel ini adalah tentang perdamaian.
Tepatnya, berdamai dengan masa lalu.
Baik antara Florence dan Vinter, mereka sama-sama memiliki trauma. Florence
pernah jatuh cinta hingga titik bodoh pada seorang lelaki.
Di lain sisi, Vinter memiliki trauma masa lalu yang membuat dirinya menjadi
muram, pendiam, dan bahkan seringkali membuat dirinya melukai diri sendiri.
Jadi meski dapat kita katakan bahwa novel ini adalah novel romansa, namun
aku rasa jauh lebih baik mengatakannya sebagai sebuah novel tentang memaafkan
masa lalu serta trauma-traumanya.
Baca Juga : Novel Sastra Terbaik Sepanjang Masa
Kita Semua Adalah Florence Yang Menjadi Vinter.
Kita pernah begitu terbuka dengan orang, sampai pada akhirnya keterbukaan kita memberikan peluang untuk luka datang.
Seumpama musim semi yang memekarkan bunga-bunga, hingga pada akhirnya kita memilih menjadi musim dingin yang menutup luka-luka.
Namun setiap musim dingin selalu disambut dengan musim semi, pun kita tidak bisa menolaknya.
Bukankah pernah kau berkata; aku mati rasa. Berpikir bahwa semua rutinitas akan sama.
Tetapi ajaib, sebab jikalau sudah saatnya cinta tiba, maka ia akan selalu menemukan cara untuk merasuk.
Pelan-pelan, hingga kita tak pernah menyadari bahwa cinta selalu suka bermain-main.
Apakah kita dipermainkan? Entahlah. Tetapi kita menyukai permainan itu.
Kita semua adalah Florence yang menjadi Vinter.
Kita adalah musim semi yang dipeluk musim dingin.
Pun aku pernah di posisimu. Merasa bahwa cinta tak akan datang lagi, bahkan menengok pun tidak.
Namun pada suatu titik, ketika cinta datang mengetuk pintu hatimu yang membeku.
Barangkali, kau perlu membukanya.
Sebab bisa saja ia melelehkan kastil es yang kita bangun selama ini.
Lalu engkau, akan menjadi air mancur yang berdansa.
Catatan saya kepada novel ini
Terdapat beberapa ulasan tentang
novel ini, beberapa mengatakan bahwa pace ceritanya terlalu cepat. Namun di
lain sisi, banyak juga pengulas yang memuji bagaimana Primasari menggambarkan
Honfleur.
Saya menyukai bagaimana bab demi
bab mulai membuka karakter satu tokoh dengan karakter yang lainnya. Terlebih
ketika masa lalu mereka terkuak, seperti alasan Florence memutuskan untuk tidak
mencintai, dan mengapa Vinter melukai driinya sendiri.
Memang aneh juga mengapa novel
ini berjudul Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Barangkali Prisca selaku
penulis menggambarkan Vinter sebagai Kastil Es; kuat, tangguh, namun sebenarnya
lemah sebab bisa meleleh.
Sebagaimana dalam ceritanya,
Vinter meleleh akan kehadiran musim semi yang bernama Florence.
Di lain sisi, Air Mancur Yang
Berdansa mungkin merujuk pada Florence. Florence yang menjadi cikal bakal
Vinter melupakan masa lalunya dan apa yang terjadi terhadap keluarganya.
Hematnya, saya menyukai novel
ini.
Setidaknya ada beberapa buku tentang melupakan masa lalu yang pernah saya ulas, seperti Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye atau Novel 40 Hari karya Ade Igama, yang mengisahkan tentang mengikhlaskan. Pun juga ada Garis Waktu karya Fiersa Besari, saya rasa, kalian perlu membacanya.

Posting Komentar untuk "Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa: Kita Semua Adalah Florence yang Menjadi Vinter"