Review Buku Dialog: Fungsi Percakapan, Teknik Penyuntingan, & Sepuluh Larangan karya A.S. Laksana
Review Buku Dialog: Fungsi Percakapan, Teknik Penyuntingan, & Sepuluh Larangan karya A.S. Laksana
Dalam menulis cerpen, dialog adalah sekian bagian terpenting sebab tanpanya kita tidak akan bisa membuat cerpen yang baik. Dialog meski hanya berupa ucapan, namun sebenarnya ia bisa menunjukan sifat asli seseorang dan menguak sisi gelap mereka.
Buku Dialog karya A.S. Laksana ini penting untuk dibaca bagi mereka yang mau menulis dengan baik dan benar. Sebagai seorang penulis cerpen, saya merasa terpukul karena ternyata banyak cara menulis dialog saya yang salah.
Buku ini membukakan mata saya terkait bagaimana menulis dialog dalam cerita yang baik dan benar sehingga saya merasa bahwa cerpen saya menjadi lebih baik sebab saya langsung mengimplementasikannya.
Hasilnya? Luar biasa. Cerpen saya menjadi jauh lebih baik, cerpen saya menjadi lebih mencerahkan dan tidak lagi menggurui.
Lalu apa saja prinsip dasar menulis cerpen tersebut? Kita akan membahasnya lebih lanjut dalam tulisan ini.
| Cover buku Dialog karya AS Laksana |
Beberapa Fungsi Dialog
Saya akan menspill beberapa fungsi dialog menurut AS Laksana:
Cerpen Sebagai Sense of Realism
Hal yang perlu ditekankan disini adalah kata Sense of Realism. Kalimat ini setidaknya berarti sensasi nyata. Laksana seringkali menggunakan kata ini dalam buku dialog yang mana menekankan betapa pentingnya hal tersebut.
Lalu apakah sense of realisme itu? Hematnya bahwa dialog yang kita gunakan dalam cerpen mestilah berasas pada hal yang nyata dan masuk logika. Kedengarannya mungkin sederhana, namun nyatanya, tidak.
Bahkan menurut saya bagian inilah yang sulit sebab saya mengira bahwa apa yang saya tulis telah masuk ke dalam sense of realisme namun ternyata sebaliknya.
Seringkali dalam membuat dialog di dalam cerpen kita malah menunjukkan hal yang sebenarnya tidak wajar, misalnya sebagai contoh; Dian menemukan Kevin sedang mengepalkan tangan di taman, wajahnya mengerut, maka Dian mendekatinya.
“Kamu kenapa, Kevin?”
“Aku sedang marah”
Menurut pembaca, apakah dialog di atas termasuk sense of realism? Jika pembaca mengatakan iya, selamat bahwa pembaca telah menjawab hal yang salah.
Menurut A.S. Laksana hal tersebut bukanlah sense of realisme, mengapa? Sebab kita sebagai manusia jarang mengutarakan perasaan kita. Perasaan lebih cenderung kita kunci dibandingkan kita katakan.
Jika kamu sedang sendirian di taman, bersedih misalnya, dan ada teman kamu datang dan bertanya “kamu kenapa?” apakah kita akan langsung jujur? Tentu tidak bukan? Kita akan menjawab: nggak kenapa-kenapa.
Pada dasarnya kita akan menyembunyikan perasaan kita, berharap orang lain memahami apa yang kita rasakan. Mengatakan perasaan kita kepada orang lain jarang dilakukan selain hal tersebut memang adalah hal yang mendesak.
Dialog Sebagai Perwujudan Karakter
Dalam buku ini dijelaskan bahwa dialog memperlihatkan lebih banyak dari sekadar ucapan. Hal tersebut adalah pola pikir karakter, apa yang mereka sembunyikan, apa yang mereka takuti, atau hematnya, dialog menunjukkan karakter seseorang.
Orang yang berpikir, ragu, atau melankolis tentu saja akan seringkali mengatakan “Aku pikir ini benar” atau “menurutku pribadi” atau “Aku yakin kamu benar karena...”
Orang yang penakut tentu akan sering mengatakan “Coba kamu maju lebih dulu” atau “Arpan, sebaiknya kamu yang berjalan di depan”
Orang yang berkarakter bossy? Jelas dialognya akan berbeda, bisa "Dasar tidak becus!" atau "Memang kalian tidak ada gunanya" atau "Kalian nggak ada apa-apanya dibandingkan aku"
Dialog secara tidak langsung akan menunjukkan bagaimana orang sebenarnya. Dalam buku ini banyak contoh yang diberikan A.S. Laksana sebagai upaya pembaca bukunya bisa menulis kreatif dengan lebih baik.
