Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku Belajar Menulis untuk Pemula: Panduan Memilih & Rekomendasi Buku Terbaik

Buku Belajar Menulis untuk Pemula: Panduan Memilih & Rekomendasi Buku Terbaik

Seringkali orang mengatakan bahwa menulis adalah bakat yang dimiliki individu tertentu, namun pada hakikatnya, menulis novel atau cerpen bukan bakat langit yang jatuh tiba-tiba. Ia lebih mirip keterampilan yang bisa dipelajari, dilatih, dan dipertajam. Hematnya, ia lebih seperti skill dibandingkan bakat.

Bagi pemula, salah satu cara terbaik untuk memulai adalah dengan membaca buku belajar menulis yang tepat. Buku semacam ini berfungsi sebagai kompas atau peta agar penulis pemula tidak tersesat.

Dalam buku Outliers karya Malcolm Gladwell dan Multiple Intelligence karya Howard Gaardner, dijelaskan bahwa latihan secara terus menerus akan membuat kita ahli dalam bidang tersebut, termasuk dalam hal ini keterampilan menulis.

Buku Belajar Menulis untuk Pemula

Kedepannya artikel ini akan membahas:

  1. Manfaat membaca buku belajar menulis
  2. Kriteria buku menulis yang bagus untuk pemula
  3. Rekomendasi buku belajar menulis untuk pemula
  4. Tips memilih buku yang sesuai kebutuhan

Mengapa Pemula Perlu Membaca Buku Belajar Menulis?

Banyak orang ingin langsung menulis cerita panjang tanpa fondasi pemahaman yang benar. Akibatnya, penulis pemula sering merasa buntu di tengah jalan. 

Seringkali dalam hal ini penulis pemula akan membuang naskah yang sedang digarap dan kemudian membuat judul baru, menulis lagi, dan buntu lagi sehingga lingkaran setan tersebut tidak pernah berhenti.

Memiliki pengetahuan dasar dalam menulis setidaknya bisa membuat kamu mengetahui jalan yang akan kamu lalui, seumpama kamu sedang dijalan yang gelap, buku yang kamu baca bisa menjadi penerang atau setidaknya, menjadi kompas.

Terdapat beberapa manfaat membaca Buku belajar menulis untuk pemula, diantaranya:

Memahami dasar-dasar cerita

Memahami dasar-dasar cerita sangat penting untuk pembaca pemula agar cerita mereka layak terbit dan bisa menciptakan kebanggaan tersendiri. Kebangaan ini menurut Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People adalah hal yang membuat Charless Dickens menjadi penulis terkenal.

Penulis pemula setidaknya mesti mengetahui bagaimana menulis dialog yang baik, bagaimana cara membentuk karakter yang sulit dilupakan, membentuk plot yang tidak tertebak, dan lainnya.

Mengenal struktur novel dan cerpen

Novel dan cerpen diibaratkan skripsi, thesis, maupun jurnal yang memiliki struktur tertentu. Cerita yang kita buat jelas memiliki alur yang akan membimbing para tokohnya menuju konflik, yang mana setiap konflik yang ada akan berasas pada klimaks cerita.

Ketidakpemahaman terhadap struktur novel dan cerpen memiliki kemungkinan yang besar untuk menciptakan lompatan tidak konsisten dalam cerita, yang dalam hal ini bisa membuat cerita yang dibangun kurang memuaskan.

Menghindari kesalahan umum pemula

Sebagai penulis pemula memang kita tidak akan bisa lepas dari kesalahan-kesalahan umum, misalnya saja dialog yang kita buat tidak berasas pada sense of realism, atau pengembangan karakter kita lebih bersifat flat dibandingkan round.

Kesalahan-kesalahan ini seringkali membimbing penulis kepada apa yang dianggap dirinya benar namun nyatanya salah. Dampaknya jika si penulis pemula tidak langsung belajar maka besar kemungkinan kesalahanya akan terus terbawa hingga saat ia menjadi penulis besar nanti.

Isa Alamsyah dalam buku 101 Dosa Penulis juga menjelaskan bahwa orang sekaliber Asma Nadia memiliki kesalahan tertentu dalam menulis yang susah dihindari bila tak jeli.

Membangun kebiasaan menulis

Membaca buku belajar menulis penting sebagai upaya membentuk penulis pemula menjadi percaya diri dalam menulis.

Dengan kata lain, membaca buku-buku ini mempercepat proses belajar melalui pengalaman penulis yang sudah lebih dulu terjun di dunia literasi. 

Membaca buku akan serta merta memberikan pengetahuan awal, yang mana pengetahuan tersebut akan berkembang seiring penulis pemula terjun dan menjalani dunia kepenulisan.

Apa Saja Isi Umum Buku Belajar Menulis?

Buku memang adalah gerbang pengetahuan yang paling kredibel sehingga layak dibaca, meskipun pengetahuan di zaman sekarang lebih condong berasal dari AI, namun keberadaan buku tetap tidak terelakkan.

Buku belajar menulis cerita yang baik jelas memiliki cakupan yang luas namun kadangkala juga spesifik, tergantung pada aspek pembahasannya. Sebagian besar buku belajar menulis yang baik biasanya membahas beberapa hal berikut:

  1. Ide dan pengembangan cerita
  2. Karakter dan penokohan
  3. Alur (plot)
  4. Sudut pandang
  5. Dialog
  6. Setting
  7. Editing dasar

Jika sebuah buku mencakup sebagian besar poin di atas, besar kemungkinan buku tersebut cocok untuk pemula.

