Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

11 Mitos Tentang Otak Manusia yang Dibantah Ahli Neurologi

11 Mitos Tentang Otak Manusia yang Dibantah Ahli Neurologi

Otak manusia sering digambarkan sebagai pusat kendali paling kompleks di alam semesta. Namun, justru karena kompleksitasnya, banyak sekali mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai cara kerja otak. 

Mulai dari anggapan bahwa kita hanya memakai 10% otak, sampai kepercayaan bahwa orang kreatif pasti dominan otak kanan.

Pemahaman ini saya temukan ketika saya menonton video Youtube berjudul Neurologists Debunk 11 Brain Myths | Debunked | Science Insider yang digagas Insider Science.

Mitos Tentang Otak
11 Mitos Tentang Otak Manusia yang Dibantah Ahli Neurologi (Canva)

Bagi yang belum mengetahui Insider Science itu apa, setidaknya saya bisa menyimpulkan bahwa Insider Science adalah cabang dari Business Insider Youtube.

Bedanya, Channel Youtube Insider Science bertujuan memecahkan mitos, menjelaskan fenomena alam, kesehatan, serta teknologi dengan pendekatan ilmiah melalui berkolaborasi dengan ahli untuk memberikan penjelasan berbasis fakta dan hasil penelitian yang menarik serta mudah dipahami. 

Dalam sesi 11 Mitos Tentang Otak Manusia ini, Insider Science membawa dua orang neurologist yang diantaranya adalah Dr. Santoshi Billakota and Dr. Brad Kamitaki yang mana ahli dalam bidang neuro sains.

Videonya bisa dilihat disini:

Lalu apa saja sih mitos-mitos tentang otak manusia? Mengapa kita bisa terjebak mitos tersebut? Berikut adalah hal yang saya tangkap. 

1. Besarnya Otak Berbanding Lurus dengan Kepintaran

Sayangnya, besarnya otak tidak sama dengan lebih pintar. Dugaan ini tentu saja muncul dari bagaimana anggapan kita terhadap otak itu sendiri, sebagai mesin pengendali tubuh, seringkali kita menganggap bahwa semakin besar otak maka semakin besar pula dampaknya terhadap kita.

Namun pada faktanya, kecerdasan tidak bisa diukur dari besar kecilnya otak melainkan beberapa faktor yang lebih penting seperti jumlah dan koneksi antar neuron, efisiensi jaringan saraf, dan aktivitas ragam area otak.

Sebagai perbandingan dapat diketahui bahwa beberapa hewan memiliki otak yang lebih besar dari manusia, tetapi tidak memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi.

2. Tes IQ Mengukur Semua Kecerdasan

Mitos ini ternyata masih muncul meskipun Howard Gaardner telah menemukan teori Multiple Intelligence. Dalam bukunya yang berjudul Multiple Intelligence, Gaardner menjelaskan pengaruh IQ memang sangat besar semenjak Alfred Binet mencetuskannya.

Sayangnya, IQ tidak bisa digunakan untuk mengukur semua jenis kecerdasan. Binet pun memunculkan teori dan tesnya hanya untuk beberapa aspek seperti matematika (yang mana menjadi alasan mengapa sedari dulu orang yang dianggap pintar matematika adalah orang yang paling pandai).

Tes IQ pada hakikatnya cenderung mengukur beberapa aspek seperti logika, bahasa, pola, matematika. Uniknya, kecerdasan manusia lebih ragam dibandingkan itu, misalnya kecerdasan emosional, kreativitas, keterampilan sosial, dan kemampuan artistik.

Hebatnya lagi, seseorang bisa unggul dalam banyak bidang meskipun skor IQ-nya biasa saja.

Jadi tentu, IQ bisa mengukur semua kecerdasan manusia adalah mitos.

3. Manusia Hanya Menggunakan 10% Otaknya

Dugaan ini sangat terkenal, namun keliru. Narasi mengatakan bahwa mitos ini populer semenjak Dale Carnegie menyebutnya juga dalam bukunya yang mahsyur, yaitu How to Win Friend and Influence People.

Pada buku itu sebenarnya Dale Carnegie tidak pernah menyebutkan tentang 10% otak, namun 10% kemampuan mental. Saya memang membaca versi terjemahannya, dan begitulah yang termaktub dalam buku terjemahannya itu.

