Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Teknik Mencari Teman dan Disukai Semua Orang? Review Buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie

Review Buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie

Saya dahulu sekali membacanya, tidak ingat apakah waktu itu sedang MTS, SMA atau kuliah? Yang jelas buku How to Win Friend and Influence People karya Dale Carnegie ini secara langsung maupun tidak langsung membuat saya bisa bergaul dengan orang lain.

Bagusnya buku ini membuat saya meminjamkannya kepada teman saya, L. Bintang Muhammad. Tidak tahu apakah ia mempraktikannya atau tidak, namun ia kini menjadi seorang tokoh yang memiliki pergaulan yang sangat luas. Bahkan ia memiliki pengaruh yang besar untuk orang seumurannya, barangkali hal tersebutlah yang kini membuatnya terjun ke dalam dunia politik.

Pun kamu, jika memang memiliki kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, anggaplah seperti bernegosiasi atau sesederhana tidak bisa membangun percakapan dengan orang lain. Buku ini akan sangat membantu.

Tulisan ini bukanlah rangkuman, mungkin adalah review? Tidak pasti, namun saya ingin menulis tentang buku yang sempat saya baca belakangan dari buku How to Win Friends ini.

Review Buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie

Apa Inti Buku Buku How to Win Friend and Influence People karya Dale Carnegie?

Jika merangkum semua isi How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie, saya percaya bahwa esensi buku ini adalah menjadi altruis, atau mengedepankan perasaan orang lain dibandingkan perasaan diri sendiri.

Agak sedikit mengesalkan memang. Kita mau apa yang kita katakan dengan jelas, kita mau memerintah dan menjelaskan secara terang-terangan apa yang kita inginkan, sayangnya pada beberapa titik hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan.

Alasannya? Dale berpandangan bahwa sebenarnya manusia itu egois, baik aku dan kamu, pada hakikatnya adalah manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri dibandingkan orang lain. Mengapa kita seringkali egois? Sebab setiap manusia pasti memiliki perasaan untuk dianggap berharga.

Karenanya, kata Dale Carnegie, untuk menang dalam hubungan baik tidaknya dengan manusia maka kita harus melakukan sebaliknya, yaitu kita harus melepaskan kepentingan kita agar kepentingan perasaan keinginan untuk dihargai mereka terpenuhi.

Mungkin kalian tidak sepakat, namun Dale ada benarnya juga. Misalnya kita, meskipun tidak beranggapan bahwa zodiak itu benar adanya, kita akan tetap menunggu penyebutan zodiak atau bulan kelahiran kita dibacakan hanya untuk mengetahui sifat atau karakter kita.

Contoh lainnya juga, jika ada foto masa lalu bersama teman-teman sekelas kita dengan sabar akan mencari dimana kita pada foto itu. Kita barangkali akan menyipitkan mata sampai menemukan diri kita ada pada sela-sela orang lain.

Hal tersebut tentu adalah bukti dasar bahwa sebenarnya sebagaimana manusia, kita mau dianggap ada di dunia ini, dan eksistensi kita akan sangat ditentukan dari bagaimana orang menghargai kita atau tidaknya.

Kita selalu ingin tampil lebih baik dibandingkan orang lain, dan karenanya itu menjadi kelemahana kita di dunia ini. Seringkali orang-orang masuk lewat sana (perasaan untuk dihargai), dan seringkali juga kita membiarkan diri kita dipuji hanya untuk membuat diri kita merasa lebih baik, meski demikian, pujian bisa saja racun, dan buku ini juga menjelaskan terkait bagaimana memuji yang baik itu.

Keinginan kita untuk bersosial dengan orang lain senantiasa membawa kita pada persoalan manusia berhadapan dengan manusia (Saya mengutip Jurgen Habbermas). Maka agar senantiasa bisa terhubung, hubungan kita dengan orang lain mestilah seimbang.

Apa Yang Membuat Buku Ini Berbeda Dibandingkan Yang Lain?

Apa yang membuat buku ini berbeda adalah bagaimana penyampaian Dale carnegie yang nyatanya mudah dibaca bahkan oleh orang awam sekalipun. Dale bisa menyampiakan hal-hal yang kita anggap rumit—yaitu berhubungan dengan manusia—dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti.

Dale meyakinkan kita bahwa berhubungan dengan manusia lainnya tidak sesulit itu. Apa yang ditekankan Dale adalah untuk berhubungan dengan orang lain maka kita mesti menekan ego kita seperlunya dan sebisa mungkin mempersilakan ego orang lain untuk muncul.

Meskipun kita ingin mengkritik namun sebaliknya, Dale memberikan cara mengkritik yang baik dan benar. Mengkritik ternyata bisa tanpa mesti menyinggung, yaitu dengan cara yang lebih halus dan subliminal, yang bisa merubah orang tanpa mereka sadari.

Buku ini memang saya rasa adalah bentuk putih dari buku 48 Hukum Kekuasaan. Bilamana buku 48 Hukum Kekuasaan menerangkan cara-cara yang dirasa kejam dan nyata, buku ini sebaliknya, memberikan cara-cara yang halus namun menikam secara alam bawah sadar.