Kriteria Buku Belajar Menulis yang Cocok Untuk Pemula

Sebelum membeli atau membaca buku untuk belajar menulis setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai antisipasi bahwa nanti tidak membeli buku yang salah. 

Beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan adalah: 

1. Bahasa Mudah Dipahami

Hindari buku yang terlalu akademis jika kamu baru mulai menulis. Alasannya sederhana; menulis lebih cenderung keterampilan yang praktikal dibandingkan teoritikal, kamu membutuhkan buku yang langsung bisa membuat kamu menulis dengan baik dan benar, bukan berteori tentang tulisan mana yang baik dan benar.

Bahasa yang mudah dipahami akan senantiasa membuat kamu bisa menulis dengan mengimplementasikan ilmu yang telah didapatkan.

2. Banyak Contoh

Banyaknya contoh cerita membuat teori yang diberikan penulis lebih mudah dicerna. Jika ingin ditambahkan maka contohnya tersebut mestilah berasal dari contoh-contoh yang baik.

Contoh dalam buku menulis penting sebagai upaya amati-tiru-modifikasi yang dilakukan penulis pemula kepada penulis senior sehingga ilmunya bisa bersanad. Selain itu, keberadaan contoh akan membuat penulis pemula bisa membandingkan tulisannya dengan tulisan orang yang lebih darinya. 

3. Penulisnya Kredibel

Dalam era yang tidak menentu ini semua orang bisa mengaku menjadi apa dan siapa, tinggal menyuruh AI untuk menulis saja. Memang tidak masalah belajar bersama AI, hal yang perlu diingat adalah AI tidak memiliki pengalaman, ia hanya memiliki informasi.

Penulis-penulis kredibel sedari dulu telah memakan pahit dan sakitnya dalam dunia menulis, telah mengalami kesalahan yang telah kita lakukan lebih dahulu, misalnya saja sastrawan A.S. Laksana dalam buku Dialog bercerita bahwa ia pernah menggunakan dialog berlarat-larat sebagai upaya memanjangkan cerita saat menjadi penulis pemula.

Penulis yang kredibel setidaknya bisa memahami apa yang dirasakan penulis pemula seperti kita sehingga saran yang diberikan bisa tepat dan tidak serampangan.

4. Direkomendasikan Penulis Lain

Jika buku tersebut direkomendasikan banyak penulis, besar kemungkinan bahwa buku tersebut tepat untuk dibaca. Kenapa? Sebab para penulis yang telah besar memiliki kecendrungan untuk melihat orang lain bertumbuh.

Dalam hal ini misalnya, Raditya Dika sang penulis humor ikonik Indonesia merekomendasikan buku menulis cerita Creative Writing karya AS Laksana yang merupakan seorang sastrawan terkemuka tanah air.

Jadi perlu sekiranya melihat rekomendasi dan review jujur dari banyak sisi terlebih dahulu.

5. Relevan dengan Kebutuhanmu

Perbandingan yang lain untuk acuan adalah relevansi. Menulis cerita bisa dianggap seperti potongan Pizza atau kepingan puzzle yang mesti disusun agar pengetahuan tersebut menjadi utuh.

Jika pembaca kesulitan dalam menulis dialog, membaca buku menulis dialog lebih baik dibandingkan membaca ulang buku sejenisnya. Jika permasalahannya adalah tidak mampu membuat karakter yang diingat, membaca buku tentang pengembangan karakter cerita akan senantiasa lebih baik.

Ada kalanya membaca buku spesifik lebih baik dibandingkan membaca buku pengantar, hal inilah yang mendasari mengapa saya mengatakan bahwa menulis tidak akan pernah lepas dari kegiatan membaca.

Rekomendasi Buku Belajar Menulis Untuk Pemula

Sebagai seorang yang gemar menulis cerita, saya akan merekomendasikan beberapa buku untuk belajar menulis yang sekiranya bisa menjadi pilihan kepada pembaca bilamana ingin lebih dalam di dunia kepenulisan. 

Berikut beberapa buku yang sering saya direkomendasikan untuk penulis pemula beserta kelebihan dan kekurangannya:

Buku Belajar Menulis
Made by Canva

1. Creative Writing karya A.S. Laksana

Saya pasti akan merekomendasikan buku Creative Writing karya A.S. Laksana jika orang bertanya kepada saya bilamana menanyakan buku yang bagus untuk belajar bagaimana menulis cerita yang baik dan benar.

Buku panduan menulis ini benar-benar sangat bagus! Ia tidak langsung dimulai dengan bagaimana menulis melainkan mindset seorang penulis cerita dan bagaimana seorang penulis semestinya berpikir.

Laksana kemudian menjelaskan beberapa hal tentang otak dan mitos menulis, selepasnya menjelaskan bagaimana cara menulis yang baik.

Contoh yang diberikan A.S. Laksana sangat tepat sebab ia mengambil beberapa referensi dari penulis-penulis yang lebih hebat darinya. Kemudian dari contoh itu beliau menjelaskan kenapa contoh itu berhasil.

Buku ini jelas ringkas dan padat, bahkan bisa dibaca sekali duduk. Namun itu jugalah kekurangannya, seandainya buku ini lebih tebal maka A.S. Laksana bisa memberikan contoh yang lebih banyak dan pembahasan yang lebih luas.

2. 101 Dosa Penulis karya Isa Alamsyah

Buku yang saya rekomendasikan kedua adalah buku 101 Dosa Penulis karya Isa Alamsyah. Buku ini penting dibaca agar penulis pemula langsung bisa belajar dari kesalahan-kesalahan mayoritas penulis.

Ditulis oleh Isa Alamsyah yang merupakan suami author ternama Asma Nadia, melalui buku ini Isa Alamsyah menjelaskan bahwa terdapat banyak sekali kesalahan-kesalahan yang dilakukan penulis sehingga membuat cerita mereka menjadi kurang berbobot.

Isa Alamsyah kemudian memberikan saran supaya para penulis pemula tidak melakukan kesalahan yang sama, yaitu dengan memberikan contoh yang lebih tepat dan lebih bijak.

Buku ini bagus, bagi saya kekurangannya terletak pada kurangnya pembahasan yang lebih panjang tentang perbaikan terhadap ‘dosa dosa penulis itu’. Beberapa aturan juga sebenarnya opsional yang bisa diterapkan atau tidak.

Bagaimanapun, buku ini cocok menjadi pilihan.


3. Making Shapely Fiction karya Jerome Stern

Ditulis oleh penulis barat, buku ini sebenarnya adalah buku yang padat yang mana tulisan di dalamnya akan menautkan kepada tulisan lain di dalam bukunya sehingga kita bisa terus melakukan murajaah sehingga paham apa yang dimaksud Stern.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah Stern memberikan referensi yang sangat banyak dari literature-literature klasik dan populer yang bisa menjadi acuan penulis pemula untuk membacanya.

Kelemahan buku ini adalah karena ia adalah buku terjemahan. Sederhana, namun dampaknya sangat besar karena referensi-referensi yang digunakan Stern adalah karya-karya literature barat yang mana banyak diantaranya belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Karenanya, jika kamu memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus dan bisa membaca novel Inggris, saya sarankan membaca buku ini.

4. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen karya Jakob Sumardjo

Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen ditulis oleh Jacob Sumardjo yang merupakan salah satu editor Kompas pada masanya. Buku ini menjelaskan cerpen yang baik itu seperti apa lengkap hingga bagaimana cara mengirimkannya ke penerbit.

Seperti buku-buku menulis pada umumnya, buku ini memberikan lebih dalam bagaimana sebuah karya tidak hanya persoalan informatif melainkan bagaimana merubahnya ke dalam bentuk cerita yang indah.

Kalimat, diksi, dan lainnya adalah hal yang penting dalam cerpen dan bukanlah hal yang sembarangan, terlebih jika ingin menembus redaksi Kompas yang angker itu. 

Kelemahan buku ini jelas karena ia termasuk buku tua sehingga contoh yang digunakan adalah contoh yang tepat pada masa itu. Meski demikian, beberapa turan dalam bukunya masih universal.


 

5. Save The Cat! Writes a Novel karya Jessica Brody

Mengadaptasi konsep Save The Cat yang awalnya dikenal dalam dunia penulisan skenario film, buku Save The Cat karya Jessica Brody ini sangat populer karena menjelaskan bagaimana menuliskan cerita secara sistematis dari awal hingga akhir.

Buku ini juga menjelaskan bagaimana melakukan pengembangan terhadap karakter sehingga karakter bisa dinilai lebih hidup dan tidak monoton. Menggunakan contoh dari buku-buku populer, Brody memahamkan penulis pemula bahwa gaya tersebut bisa cocok di berbagai genre.

Buku ini jelas memiliki kelebihan yang bagus sebagai buku praktik, namun sama seperti buku Jerome Stern, banyak contoh referensinya berasal dari luar yang mana barangkali penulis Indonesia tidak bisa membacanya .

6. Stephen King on Writing karya Stephen King

Ditulis oleh penulis novel genre horor legendaris asal Amerika, buku ini sebenarnya adalah buku yang cukup personal sekaligus praktis, karena Stephen King tidak hanya membahas teori menulis, tetapi juga menceritakan perjalanan hidupnya sebagai penulis dan bagaimana kebiasaan-kebiasaan menulis itu terbentuk. 

Hal tersebut tentu menempatkan pembaca sebagai orang yang sedang mendengarkan pengalaman langsung dari seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia kepenulisan.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah pendekatan Stephen King yang sangat membumi, yang mana ia tidak memposisikan menulis sebagai sesuatu yang rumit dan eksklusif, melainkan sebagai keterampilan yang bisa diasah dengan disiplin dan latihan. 

Dalam bukunya banyak contoh nyata, pengalaman pribadi, serta prinsip sederhana tentang bahasa, kosakata, dan kejujuran dalam bercerita yang membuat buku ini mudah dicerna oleh penulis pemula.

Kelemahan buku ini adalah sebagian pembahasannya sangat bergantung pada konteks pengalaman pribadi Stephen King. Bagi sebagian pembaca, bagian autobiografinya mungkin terasa cukup panjang dan…bisa jadi membosankan. 

Selain itu, karena buku ini juga merupakan terjemahan, ada kemungkinan nuansa bahasa asli dan gaya khas Stephen King tidak sepenuhnya tersampaikan secara utuh dalam versi bahasa Indonesia.


7. Pengantar Teori Sastra karya Budi Darma

Meski hanya buku pengantar dan bukan buku praktik, namun saya akan tetap merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang ingin belajar menulis. Pengantar teori sastra layak dibaca karena bukunya memberikan pemahaman tentang mana yang baik dan buruk dalam sastra.