Mitos ini salah sebab hampir semua bagian otak memiliki fungsi, dan bahkan aktivitas terjadi bahkan saat kita beristirahat. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa tidak ada satupun bagian otak yang menganggur, sebab kadangkala mereka bergerak dalam pola-pola tertentu.

mitos mitos otak
Beberapa hewan memiliki otak yang lebih besar dari manusia, namun tidak sepintar manusia (pixabay)


4. Video Game Merusak Otak 

Anak remaja mungkin senang dengan fakta ini dan bisa mendebat orangtua mereka, sebab beginilah faktanya: video game tidak otomatis merusak otak.

Beberapa game, terutama yang kooperatif dan berjenis strategi bisa meningkatkan kecerdasan sebab mengasah otak dan meningkatkan koordinasi. Meskipun demikian, perlu diketahui bahwa hal yang bisa merusak otak adalah bermain game secara berlebihan sampai melupakan waktu.

Beberapa manfaat game sebenarnya cukup variatif seperti melatih refleks, meningkatkan kemampuan problem solving, mengasah strategi, dan meningkatkan koordinasi mata dan tangan. Perlu diperhatikan bahwa beberapa game dapat membuat orang bertumbuh, jadi perlu memilih gamenya.

5. Memori Memburuk Seiring Usia

Perlu diketahui bahwa memori tidak selalu memburuk seiring usia. Dugaan ini tentu saja muncul karena kita seringkali lupa bahwa ada beberapa jenis memori, sementara yang sering memburuk adalah memori berjenis episodik.

Episodik memori itu seperti hal-hal yang temporal, misalnya dimana meletakkan kunci, atau kapan ulang tahun pacar, atau siapa nama orang. Sementara memori berjenis lainnya malah cenderung meningkat, misalnya memori yang berkaitan dengan skill dan kognitif.

Buktinya? Banyak orang yang semakin tua malah semakin ahli, semakin menua pengetahuan umum juga bertambah, dan bahkan kosakata yang kita pelajari cenderung meningkat. Karenanya dapat diambil kesimpulan bahwa penuaan bersifat kompleks, bukan hanya sekadar penurunan.

mitos otak
Memori tidak memburuk seiring usia (Pixabay)

6. Otak Kiri Lebih Logis dan Otak Kanan Lebih Kreatif

Sayangnya, ini mitos. Memang mitos ini sangat populer dan seringkali juga membuat saya kebingungan karena saya logis dan juga kreatif, maka apakah saya berotak tengah? Tentu tidak demikian.

Mitos ini muncul sebab ternyata berdasarkan kecelakaan orang mengalami beberapa disfungsi otak, beberapa orang menjadi kesulitan melakukan sesuatu, dan bahkan cenderung tidak bisa. 

Padahal perlu ditekankan bahwa otak kiri dan kanan selalu bekerja sama, otak bergerak dengan pola dan bagian tertentu yang seringkali bergerak dengan bekerja bersama. Dalam hal ini misalnya menggambar seringkali menggunakan otak dan kreativitas, bicara juga melibatkan banyak area otak di bagian kiri dan kanan.

Keberadaan mitos ini seringkali membuat pembagian kepribadian berdasarkan sisi otak terlalu disederhanakan.

7. Penyakit Stroke Tidak Bisa Dicegah

Banyaknya orangtua dan tiba-tiba stroke bisa jadi menjadi alasan utama mitos ini muncul. Bahkan banyak anggapan bahwa stroke adalah penyakit yang pada dasarnya tidak bisa dihindari. Untungnya, hal tersebut salah. Stroke pada hakikatnya dapat dicegah.

Bagaimana mencegah stroke? Stroke dapat dicegah bilamana kita bisa menyingkirkan faktor-faktor yang bisa menyebabkan stroke itu sendiri. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit stroke adalah:

  1. Mengontrol tekanan darah 
  2. Menjaga gula darah
  3. Mengatur kolesterol
  4. Tidak merokok (Juga menjauhi perokok)
  5. Berolahraga

Berdasarkan hal-hal di atas dapat diketahui bahwa gaya hidup berperan besar dalam kesehatan otak.

8. Makan Ikan Membuat Pintar

Mitos ini tentu saja muncul dari orangtua Asia yang tentunya lekat dengan makanan hewani dari laut. Sayangnya, makan ikan tidak otomatis membuat yang memakannya lebih pintar, namun kabar baiknya, memakan ikan baik untuk kesehatan.

Memang ikan mengandung omega-3 yang baik untuk otak, namun tentu saja hal tersebut serta merta tidak langsung menaikkan IQ dan tentu saja tidak menjadikan seseorang jenius. Artinya nutrisi memang membantu otak lebih berfungsi, namun cerdas itu sendiri dibentuk oleh banyak faktor lainnya.

Mitos Tentang Otak Manusia
Memakan ikan tidak membuat pintar meski bagus untuk kesehatan (Pixabay)


9. Selalu Percaya Perasaan/Indramu

Kalimat trust your sense seringkali diartikan perasaan atau indra, dan ini tentu adalah mitos sebab indra manusia tidak selamanya dan tentunya tidak selalu akurat.

Sebagai manusia jelas bahwa kita cenderung percaya dengan apa yang kita lihat dan dengar, padahal otak seringkali menebak informasi sehingga cenderung ambigu, dan bahkan ilusi yang seringkali kita dapatkan membuktikan bahwa persepsi bisa keliru.

Perlu mengetahui bahwa realitas yang kita rasakan adalah hasil interpretasi otak, bukan salinan sempurna dunia. Indra kita tidak bisa mengambil hakikat dari sesuatu karena sangat terbatas dari apa yang bisa diterima indra dan bagaimana otak memprosesnya.

Meski demikian, ada kalanya kita bisa percaya dengan intuisi sebagaimana yang diungkapkan Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Blink, sayangnya, itu membutuhkan banyak syarat tertentu. 

Bukunya bisa dibaca di link berikut: Blink Malcolm Gladwell.

10. Otak Pria dan Wanita Berbeda Secara Signifikan

Mitos ini jelas keliru dan bahkan bisa menjadi masalah saling mendominasi jika dibiarkan. Pada faktanya, otak pria dan wanita tidak berbeda secara signifikan, dan bahkan tidak ada bukti kuat bahwa satu jenis kelamin memiliki otak yang lebih unggul.

Keunggulan wanita dan laki-laki yang terjadi saat ini lebih besar ditentukan oleh bagaimana kebudayaan yang ada di suatu kaum, misalnya dalam kebudayaan Indonesia perempuan jarang diberikan pendidikan sehingga cenderung lebih terbelakang.

Alih-alih ditentukan oleh struktur biologis semata, hal-hal sederhana seperti lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup lebih menentukan unggul tidaknya perempuan atau laki-laki.

11. Kejang Berarti Epilepsi

Kejang seringkali dikaitkan dengan epilepsi, yang mana Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) kronis yang ditandai dengan aktivitas listrik otak yang tidak normal dan seringkali menyebabkan kejang berulang.

Namun kejang tidak selalu berarti demikian sebab seseorang bisa mengalami kejang karena ragam faktor. Misalnya seperti demam tinggi yang mana tubuh kejang karena melawan penyakit maupun virus di dalam tubuh.

Selain itu, infeksi maupun cedera juga bisa menciptakan kejang. Karenanya kejang belum tentu epilepsi, bahkan digigit hewan berbisa pun bisa menyebabkan kejang dadakan.


Kesimpulan

Pada akhirnya video ini menegaskan bahwa banyak kepercayaan populer tentang otak seringkali terlalu disederhanakan, tidak berasas pada sains, dan bertahan karena sering diulang dan dituturkan dari mulut ke mulut.

Fakta-fakta di atas penting diketahui sebagai upaya melihat bahwa cara kerja otak yang mempengaruhi bagaimana manusia berperilaku ternyata sangat dinamis, adaptif, dan sangat kompleks. Perlu sekali kita keluar dari mitos dan berupaya menghargai bagaimana tubuh kita bekerja secara utuh.

Sebab dengan begitu, kita bisa memahami diri kita sendiri dengan penuh cinta, menjaganya sampai ajal merenggut nyawa dalam raga.


Terimakasih telah membaca artikel Buku Bagus, semoga bermanfaat dan pembaca bisa terhindar dari mitos-mitos yang ada.

Posting Komentar untuk "11 Mitos Tentang Otak Manusia yang Dibantah Ahli Neurologi"