Review Buku Blink Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir karya Malcolm Gladwell
Review Buku Blink Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
Salah satu buku fenomenal yang bisa saya khatamkan pada tahun 2025 ini adalah buku Blink karya Malcolm Gladwell. Buku itu merupakan buku bekas dari seorang dokter cinta, yang nampaknya buku itu diberikan kekasihnya. Wah, beruntung sekali orang yang dihadiahi itu!
Saya membanderol buku tersebut dengan harga 45.000 rupiah dan buku itu sampai ke Lombok seminggu kemudian. Di Lombok, setelah beberapa kali membuat buku itu menganggur, saya pada akhirnya bisa membacanya.
Sekali lagi, tulisan Gladwell membawa saya kepada dunia yang baru dan meruntuhkan pemikiran saya yang lama.
Apa Yang Dibahas Buku Blink: Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir?
Buku Blink menjelaskan tentang bagaimana manusia sebenarnya memiliki kemampuan berpikir tanpa berpikir. Dalam dunia yang penuh dengan sandaran terhadap pemikiran yang panjang, Blink menyadarkan kita terhadap kemampuan yang sebenarnya selama ini kita miliki namun kita abaikan; intuisi.
Buku ini dimulai dengan sebuah cerita ditemukannya patung kouros yang merupakan patung yang sangat langka. Patung itu hanya tersisa 200 di Bumi, dan setiap patung selalu ditemukan dengan keadaan yang hancur dan rusak.
Akan tetapi pada suatu masa, seseorang mengaku menemukan patung kouros yang sempurna. Benar saja, patung itu begitu indah dan memikat, Getty Museum sampai ingin langsung membanderolnya yang kala itu dijual dengan harga 10 juta dollar. Jika dirupiahkan, maka sekitar 168.638.500.000,00 Rupiah. Belum terhitung inflasi dan lainnya.
Kemunculan patung kouros itu membawa Getty Museum pada suatu titik yang ambigu, keambiguan itu berasal dari keinginan Getty Museum untuk memilikinya, namun dilain sisi mereka tidak tahu apakah patung itu asli atau tidak.
| Patung Kouros yang dibeli Getty Museum (Wikipedia) |
Untuk mengetahui keasliannya, Getty Museum memang mengutus beberapa peneliti untuk mengecek patung Kouros tersebut, sayangnya, hal tersebut membutuhkan waktu.
Suatu hari, seorang peneliti bernama Ben Beckman datang ke museum untuk mengecek patung tersebut. “Ah, ini patung yang segar!” ucap Beckman.
Hanya saja ia kemudian menjadi bingung sendiri sebab patung tidak mungkin segar. Kata segar tidak cocok untuk patung, ia hanya cocok untuk sayuran, buah, maupun daging. Maka ia kemudian berkata kepada Getty Museum “Apapun yang anda pikirkan, jangan membelinya”.
Sayangnya Getty Museum lebih dahulu membelinya. Hanya empat bulan setelah dibelinya patung Kouros itu, baru diketahui bahwa data-data yang dimiliki patung Kouros itu palsu. Itu adalah patung rekaan dan sudah pasti tidak asli.
Dugaan tersebut semakin kuat setelah peneliti-peneliti dari Yunani datang untuk mengecek patung tersebut dan ditemukannya sebuah kesimpulan yang valid; ia memang patung palsu.
Bagaimana Patung Kouros Tersebut Diketahui Palsu?
Patung Kouros itu seolah dibuat sesempurna mungkin, hanya saja ia dibuat dari patung Kouros lainnya, bahkan beberapa gaya dan seni patung tersebut nyatanya memiliki gaya modern, yang tidak ada pada ratusan tahun yang lalu.
Ketika kejadian ini diketahui pihak Getty Museum, mereka kemudian memberikan plang di bawah patung tersebut yang tertulis; entah berasal dari ratusan tahun yang lalu atau dibuat oleh bengkel modern yang jenius.
Kisah diatas memang seolah sederhana, hanya saja menjadi sebuah pertanyaan penting untuk kita: bagaimana Beckman bisa mengetahui patung tersebut palsu hanya dengan sekali lihat sementara orang lain membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kepalsuannya?
Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah: bisakah orang biasa seperti kita memiliki kemampuan seperti Beckman?
Malcolm Gladwell menjawab; bisa.
Mengapa Buku Blink Layak Dibaca?
Masyarakat dunia jelas beranggapan bahwasanya berpikir panjang dan lama bisa menjadi sebuah solusi yang mutakhir, hanya saja dunia yang kita tempati telah berubah dan membutuhkan kecepatan, kita jarang memiliki waktu untuk berpikir lama-lama terhadap sesuatu sementara keputusan tepat mesti diambil, maka buku Blink bisa menjadi solusi.
Gladwell memberikan kita sebuah insight yang sebenarnya merupakan bakat alami yang penting namun jarang kita pelajari, sebuah kekuatan alamiah yang dimiliki manusia secara turun temurun sejak era berburu, sebuah ilmu pikiran yang bernama intuisi.
Hampir banyak perempuan yang saya kenal dan berpacaran mengetahui bahwa kekasihnya telah selingkuh sebelum mereka bisa membuktikan benar tidaknya bahwa lelakinya memang seilngkuh.
Entah mengapa dalam diri mereka begitu yakin bahwa itu terjadi, hanya saja pikiran mereka juga beranggapan bahwa pacar mereka mustahil untuk selingkuh. Akan tetapi, ternyata (setidaknya sebagian besar mereka) benar; Pacar mreka selingkuh. Bagaimana itu bisa terjadi?
Malcolm Gladwell menjelaskan bahwasanya pikiran kita memiliki alam bawah sadar, ia seperti segudang komputer maha raksasa yang melakkukan proses secara cepat dan jitu. Ia bergerak tanpa kita ketahui, ia mengedap dalam temupurung kepala kita, bersembunyi dalam pikiran kita yang sadar.
![]() |
| Pikiran kita seumpama es, lebih banyak difaktori alam bawah sadar (Pixabay) |
Alam bawah sadar ini memiliki segudang informasi, yang mana informasi inilah yang kerap kali muncul ke dalam kehidupan kita sehari-hari, namun sebagaimana ungkapan saya tadi, bahwasanya kesadaran ini tidak pernah kita sadari.
Kekuatan intuisi juga jarang dibahas sebab terkadang kita dimabukkan oleh berpikir kritis dan berpikir panjang lebar. Jelas hal tersebut tidak salah, hanya saja ada suatu ketika dimana kita membutuhkan momen berpikir cepat, sebuah momen yang mana bisa saja pikiran kita mengelabui kita sehingga kita menjadi ragu dalam mengambi keputusan.
Dalam hal ini, ketika semua terlalu bising Gladwell berkata bahwa kita mesti mempercayai hati nurani.
Bagaimana Memiliki Kemampuan 'Blink?'
Dalam buku Blink yang mengedepankan intusi, perlu diketahui bahwa intusi didorong oleh informasi-informasi yang berasal dari banyak faktor seperti pengalaman, kultur, apa yang kita dengar dan kita baca, dan lainnya. Hematnya, apa yang bisa kita indrai.
Gladwell mengatakan bahwa otak kita memiliki kemampuan thin slicing atau jika diindonesiakan adalah mengiris tipis. Thin Slicing adalah kemampuan otak dalam memilih informasi yang tepat diantara banyaknya informasi yang ada.
Namun hal yang perlu diketahui adalah, kemampuan blink tersebut juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang kita lalui, dan seberapa intens kita dalam pemahaman tersebut.
| Belajar, menambah pengalaman, membaca, adalah hal yang bisa meningkatkan kemampuan Blink! (Gambar dari Pixabay) |
Misalnya orang yang suka membaca buku dan tetap membaca buku, seringkali mereka merasa bahwa terkadang 'buku tersebut memanggil mereka' buku tersebut seolah meminta untuk dibaca. Seringkali mereka bisa menemukan buku yang bagus tanpa perlu menimang banyak terlebih dahulu.