Misalnya, apakah moral dalam cerita diperlukan? juga pertanyaan dan informasi mendasar seperti jenis-jenis karakter di dalam cerita dan jenis-jenis alur di dalam cerita.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca dan sebagai orang yang membacanya berani menyarankan buku ini kepada orang lain yang ingin menulis cerita yang selevel sastra.



8. When Author Meets Editor karya Luna Torashyngu dan Donna Widjajanto

Ditulis oleh dua praktisi dunia penerbitan Indonesia, buku ini merupakan buku yang bersifat praktis dan komunikatif karena membahas proses menulis dari dua sudut pandang sekaligus, yaitu penulis dan editor. 

Selain itu, tulisan di dalamnya disusun dalam bentuk dialog dan pembahasan ringan sehingga pembaca dapat memahami dinamika hubungan antara penulis dan editor tanpa merasa sedang membaca buku teori yang kaku.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah perspektifnya yang seimbang. Luna Torashyngu dan Donna Widjajanto memperlihatkan bagaimana sebuah naskah dipandang, dinilai, dan dikembangkan di meja editor, sekaligus menjelaskan harapan-harapan penulis terhadap proses penyuntingan. 

Hal ini sangat membantu penulis pemula untuk memahami bahwa revisi bukanlah bentuk penolakan, melainkan bagian penting dari pematangan karya.

Meskipun demikian, kelemahan buku ini adalah fokus pembahasannya lebih banyak pada proses dan hubungan kerja dibandingkan teknik menulis secara mendalam. 

Bagi pembaca yang mencari panduan struktur cerita atau teknik naratif yang detail, buku ini mungkin terasa kurang lengkap. Namun demikian, sebagai pengantar untuk memahami ekosistem penerbitan dan kerja sama antara penulis dan editor, buku ini layak dibaca.


9. The Emotional Craft of Fiction karya Donald Maass

Ditulis oleh seorang editor dan konsultan penulisan fiksi ternama, buku ini merupakan buku yang cukup padat dan berfokus pada bagaimana emosi bekerja di dalam sebuah cerita. 

Melalui buku ini, Donald Maass menekankan bahwa kekuatan utama fiksi bukan hanya pada alur atau ide, melainkan pada kemampuan cerita dalam membangkitkan perasaan pembaca. Mass mengajak pembaca untuk melihat naskah mereka dari sisi dampak emosi dan bukan sekadar struktur belaka.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah penekanannya pada aspek emosional yang sering terlewat oleh penulis pemula. Donald Maass memberikan berbagai contoh dan latihan yang mendorong penulis untuk menggali lebih dalam konflik batin karakter, ketegangan, serta momen-momen kecil yang dapat memperkuat keterikatan pembaca dengan cerita. 

Melalui cara tersebut penulis akan lebih sadar bahwa detail emosi yang ada di dalam cerita bisa berdampak besar terhadap pembaca dan bisa membuat cerita lebih dikenang.

Kelemahan buku ini adalah bahasanya cenderung konseptual dan menuntut pembaca untuk berpikir cukup intens. Bagi pemula yang masih mencari panduan dasar struktur cerita, buku ini mungkin terasa menantang. 

Selain itu, jika dibaca dalam versi terjemahan, ada kemungkinan nuansa istilah dan kedalaman makna tidak sepenuhnya tersampaikan seperti pada versi aslinya.

10. Writing Tools karya Roy Peter Clark 

Writing Tools ditulis oleh Roy Peter Clark yang mana di Amerika dikenal sebagai maestro coach kepenulisan. Ia telah banyak menulis buku tentang menulis, dan buku ini adalah salah satunya.

Buku ini berisi kumpulan prinsip dan teknik dasar yang dapat diterapkan dalam berbagai jenis tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. 

Roy Peter Clark menyajikan pembahasan dalam bentuk poin-poin praktis yang mudah dipahami, sehingga pembaca dapat langsung mencoba menerapkannya dalam proses menulis sehari-hari.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah sifatnya yang sangat aplikatif. Setiap 'alat' atau 'tool' yang dimaksud dibahas disertai penjelasan singkat dan contoh, sehingga penulis pemula tidak hanya memahami konsep, tetapi juga tahu bagaimana cara menggunakannya. 

Karenanya, buku ini membantu membangun kesadaran terhadap pilihan kata, kalimat, dan struktur paragraf, yang merupakan fondasi penting dalam menulis.

Kelemahan buku ini adalah fokusnya lebih pada keterampilan bahasa dan gaya penulisan dibandingkan pengembangan cerita atau struktur naratif yang kompleks. Bagi penulis yang mencari panduan khusus untuk membangun plot atau karakter, buku ini mungkin terasa kurang mendalam. 

Selain itu, sebagai buku terjemahan, ada kemungkinan sebagian nuansa gaya bahasa asli Roy Peter Clark tidak sepenuhnya tersampaikan dalam versi bahasa Indonesia.



11. Mengarang Novel itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto

Ditulis oleh salah satu sastrawan dan penulis senior Indonesia, buku ini merupakan buku pengantar menulis yang bersifat ringan, komunikatif, dan relevan kepada penulis pemula. 

Arswendo Atmowiloto dalam buku ini menyampaikan gagasan tentang menulis menggunakan bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian, sehingga pembaca tidak merasa sedang digurui. 

Karenanya buku ini seolah mengajak pembaca untuk melihat menulis sebagai aktivitas yang akrab, bukan sesuatu yang menakutkan.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah kemampuannya mematahkan anggapan bahwa menulis itu sulit. Arswendo menekankan pentingnya kepekaan terhadap sekitar, keberanian memulai, serta kebiasaan mencatat hal-hal kecil sebagai bahan tulisan. Pendekatan ini sangat membantu pemula yang sering terhambat oleh rasa takut atau merasa tidak berbakat dalam menulis cerita.

Namun demikian, kelemahan buku ini terletak pada pembahasannya yang tidak terlalu teknis dan mendalam. 

Buku ini lebih berfungsi sebagai pemantik semangat dan cara pandang terhadap aktivitas menulis, bukan sebagai panduan langkah demi langkah yang detail. Memang sebagai buku awal untuk menumbuhkan minat dan keberanian menulis, Mengarang itu Gampang memiliki peran yang cukup kuat sehingga bisa dijadikan bacaan awal.

12. Creating Character Arcs karya K.M. Weiland 

Ditulis oleh penulis dan pengajar penulisan fiksi asal Amerika, buku ini merupakan buku yang berfokus pada pengembangan karakter, khususnya bagaimana sebuah tokoh mengalami perubahan sepanjang cerita. 

K.M. Weiland membahas konsep character arc secara sistematis mulai dari kondisi awal karakter, konflik batin yang dihadapi, hingga titik perubahan yang membuat tokoh berkembang atau justru jatuh. Penyajiannya cukup terstruktur sehingga mudah diikuti oleh pembaca.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah kedalaman pembahasannya tentang psikologi karakter dan hubungan antara perubahan tokoh dengan alur cerita. 

Dalam buku ini K.M. Weiland tidak hanya menjelaskan jenis-jenis character arc melainkan menunjukkan bagaimana arc tersebut memengaruhi keputusan tokoh, konflik, dan resolusi cerita. 

Hal tersebut jelas dapat membantu penulis pemula memahami bahwa karakter yang kuat tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama cerita.

Kelemahan buku ini adalah sifatnya yang cukup konseptual dan detail, sehingga membutuhkan konsentrasi lebih saat membacanya. Bagi pemula yang masih mencari gambaran umum tentang menulis fiksi, buku ini mungkin terasa berat di awal. 

Selain itu, jika dibaca dalam versi terjemahan, ada kemungkinan sebagian istilah teknis dan nuansa penjelasan tidak sepenuhnya tersampaikan seperti pada versi aslinya.

13. Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu karya Winna Efendi

Ditulis oleh penulis Indonesia yang aktif berkarya di ranah fiksi, buku ini merupakan buku panduan menulis yang berfokus pada tahap awal proses kreatif, khususnya bagaimana memulai dan menyelesaikan draf pertama sebuah karya fiksi. 

Winna Efendi menyampaikan pembahasan dengan bahasa yang ringan dan komunikatif, sehingga pembaca pemula dapat mengikuti alurnya tanpa merasa terbebani oleh istilah teknis yang rumit.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah penekanannya pada pentingnya menyelesaikan tulisan, bukan mengejar kesempurnaan sejak awal. Buku ini membantu pembaca memahami bahwa draf pertama memang wajar jika masih berantakan, dan justru menjadi fondasi untuk proses revisi berikutnya. 

Dalam buku ini terdapat banyak tips praktis tentang mengelola ide, membangun kebiasaan menulis, serta menjaga motivasi agar tidak berhenti di tengah jalan.

Kelemahan buku ini adalah pembahasannya yang lebih menitikberatkan pada proses dan mentalitas menulis dibandingkan teknik naratif yang mendalam. 

Bagi pembaca yang mencari panduan detail tentang struktur plot, sudut pandang, atau pengembangan karakter secara teknis, buku ini mungkin terasa kurang lengkap. Namun demikian, sebagai panduan awal untuk menaklukkan draf pertama, buku ini memiliki tips yang sangat membantu.

14. Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis karya Ayu Utami

Ayu Utami dikenal sebagai penulis sastra Indonesia yang dikenal dengan pemikiran kritis dan reflektifnya, bahkan menjadi salah satu sastrawan perempuang paling berpengaruh di tanah air.

Melaui buku Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme ini Ayu Utami mengajak pembaca melihat aktivitas menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sebagai proses kesadaran, perenungan, dan pencarian makna. Gaya penulisannya cenderung kontemplatif dan mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, lalu berpikir lebih dalam.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah pendekatannya yang unik. Ayu Utami tidak hanya berbicara tentang cara menulis, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membangun cara berpikir yang terbuka, kritis, dan jujur terhadap diri sendiri. 

Buku ini mendorong pembaca untuk memahami sumber kreativitas, keberanian menyuarakan gagasan, serta hubungan antara pengalaman hidup dan tulisan.

Kelemahan buku ini adalah pembahasannya yang cukup konseptual dan tidak selalu langsung pada teknik menulis praktis. Bagi pemula yang mencari panduan langkah demi langkah tentang struktur cerita atau teknik dasar, buku ini mungkin terasa berat. 

Namun demikian, sebagai bacaan untuk memperluas cara pandang dan memperdalam kesadaran kreatif, buku ini layak dibaca.

15. Cara Menulis Kreatif karya Jabrohim, Chairul Anwar, dan Suminto A. Sayuti

Ditulis oleh para akademisi dan praktisi sastra Indonesia, buku ini merupakan buku panduan menulis yang bersifat cukup sistematis dan teoritis, dengan fokus pada pengenalan dasar-dasar menulis kreatif.

Jabrohim, Chairul Anwar, dan Suminto A. Sayuti membahas berbagai aspek penting dalam penulisan karya sastra, seperti puisi, cerpen, dan drama, dengan pendekatan yang terstruktur dan runtut.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah kelengkapan materinya. Buku ini tidak hanya membahas satu jenis tulisan, tetapi memberikan gambaran umum tentang berbagai bentuk karya kreatif beserta unsur-unsurnya. 

Hal tersebut jelas membantu pemula memahami peta besar dunia menulis kreatif sebelum memilih bidang yang ingin digeluti lebih dalam.

Kelemahan buku ini adalah gaya penyajiannya yang cenderung akademis. Bagi sebagian pembaca pemula, bahasa dan istilah yang digunakan mungkin terasa agak berat. Saya pun tidak menyarankan membaca buku ini karena terlalu akademis.

Selain itu permasalahannya terletak pada cabang dari menulis kreatif sehingga jika tujuannya adalah belajar menulis cerpen atau novel, buku ini dirasa tidak terlalu layak dibaca. 

Buku ini juga lebih banyak berfokus pada konsep dasar dibandingkan latihan praktis yang detail sehingga buku ini cocok untuk akademisi, namun untuk penulis pemula, tidak terlalu.


16. On Writing Well karya William Zinsser

Ditulis oleh seorang penulis dan editor berpengalaman asal Amerika, buku ini merupakan buku klasik tentang penulisan nonfiksi yang menekankan kejernihan, kesederhanaan, dan ketepatan bahasa. 

William Zinsser mengajak pembaca untuk memahami bahwa tulisan yang baik bukanlah tulisan yang rumit, melainkan tulisan yang jujur, bersih, dan mudah dipahami. Gaya penyampaiannya lugas dan penuh nasihat praktis yang relevan untuk berbagai jenis penulis.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah fokusnya pada penyederhanaan. Zinsser banyak membahas bagaimana memangkas kata-kata yang tidak perlu, memilih diksi yang tepat, serta membangun kalimat yang efektif. 

Prinsip-prinsip ini sangat membantu penulis pemula untuk membentuk fondasi gaya menulis yang rapi dan jelas, terutama bagi mereka yang tertarik pada esai, artikel, atau nonfiksi kreatif.

Kelemahan buku ini adalah cakupannya yang lebih sempit pada ranah nonfiksi. Bagi penulis yang ingin mempelajari teknik menulis fiksi secara spesifik, buku ini mungkin terasa kurang relevan. 

Selain itu, sebagai buku terjemahan, ada kemungkinan sebagian nuansa gaya bahasa khas William Zinsser tidak sepenuhnya tersampaikan dalam versi bahasa Indonesia. 



17. 31 Kisi-Kisi Menulis: Panduan Mudah Menulis Renyah oleh Pepih Nugraha

Ditulis oleh jurnalis dan penulis senior Indonesia, buku ini merupakan kumpulan gagasan dan panduan singkat tentang dunia kepenulisan yang disajikan dalam bentuk poin-poin atau kisi-kisi. Pepih menulis banyak buku tentang menulis, dan semuanya layak dibaca.

Melalui buku ini, Pepih Nugraha membahas menulis dari sudut pandang pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik dan literasi, sehingga pembaca mendapatkan gambaran praktis tentang bagaimana menulis sebagai keterampilan sekaligus profesi.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah sifatnya yang ringkas dan langsung pada inti. Setiap kisi-kisi berisi nasihat yang mudah dipahami dan dapat segera diterapkan, mulai dari sikap mental penulis, kebiasaan menulis, hingga cara memandang karya sendiri. 

Pendekatan ini sangat membantu pemula yang membutuhkan panduan sederhana tanpa harus membaca teori yang terlalu panjang.

Kelemahan buku ini adalah kedalaman pembahasan tiap poin yang relatif singkat. Bagi pembaca yang menginginkan penjelasan detail atau contoh panjang, buku ini mungkin terasa kurang memadai. 



18. Handbook of Writing oleh Nurhadi

Ditulis oleh akademisi Indonesia yang lama berkecimpung di bidang bahasa dan pendidikan, buku ini merupakan buku panduan menulis yang bersifat cukup komprehensif dan sistematis. 

Nurhadi membahas menulis sebagai keterampilan berbahasa yang mencakup berbagai jenis tulisan, baik akademik maupun nonfiksi umum, dengan penjelasan yang terstruktur dan runtut. Gaya penyajiannya cenderung formal, namun tetap jelas dalam memaparkan konsep.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah kelengkapan cakupan materinya. Buku ini membahas proses menulis dari tahap prapenulisan, penyusunan kerangka, pengembangan paragraf, hingga revisi dan penyuntingan. 

Hal ini membantu pembaca pemula memahami bahwa menulis adalah sebuah proses bertahap, bukan aktivitas sekali jadi.

Kelemahan buku ini adalah fokusnya yang lebih condong ke ranah akademik dan nonfiksi dibandingkan penulisan kreatif. Bagi pembaca yang ingin belajar menulis cerpen atau novel, buku ini mungkin terasa kurang relevan secara langsung. 


19. Sentence Writing : Eksplorasi Model Dan Latihan karya Otong Setiawan Djuharie

Ditulis oleh akademisi dan praktisi pendidikan bahasa, buku ini merupakan buku panduan menulis yang berfokus pada keterampilan menyusun kalimat secara efektif. 