Perlahan-lahan melalui ucapan kita, tindakan kita, sikap kita, orang bisa berubah. Bahkan pada buku ini pula Dale menekankan pengaruh senyuman pada wajah seseorang, hal yang barangkali sederhana namun sering kita lupa.

Selain itu buku ini menekankan pada sisi psikologi manusia. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana Dale mengutip tokoh-tokoh psikologi yang mengacu kepada bagaimana bersikap sebagaimana B.F Skinner dan juga Adler.

Hematnya, buku ini cocok untuk mereka yang memang ingin bergaul bersama orang lain. Ingin lebih dekat, ingin membangun sebuah hubungan yang benar-benar kokoh dengan orang lain. Meski demikian, saya merasa bahwa buku ini seumpama to good to be true.

Mengapa?

Kritik atas Buku How to Win Friend and Influence People

Buku ini memang sangat bagus, saya mengakuinya. Bahkan bisa saja buku ini adalah buku basic yang bisa orang baca agar bisa berhubungan dengan orang lain sebab tidak hanya teoritikal, melainkan praksis; ia bisa langsung diimplementasikan saat itu juga.

Namun pada titik itulah buku ini layak dipertanyakan. Sebab saya rasa tidak hanya karena cenderung praktikal dan menuntun pada keberhasilan, namun buku ini menurut saya juga terlalu pragmatis; ia menekankan pada apa yang berhasil.

Begitulah dalam buku How to Influence People and Win Friends ini Dale lebih menekankan pada apa yang berhasil yang kemudian ditopang oleh keberhasilan-keberhasilan tokoh-tokoh sebelumnya seperti Lincoln, Schwab, maupun Rockfeller.

Pada titik ini saya merasa bahwa Dale melakukan cherry picking atau mengambil hal yang baik-baik saja dengan menihilkan yang buruk.

Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi saya dan tentu untuk kita; apakah Dale juga adalah seorang altruis tulen sehingga benar-benar ingin memberikan kita ilmu yang ia miliki dari kursus yang ia ajarkan? Atau sebaliknya,

Dale Carnegie adalah seorang pebisnis, dan buku ini juga adalah buku serupa yang ingin menekankan bagaimana kebehasilan bisnisnya dan apa yang ia jual selama ini. Apa tujuannya? Tentu agar orang ikut ke dalam bisnisnya.

Pertanyaan peraguan ini layak dikobarkan, sebagaimana buku The Miracle of Water karya Masaru Emoto misalnya, sangat menggebar-geborkan tentang air dan khasiatnya, serta bagaimana air bisa berubah jikalau berhubungan dengan manusia. 

Masaru Emoto mengklaim bahwa ia meneliti air selama 20 tahun, dan menemukan jikalau kita mengatakan hal yang baik terhadap air, maka partikelnya akan menjadi baik, sebaliknya, jika kita mengatakan hal yang buruk terhadap air, maka partikelnya menjadi rusak.

Sayangnya, penelitian ini omong kosong. Ia berbohong. Renver membuktikannya. Dampaknya? Hingga saat ini banyak dari kita yang terkecoh dan bahkan para agamawan kita seringkali mengutip dari buku dan penulis yang tidak jelas kredibilitasnya.

Dugaan serupa jelas bisa kita lontarkan kepada Dale Carnegie; apakah ia benar-benar seorang altruis yang ingin membantu kita atau sebenarnya seorang pebisnis? Apakah ia adalah malaikat berhati iblis agar kita masuk dalam godaan bisnisnya?

Bisa saja, bukan? Berusaha membantu, namun sebenarnya ia juga memiliki niat sendiri. Sebagaimana salah satu hukum 48 Hukum Kekuasaan, tidak ada makanan gratis. Jika gratis, barangkali kita adalah makanannya.

Apakah How To Influence People Layak Dibaca?

Meskipun demikian, buku How to Influence People and Win Friend benar-benar layak untuk dibaca. Membacanya tidak akan lama sebab Dale Carnegie membuatnya sangat ringkas, dan tentunya, bisa dipraktikkan.

Jika mengacu kepada buku How To Read a Book karya Mortimer J. Adler, buku ini memang buku praktis sehingga layak dibaca jika ingin menerapkan bagaimana kita bisa berhubungan dengan manusia.

Keringkasannya bisa membuat kita paham hanya dengan sekali baca, namun demikian, sebagaimana pinta Dale Carnegie, sebaiknya buku How To Win Friends and Influence People ini dipraktikkan secara langsung per-bab atau subbabnya, hanya itu cara membuat bukunya bermakna.

Kecuali, kata Dale Carnegie, kamu membacanya hanya untuk bersenang-senang.


Identitas Buku How to Wins Friends

Judul Buku : Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain

Judul Asli Buku : How to Wins Friends and Influence People

Penulis : Dale Carnegie

Penerjemah : Nina Fauzia N.S

Editor: Dr. Lyndon Saputra

Penerbit: Binarupa Aksara

Tahun: 1995 

Buku ini diterbitkan pertama kali di Indonesia oleh penerbit Binarupa Aksara pada tahun 1995, artinya, saya membaca versi jadul dari buku ini.

Pertanyaannya; Kok ISBN nya nggak ada ya?

Posting Komentar untuk "Bagaimana Teknik Mencari Teman dan Disukai Semua Orang? Review Buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie"