Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Kamu Sedang Merasa Kosong? Review Buku Man Search For Meaning karya Victor E. Frankl

Apakah Kamu Merasa Kosong? Review Buku Man Search For Meaning karya Victor E. Frankl

Apakah kamu sedang merasa tidak bermakna dalam hidup? Jika iya, kamu mesti membaca buku ini.

Man’s Search For Meaning adalah buku karya psikolog terkenal bernama Victor E. Frankl, ia adalah salah seorang korban perang ketika Jerman sedang marak-maraknya membantai kaum Yahudi.

Seperti yang aku katakan sebelumnya, buku ini sangat layak kamu baca bilamana kamu sedang merasa kosong di dalam hidup, merasa bahwa hidup kamu tidak ada artinya dan bahkan jikalau kamu merasa sedang ingin bunuh diri.

Tidak usah khawatir, buku ini ringan untuk dibaca, ia juga akan sangat relate dengan kamu sebab penulisnya pernah berada pada titik terendah hidupnya. Ia pernah dipaksa bekerja paksa dan dianggap bukan manusia.

Untungnya, Frankl adalah salah satu dari sekian yang selamat dari korban kamp Auzchwitzh yang terkenal dengan gas beracunnya itu, dan dalam penindasan orang Jerman itu, Victor E. Frankl menulis buku ini perlahan-lahan.

Karenanya buku ini adalah catatan orang yang menolak mati.

review buku man's search for meaning
Cover buku Man's Search For Meaning

Apa Makna Hidup?

Jika kamu bertanya hal ini, sayangnya jawabannya tidak pernah ada. Sebab pertanyaan ini adalah pertanyaan personal, mustahil dijawab oleh orang lain.

Melalui buku Man Search for Meaning Victor E. Frankl menjelaskan bahwa hidup adalah suatu hal yang harus dipertanggungjawabkan. Pada pertanggungjawaban kita terhadap hidup itulah kita pada akhirnya menemukan maknanya.

Kebanyakan dari kita mencari makna hidup, mencari kebahagiaan, mencari validasi. Kita merelakan diri kita menjadi mesin pencari uang hanya untuk memenuhi hal-hal yang kita anggap bisa mendatangkan kebahagiaan.

Namun apakah itu pada akhirnya mendatangkan kebahagiaan? Tidak. Pada akhirnya kita merasa kosong kembali, namun kita, entah mengapa, menjalani rutinitas itu terus menerus sampai mati.

Mengapa setelah usaha kita sekeras itu kita masih gagal bahagia? Hal itu disebabkan karena seringkali kita terlalu mengikuti standar sosial yang telah dipatok orang-orang sebelum kita. Kita mengikuti hal yang sebenarnya bukan keinginan kita, dan seringnya kita tidak tahu bahwa itu salah.

Bagaimanapun juga, hidup ini adalah hidup kamu, kamu memilih untuk ikut keinginan hati kamu atau kamu mengikuti standar sosial masyarakat adalah urusan kamu, bukan urusan orang lain. Pertanyaannya, apakah kamu berani bertanggungjawab?

Kunci hidup ini adalah bertanggungjawab, kata Frankl. Kalau kamu berani mengambil segala resiko itu, ambillah. Tetapi jikalau pada akhirnya kamu salah, kamu harus bertanggungjawab.

Apapun pilihan kamu, salah benarnya, kamu harus bertanggungjawab.

Apakah Kita Bisa Menemukan Kebahagiaan Sendiri?

Victor E. Frankl mengatakan bahwa seringkali makna hidup kita tidak bisa kita temukan sendiri. Adakalanya makna hidup itu bisa kita temukan ketika kita bermakna di kehidupan orang lain.

Bermakna yang dimaksud Frankl bukan berarti mesti menjadi pemimpin maupun harus bisa menggoyangkan konstitusi. Bermakna bisa banyak hal dan cara, bahkan kita tersenyum ke orang lain pun adalah memberikan makna.

Dalam pandangan Frankl, kita sebagai manusia tidak akan bisa lepas dari hakikat kita sebagai makhluk sosial. Pada buku ini misalnya, Victor E. Frankl bertahan hidup bukan karena kuat melainkan karena ia punya alasan untuk hidup lebih lama; istrinya.

Hidup bertahun-tahun di dalam kamp membuat Frankl tidak tahu apakah istrinya masih hidup atau tidak, namun setidaknya Frankl menyadari bahwa untuk hidup adalah untuk berharap, meskipun kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa.

Dalam buku ini juga kehidupan Frankl berubah ketika ia mengikuti kata hatinya. Ia bisa kabur dari kamp itu, namun ia memilih bersama orang yang sekarat, orang yang sebenarnya sudah pasti akan mati.