Otong Setiawan Djuharie membahas berbagai model kalimat beserta latihan-latihan yang dirancang untuk melatih kepekaan pembaca terhadap struktur, variasi, dan kejelasan kalimat. Penyajiannya cukup sistematis dan berorientasi pada pembelajaran bertahap.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah fokusnya yang spesifik pada level kalimat. Buku ini membantu penulis pemula memahami bahwa kualitas tulisan sangat ditentukan oleh kualitas kalimat-kalimat penyusunnya. 

Melalui contoh dan latihan, pembaca diajak untuk bereksperimen dengan berbagai pola kalimat sehingga tulisan menjadi lebih hidup dan tidak monoton.

Kelemahan buku ini adalah ruang lingkupnya yang terbatas pada aspek mikro, yaitu kalimat. Buku ini tidak banyak membahas pengembangan paragraf, alur, atau struktur tulisan yang lebih besar. Bagi penulis yang mencari panduan menulis cerita atau esai secara utuh, buku ini perlu dilengkapi dengan bacaan lain. 

20. Panduan Menulis Buku Cerita Anak karya Bambang Triansyah

Ditulis oleh praktisi dan pemerhati literasi anak, buku ini merupakan panduan yang secara khusus membahas proses menulis cerita untuk anak-anak, mulai dari perencanaan ide hingga penyajian cerita yang sesuai dengan dunia pembaca muda. 

Bambang Triansyah menyusun pembahasan dengan bahasa yang cukup sederhana dan terarah, sehingga mudah dipahami oleh penulis pemula yang ingin masuk ke ranah sastra anak.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah fokusnya yang spesifik pada karakteristik cerita anak. Buku ini membahas hal-hal penting seperti pemilihan tema yang sesuai usia, penggunaan bahasa yang sederhana, pembangunan karakter yang dekat dengan dunia anak, serta penyampaian pesan moral tanpa terkesan menggurui. 

Pendekatan ini membantu penulis memahami bahwa menulis untuk anak membutuhkan kepekaan tersendiri, berbeda dengan menulis untuk pembaca dewasa.

Meski demikian, buku ini juga memiliki kelemahan. Kelemahan buku ini adalah pembahasannya lebih menekankan pada prinsip dan gambaran umum dibandingkan teknik naratif yang sangat mendalam. 

Bagi pembaca yang sudah memiliki dasar kuat dalam menulis fiksi, sebagian materi mungkin terasa cukup dasar. Namun demikian, sebagai buku pengantar untuk memahami dunia penulisan cerita anak, Panduan Menulis Buku Cerita Anak ini layak dibaca.

21. Rahasia Sebuah Cerita oleh Veronica W.

Ditulis oleh penulis Indonesia yang aktif di dunia kepenulisan fiksi, buku ini merupakan buku panduan menulis yang berfokus pada unsur-unsur dasar pembentuk sebuah cerita. 

Veronica W. menyampaikan materi dengan bahasa yang cukup ringan dan sistematis, sehingga pembaca pemula dapat memahami konsep-konsep penting seperti ide, karakter, konflik, dan alur tanpa merasa terbebani.

Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lainnya adalah cara penjelasannya yang praktis dan langsung pada inti persoalan. 

Dalam buku ini Veronica W. menguraikan bagaimana sebuah cerita bisa terasa hidup melalui pengelolaan konflik, emosi, dan motivasi tokoh. Buku ini juga membantu pembaca melihat bahwa cerita yang menarik tidak selalu harus rumit, melainkan harus memiliki fondasi yang kuat dan konsisten.

Sementara itu, kelemahan buku ini adalah kedalaman pembahasannya yang masih bersifat pengenalan. Bagi penulis yang sudah berada di tingkat menengah dan mencari eksplorasi teknik lanjutan, buku ini mungkin kurang cocok. 


Cara Menggunakan Buku Belajar Menulis Agar Lebih Efektif

Berdasarkan pengalaman saya, setidaknya terdapat beberapa cara menggunakan buku belajar menulis agar lebih efektif, diantaranya adalah

1. Mengetahui Permasalahan Menulis Kamu Apa

Meskipun kita adalah penulis pemula, pasti ada beberapa kemampuan dasar yang kita miliki terkait kepenulisan, karenanya memahami hal tersebut jauh lebih baik agar kita bisa membangun kemampuan yang utuh.

Setidaknya perlu membagi bagian-bagian cerita seperti dialog, plot, karakter, setting, dan lainnya sehingga kita bisa mempelajari hal tersebut perlahan-lahan, satu demi satu.

Namun jikalau pembaca sangat kurang dalam hal ini dan tidak memiliki dasar, membaca pengantar atau memilih buku yang saya sarankan di atas tidak terlalu buruk, yang terpenting adalah praktik.

2. Menulis Cerita Terlebih Dahulu

Dibandingkan teori, kemampuan menulis cerita jauh lebih baik bersifat praktik. Namun praktik tentu tidak akan tepat sebab kita tidak akan tahu mana yang lebih baik dan benar.

Karenanya, saya sarankan menulis cerita dulu. Kedua, membaca buku dan kemudian memperhatikan apakah cerpen yang kamu tulis sesuai dengan apa yang termaktub dalam buku? Jika tidak, bisa revisi. 

3. Mencatat Poin Penting

Buku panduan menulis seringkali memberikan beberapa aturan kepenulisan; catat poin-poin penting itu. Hal tersebut penting agar kita tidak lupa dan sebisa mungkin terikat dengan aturan basicnya.

Sebagai penulis pemula, tentu kita sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam menulis meski telah membaca bukunya karena lupa. Hal itulah yang mendasari mengapa penting untuk menulis poin-poin substantif.