Dialog Sebagai Gerbang Konflik
Dialog tidak hanya berperan sebagai upaya memperlihatkan karakter tokoh di dalam cerpen maupun novel. Lebih dari itu, ia berperan sebagai suatu gerbang untuk membawa konflik.
Jika hal tersebut dilakukan maka cerpen akan menjadi lebih menggugah, hal tersebut bahkan akan membuat cerpen kita tidak akan bertele-tele sebab seringkali dalam novel maupun cerpen, dialog digunakan untuk memanjangkan cerpen.
Bagaimana bisa dialog sebagai pemicu konflik? Coba perhatikan contoh berikut, mana yang lebih baik?
“Cuacanya sedang tidak baik”
“Benar”
“Sebentar lagi akan hujan”
“Mungkin kita bisa cari tempat lain agar tidak kehujanan”
Bandingkan dengan dialog berikut:
“Cuacanya sedang tidak baik”
“Benar, cuaca yang sama ketika kamu memilih Dila dibandingkan aku tahun lalu”
Dialog kedua tidak bertele-tele, ia memberikan kita sebuah gambaran besar yang terjadi, yaitu si Lelaki pernah meninggalkan perempuan itu untuk seorang perempuan bernama Dila.
Dari sana pembaca akan tertarik sehingga bisa menduga-duga; apakah pertemuan mereka tidak disengaja? Atau disengaja? Apakah cowoknya mau mengajak balikan? Apa tanggapan perempuan itu?
Hal tersebut jelas membuat cerpen lebih menarik.
Pantangan Dalam Menulis Dialog
Beberapa pantangan menulis dialog menurut AS Laksana.
Jangan menulis dialog seperti bercakap sehari-hari
Dalam buku ini, AS Laksana menjelaskan bahwa sebaiknya kita tidak menulis sebagaimana kita bercakap sehari-hari. Bercakap sehari-hari membosankan, kadangkala tidak sabar menunggu ucapan seseorang selesai.
Karenanya, dialog dalam cerpen maupun novel mestilah efisien. Ia harus hal yang penting dan memang memiliki pengaruh yang besar untuk cerita. Jika itu terkesan hanya memperpanjang cerpen atau novel, sebaiknya buang saja.
Waktu pembaca mesti dihargai dengan menyajikan mereka hal-hal yang penting, hal yang membuat pembaca merasa bahwa cerpen ini memang layak untuk dibaca.
Jangan gunakan dialog sebagai pemanjang cerita
Dialog seringkali digunakan sebagai akal licik penulis untuk memanjangkan cerita mereka. Itulah mengapa seringkali dialognya dibuat pendek-pendek agar secepatnya halaman tersebut berpindah ke halaman berikutnya.
Setiap penulis pemula memang pernah melakukan ini, hanya saja sekarang kita harus berhenti. Dialog adalah hal yang membuat karya kita bermakna dan memiliki peran yang teramat besar untik cerita yang kita buat.
Karenanya akan sangat disayangkan jikalau kita menyia-nyiakan hal tersebut. Oleh sebab itu dialog mesti benar-benar penting untuk kepentingan cerita kita, karakter, dan untuk pembaca.
Jangan meminjam mulut tokoh untuk menyampaikan keinginan penulis
Dialog seringkali adalah keinginan penulis, bukan keinginan para tokoh dalam cerita yang dibuat. AS Laksana menjelaskan bahwa dialog yang ada di dalam cerita mesti pertukaran tokoh antar tokoh, bukan antar penulis dan pembaca.
Laksana menjelaskan bahwa seringkali dialog menjadi esai, yang mana penulis meminjamkan mulut tokoh yang ada di dalam cerita untuk menyampaikan maksudnya.
Seringkali bahkan mulut tokoh dalam cerita tiba-tiba menjadi sangat bijak dan bermoral, pada titik ini jelas bahwa penulis ingin memberikan apa yang diketahuinya kepada pembaca, bukan apa yang diketahui tokohnya.
Identitas Buku
Judul Buku : Dialog: Fungsi Percakapan, Teknik Penyuntingan, & Sepuluh Larangan
Penulis : AS. Laksana
Penerbit : LBBooks
Tahun Terbit: 2026
Penutup
Saya rasa tulisan ini lebih seperti rangkuman dibandingkan review buku, tapi saya bodo amat. Bisa saja kita perbaiki lain kali. Buku ini sangat bagus untuk dibaca, jika pembaca ingin bisa menulis cerpen yang baik, jangan lewatkan buku ini.
Serius, jangan lewatkan buku ini.
Jika ingin membaca buku yang telah saya baca, kamu bisa membaca reviewnya di Review Buku.
Posting Komentar untuk "Review Buku Dialog: Fungsi Percakapan, Teknik Penyuntingan, & Sepuluh Larangan karya A.S. Laksana"