Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Kamu Seorang Driver atau Passenger? Review Buku Self Driving karya Rhenald Kasali

 Review Buku Self Driving by Rhenald Kasali

Self Driving, buku yang dikarang oleh Rhenald Kasali memberikan sebuah insight tentang bagaimana orang-orang cenderung bersikap dalam organisasi, komunitas, perusahaan, negara, bahkan dirinya sendiri. Sikap tersebut cenderung ada diantara dari dua karakter berikut, yaitu karakter passenger (penumpang) dan  karakter driver (pengemudi). 

Istilah tersebut diberikan Rhenald Kasali sebab bagi beliau, baik negara, perusahaan, komunitas, organisasi, bahkan diri pribadi diibaratkan sebuah kendaraan yang dikendarai, dan kendaraan adalah benda mati yang hanya akan berfungsi bila digerakkan. 

Namun seperti sebuah kendaraan, akan selalu ada driver dan passenger, akan selalu ada pengemudi dan penumpang, akan ada orang yang digerakkan, dan akan ada orang yang menggerakkan. Tentunya ada perbedaan yang mendasar diantara keduanya, khususnya dalam segi mental.

Passenger seperti namanya adalah penumpang. Dalam organisasi maupun komunal mereka hanya ikut-ikutan, mereka seumpama penumpang kendaraan yang diarahkan oleh driver. Sementara itu, driver jelas adalah seorang pengarah, ia tahu harus kemana dan lewat jalan yang mana. 

Driver bahkan tidak boleh mengantuk, ia mesti terjaga, terjaga dalam artian bilamana ia lalai maka kendaraannya akan  menabrak dan atau ditabrak.

Kita sudah tentu tahu kepribadian seperti apa yang bisa membentuk suatu kendaraan bisa benar-benar berguna dalam mengatasi segala medan, yaitu seorang driver. Pun,  kita jelas dapat berkoar-koar kalau diri kita adalah seorang driver. Namun benarkah demikian?

Jika kita bisa mengontrol diri dan benar-benar mengontrol diri, maka tidak ada salahnya untuk mengatakan diri kita bermental driver, hanya saja mental driver selalu identik dengan impact atau dampak besar yang diberikan kepada lingkungan sosial, maka pertanyaannya adalah; dampak seperti apa yang telah kamu berikan kepada orang lain? Kepada dunia?

Review Buku Self Driving by Rhenald Kasali
Cover buku Self Driving (Diambil dari internet)


Sedikit Memahami Tentang Karakter Seorang Driver

Bagi Rhenald Kasali, orang-orang yang bermental driverlah yang memiliki kompetensi untuk membawa dunia kearah yang baru, membawa perubahan dan peradaban, serta membawa inovasi-inovasi yang dapat merubah nasib suatu kaum. 

Hanya saja, seorang self driver tidak serta merta terjadi dan terlahir, ia bukanlah bakat maupun takdir sebagaimana pengangkatan nabi-nabi, driver adalah sebuah karakter yang dapat dibentuk dan dapat dilatih. Bahkan, orang-orang yang memiliki dan akan memiliki kemampuan semacam ini juga bisa dilihat dan dirasa.

Dalam sebuah organisasi misalnya, orang yang memiliki kompetensi driver dapat dilihat dari mereka yang berani bersuara dan menyampaikan gagasan, dan jika mendapatkan posisi strategis, mereka dapat dilihat melalui tindakan dan kemampuan dalam mengambil sikap serta memberikan arah di setiap jalan maupun langkah yang diambilnya.

Menjadi seorang Driver berarti  bertanggungjawab, dan sebagaimana pengemudi kendaraan, mereka mesti selalu awas dan tidak boleh mengantuk sebab dapat membahayakan orang-orang yang dibawanya. 

Dalam kasus pribadi, setiap manusia yang memiliki karakter driver tidak boleh lengah dan terpedaya oleh keadaan, mereka wajib terbangun di segala kondisi sebab di dalam dirinya terdapat impian, harapan, serta potensi yang harus terus ia gali.

Menjadi seorang driver berarti menjadi seorang yang tangguh, dan bahkan bisa saja dibenci karena mesti berkelok-kelok pada medan yang tidak menentu. 