4. Mencoba Teknik Kepenulisan yang Ada di dalam Bab

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, menulis lebih cenderung bersikap praktik dibandingkan teori. Buku panduan menulis hanya akan berguna bilamana kita menerapkan isinya. 

Oleh sebab itu terkadang alih-alih membaca seluruh buku, membaca satu bab yang sekiranya penting jauh lebih baik bilamana langsung dipraktikkan sehingga kita bisa menciptakan 1 cerpen yang kita anggap baik dulu.

Misalnya teknik Show don’t Tell tidak bisa hanya sebagai teori tanpa mencoba membuat cerpen yang bersifat show don’t tell begitu.

Jika ingin lebih dalam mengetahui bagaimana membaca yang baik dan benar, saya sarankan membaca buku How To Read A Book karya Mortimer J. Adler.


Kesalahan Umum Pemula Saat Belajar Menulis

Sebagai orang yang dulu berkecimpung di dunia kepenulisan sejak SMP, membaca buku kepenulisan, dan seringkali mengoreksi tulisan teman sendiri, setidaknya terdapat beberapa kesalahan umum penulis pemula saat belajar menulis. 

Beberapa kesalahan tersebut diantaranya:

Terlalu fokus sempurna di draft pertama

Ini juga adalah kesalahan saya dulu sebagai seorang penulis. Dahulu sekali saya merasa bahwa tulisan mestilah sempurna, namun ternyata itu mustahil. 

Karya pertama kita mustahil untuk sempurna karena kita baru belajar, seolah menyuruh bayi untuk berlari sehingga bukan hanya tidak bisa, tetapi juga membunuhnya.

Untuk tulisan yang pertama, menulis yang penting jadi jauh lebih baik dibanding menulis sempurna namun karya itu tidak pernah ada. Seiring pengetahuan dan pengalaman menulis kita bertambah, karya kita akan menyempurna pula.

Mudah menyerah

Dahulu sekali saya sering menulis novel, namun tidak ada satupun novel saya yang pada akhirnya lengkap ceritanya. Seringkali saya menulis novel setengah-setengah dan kemudian membuat cerita lain dan menulisnya dari awal lagi.

Teman saya sampai bertanya “Mengapa novel keduanya sudah ada sebelum novel pertama selesai?” Saya pun bingung dan tidak bisa menjawabnya.

Dibandingkan cepat atau sempurna, menulis novel lebih menekankan kepada konsistensi dan tahan banting. Menulis seumpama menjadi dewasa yang tidak akan pernah ada akhirnya.

Terlalu banyak teori tanpa praktik

Sesuatu itu pasti sempurna jika ia masih di dalam gagasan, namun ketika gagasan itu diwujudkan dalam karya, ia seringkali menjadi tidak sempurna. Karenanya kita mesti sadar bahwa realita dan keinginan ideal kita susah beriringan.

Berdasarkan tersebut perlu diketahui bahwa teori dan praktik sering sejalan, karenanya keduanya mesti seimbang. Terlalu banyak teori tanpa praktik hanya akan membuat menulis menjadi pekerjaan angan-angan, sementara praktik tanpa teori hanya akan membuat kita berjalan lambat dan bisa jalan di tempat. 


Apakah Harus Membeli Banyak Buku Panduan Menulis Untuk Bisa Menulis?

Untungnya, tidak. Kemampuan menulis memang bisa bertambah dan menajam jika kita memiliki buku-buku yang spesifik tentang kepenulisan, namun itu tidak akan terlalu berguna jikalau kita tidak membacanya.

Karena menulis lebih cenderung ke praktik dibandingkan teori, saya menyarankan membaca 1 atau 2 buku tentang kepenulisan yang bisa dipraktikkan. Bacalah buku tersebut hingga tuntas dan kemudian jadikan patokan kepenulisan.

Saya pribadi menggunakan buku Creative Writing karya A.S. Laksana sebagai buku pedoman, yang mana buku tersebut saja sudah bisa membuat tulisan saya yang sangat buruk menjadi tidak buruk-buruk amat.

Sekarang saya masih dalam proses menyusun buku antologi cerpen pertama saya yang bertemakan kesehatan mental, semoga kalian suatu saat nanti membacanya.

Mengapa cerpen, bukan novel? Saya mengambil saran pak Jacob Sumardjo dari bukunya Catatan Kecil Menulis Cerpen, hehe.

Penutup

Belajar menulis novel dan cerpen adalah perjalanan panjang, ia lebih seperti catatan proses bertumbuh sehingga kesalahan kecil sedikitpun akan sangat berarti.

Banyak orang yang menulis, beberapa terkenal, sebagiannya lagi tidak. Karenanya dengan memilih buku belajar menulis yang tepat, kita telah mengambil langkah awal yang besar untuk memijaki lebih jauh.

Aku tahu kalau kamu ingin menulis dengans sempurna, namun percayalah bahwa menulis lebih ke persoalan konsistensi dan tahan banting. Karenanya mulai mulailah dari memabca satu buku, menulis satu cerita pendek, dan lakukanlah setiap hari.



cara belajar menulis novel

buku untuk belajar menulis

buku tulis untuk belajar menulis

belajar menulis novel untuk pemula

belajar membuat novel

belajar menulis novel

buku belajar menulis

rekomendasi buku belajar menulis

Posting Komentar untuk "Buku Belajar Menulis untuk Pemula: Panduan Memilih & Rekomendasi Buku Terbaik"