Teori ini lekat dengan teori 10.000 jam dalam buku Outliers Malcolm Gladwell. Selain itu Howard Gaardner dalam Multiple Intelligence juga menjelaskan bahwa seseorang jika telah sedekade melakukan sesuatu, maka ia akan menjadi ahli.
Jika kita telah melakukan sesuatu secara istiqamah atau konsisten maka otak akan melakukan thin slicing atau menemukan pola dan membuang data-data yang tidak penting sehingga pekerjaan yang kita lakukan menjadi lebih efisien.
Hal tersebut menjelaskan bagaimana dokter bisa menjelaskan dengan tepat penyakit yang diderita pasien hanya karena pasien menyebutkan beberapa gejalanya. Hal ini juga menjelaskan bagaimana Isaac Newton maupun Archimedes menemukan penelitiannya.
Baik Isaac dan Archimedes sama-sama ilmuawan, namun penemuan mereka didasari banyaknya informasi yang dihimpun otaknya sejak dahulu sebab pada masa itu mereka memang memiliki lingkungan yang benar-benar mendukung hal-hal yang berasas pada sains.
Mengapa Intuisi Bisa Gagal?
Meski demikian, Gladwell menjelaskan bahwa intuisi pun bisa gagal. Apa yang mendasari hal tersebut? Kegagalan intuisi bisa difaktori bias yang bisa kita ciptakan sendiri.
Gladwell dalam buku ini menyinggung bagaimana manusia bukan hanya sebagai makhluk yang hidup, melainkan sebagai makhluk yang kontekstual. Artinya, manusia bisa menafsirkan hal yang ada di lingkungannya.
Seringkali kita sebagai manusia merasa benar dalam menjudge orang lain dan tidak mengakui kalau hal tersbeut salah. Misalnya saja ketika orang Amerika diberikan siapa yang jahat dan baik, ternyata banyak orang memilih yang jahat adalah orang yang berkulit hitam. Mengapa? Karena kultur disana menuntun kearah kesimpulan tersebut.
Selain informasi kultural yang bisa membuat kita terpojokan oleh bias logika, hal lain yang bisa membuat intuisi gagal adalah tekanan yang ada. Gladwell menjelaskan hal ini dengan bagaimana polisi di Amerika yang salah melakukan tembakan dan membunuh orang yang tidak bersalah.
Apa yang terjadi kala itu? Seorang kulit hitam berlari ketika ada polisi sehingga dikejar, ketika terpojok, ia perlahan mengambil sesuatu di kantongnya yang dikira adalah senjata, nyatanya bukan, ia berkeinginan menunjukkan kartu tanda penduduknya, namun pelatuk telah ditarik. Lelaki itu telah meninggal.
| Polisi sering gagal mengambil keputusan karena mereka harus bertindak cepat (Gambar dari Pixabay) |
Banyaknya informasi bisa menguntungkan, namun bisa juga membunuh. Kapan ia membunuh? Ketika informasi itu datang disaat yang tidak tepat. Informasi harus dimiliki jauh sebelum keputusan diambil, bukan ketika keputusan tersebut akan dibuat, jika informasi yang sangat banyak diberikan ketika keputusan akan diambil, maka besar kemungkinan keputusannya menjadi bias dan gagal.
Penutup
Terlalu banyak penjelasan yang dimiliki buku Blink dan contoh yang diberikan Malcolm Gladwell akan membuat siapapun tercengang. Saya belum menyampaikan bagaiama George Tsoros yang konon dalang krisis moneter di Indonesia akan mengalami sakit punggung jika saham akan mengalami perubahan besar, saya belum menjelaskan tentang band Kenna yang berhasil walau dianggap gagal karena riset, juga belum menjelaskan perang ikonik antara Coca-Cola melawan Pepsi.
Gladwell memberikan hal tersebut dalam buku Blink, hal yang akan lengkap jika anda membacanya.
Inilah review buku blink malcolm gladwell, terimakasih telah berkunjung.
Identitas Buku
Akan saya isi kalau ingat.


Posting Komentar untuk "Review Buku Blink Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir karya Malcolm Gladwell"