Namun Frankl bertanggungjawab akan hal itu, ia membuang kebebasan yang bisa saja ia dapatkan ketika kabur untuk membersamai orang lain yang sudah pasti akan mati. Frankl memilih memberikan makna dirinya yang tidak seberapa itu.

Mengapa Kita Tidak Pernah Bahagia?

Bagi Frankl, kegagalan kita untuk bahagia terjadi karena kita mencari kebahagiaan, bukan membentuk kebahagiaan itu. Frankl percaya bahwa kebahagiaan akan bermakna bilamana kebahagiaan itu datang sendiri dan bukannya dicari.

Banyak orang percaya bahwa hanya dengan kaya mereka bisa bahagia, hal tersebut berujung pada manusia yang mencari kekayaan itu terus menerus hingga mereka lupa bahwa bisa saja mereka telah sampai pada kekayaan itu.

Seringkali juga manusia membeli apa yang tidak dibutuhkan hanya untuk terlihat kaya maupun bergengsi, berswafoto di restoran agar dianggap berada, dan melakukan banyak lagi kegiatan semu lainnya.

Hanya saja, seringkali hal tersebut tidak akan bertahan lama. Ia seumpama dopamin instan sebagaimana scrolling di sosial media atau—maaf—masturbasi. Ketika itu usai, kita akan mencarinya lagi dan lagi.

Pendapat ini senada dengan pendapat filsuf klasik, Aristoteles. Aristoteles membagi kebahagiaan menjadi dua yaitu kebahagiaan semu (seringkali disebut hedonisme) dan kebahagiaan hakiki (Eudaimonia).

Banyak dari kita mencari kebahagiaan semu dan melupakan kebahagiaan hakiki itu. Kegagalan kita membentuk eudaimonia membuat kita mencari kebahagiaan pada lingkaran yang sama terus menerus.

Bagaimana Membentuk Kebahagiaan Hakiki?

Sebab Victor E. Frankl menjelaskan bahwa kebahagiaan tidak dicari melainkan mesti dibentuk, maka sekiranya perlu mengetahui bagaimana membentuk kebahagiaan itu.

Lalu bagaimana? Sederhananya, kebahagiaan bisa dibentuk bilamana kita memberikan ia ruang untuk masuk.

Sebagai contohnya, jikalau kita bersilaturahmi dengan orang lain atau melakukan volunteer maka kita secara tidak langsung kita terikat dengan orang lain. Pada saat itu pasti ada kegiatan yang kita lakukan, baik bicara maupun mendengarkan. Sesekali pasti ada yang melucu, sesekali kita juga tertawa.

Konsep eudaimonia atau kebahagiaan hakiki juga sama. Konsep ini menjelaskan bahwa kebahagiaan hakiki itu bisa ditempuh melalui dua cara yaitu kebajikan moral dan kebajikan intelektual.

Kebajikan intelektual berkaitan dengan berkembangnya pemahaman kita sehingga kita menjadi bijak, yang berpuncak pada perenungan. Kebajikan moral berkaitan dengan tindakan baik kita setiap hari.

Ucapan terimakasih dari orang yang kita bantu, air mata kebahagiaan, rasa syukur mereka. Kadangkala itu lebih berarti dari apa yang selama ini kita bayangkan. Sebab seringkali kebahagiaan yang hakiki muncul dari arah yang tidak pernah kita duga-duga.

Kebahagiaan tidak boleh menjadi tujuan, ia mesti datang sendiri.

Man’s Search For Meaning, Sebuah Penutup

Saya akan merekomendasikan buku ini ke siapapun, teruntuk kepada remaja yang mengalami life quarter krisis maupun orang yang depresi dan ingin melakukan bunuh diri.

Pengalaman saya bertemu dengan orang-orang seperti itu membuat saya berkesimpulan bahwa seringkali kita ingin mengakhiri hidup bukan karena kita benar-benar ingin mati, melainkan kita merasa tidak bermakna; Kita hanya sedang kehilangan makna.

Namun selama kita masih bertanggungjawab dalam hidup, yaitu mengambil pilihan baik yang kita inginkan, maka selama itu pula makna bisa muncul kembali. Sebab pada akhirnya, yang kita butuhkan adalah bertahan hidup. 

Sukses? Kaya? Itu urusan nanti. Sebagaimana bahagia, hal-hal tersebut masih bisa dibentuk juga. Karenanya kita harus terus hidup, berdiri dengan bangga, sebab hidup yang kita jalani ini adalah satu-satunya hidup yang layak disyukuri.


Terimakasih sudah membaca, jika ingin membaca lebih banyak, silahkan klik label berikut: Review Buku

Posting Komentar untuk "Apakah Kamu Sedang Merasa Kosong? Review Buku Man Search For Meaning karya Victor E. Frankl"