Menjadi seorang driver adalah penerimaan terhadap diri sendiri serta berani mengambil jalan sepi dan sendirian dalam langkah yang sepi itu, mengapa? Sebab menjadi driver berarti berbeda dengan kebanyakan orang-orang sebab para driver pasti memiliki prinsip dan pendirian.

Sebuah organisasi, perusahaan, maupun komunitas menurut Rhenald Kasali mesti dipimpin oleh seorang driver sebab tanpanya organisasi tersebut akan mati. Bahkan sebenarnya tindakan-tindakan driver bisa dilakukan oleh passenger, hanya saja yang membedakan adalah bahwa orang yang memiliki sikap driver berani mengabil tanggung jawab sepenuhnya serta kemudian berani mengambil resiko. Sementara itu, orang yang memiliki sifat passenger cenderung menunda dan memiliki banyak alasan, serta cenderung menyalahkan keadaan.

Apakah Organisasi Kita Diisi Driver?

Sayangnya, dalam organisasi, komunitas, maupun perusahaan orang-orang cenderung bermental passenger. Bermental passenger berarti hanya numpang nama, ia tidak mau repot-repot mengambil peran dan hanya mau ngekor dibelakang. Mereka buta terhadap keadaan sekitar, dan pun jika melihat sesuatu yang sebenarnya bisa mereka rubah, mereka cenderung abai serta tidak mau mengambil peran.

Bagi passenger, masalah-masalah bukanlah tanggung jaawab mereka, dan oleh sebab itu mereka merasa tidak mesti berkontribusi. Dilain sisi, mereka selalu mempertanykan kepada diri mereka; apa yang aku dapatkan? Sementara orang orang yang bermental Driver cenderung berpikir; apa hal yang dapat aku berikan kepada orang lain? Perbedaan mindset ini membuat driver hidup untuk memberi makna, sementara passenger hidup hanya untuk numpang ketawa.

Sayangnya, banyaknya mental passenger membuat banyak komunitas yang semestinya potensial dan dapat bertumbuh menjadi mati. Kasali berpendapat bahwasanya keamatian suatu organisasi dikarenakan orang-orang di dalamnya tidak memiliki keinginan untuk berubah, seolah katak yang terendam dalam air yang perlahan panas, ia tidak sadar bahwa air itu perlahan membunuh mereka.

Adanya mental passenger di dalam suatu organisasii bisa menjadi suatu penghambat, terlebih bilamana passenger mendapatkan sebuah tempat yang strategis, yang mana akan membuat orang-orang di dalamnya juga ikut menjadi seorang passenger. 

Misalnya saja, anggapkalah sebuah divisi diisi oleh orang-orang yang kompeten, namun sebab ketua divisi tersebut bermental passenger, maka potensi dari orang-orang di dalamya juga mati, hingga pada akhirnya, orang-orang yang bermental driver menjadi ikut bermental passenger karena lingkungannya tersebut.

Namun kita telah berbicara tentang mental passenger dan driver terlalu lama. hal yang perlu kita pertanyakan adalah; apa perbedaan dari keduanya? Mengapa itu sangat penting? 

Perbedaan Driver dan Passenger

Setidaknya, Kasali menjelaskan bahwanya orang-orang yang memiliki mental driver adalah orang yang bisa memiliki disiplin, memiliki keinginan untuk melakukan perubahan secara ambisius, berani mengambil resiko, tidak suka menunda, dan memiliki keberanian untuk menjadi berbeda dan memberikan jalan.

Orang yang memiliki mental driver adalah orang tangguh yang tidak boleh mengantuk, mereka tidak boleh lengah maupun terdistraksi sebab tanggung jawab dan kekuatan, serta nasib orang banyak ada di dalam dirinya. Orang bermental driver tahu akan menjadi apa dan menuntun dirinya ke arah yang ia mau tersebut.

Sementara itu, passenger adalah kebalikannya. Mereka memilikirkan dirinya sendiri, mereka tidak mau mengambil peran dan merasa bahwa itu bukan tanggung jawab nya. Mereka selalu memiliki alasan dan menunda nunda akan sesuatu, mereka tidak memiliki target maupun deadline, bahkan mereka tidak disiplin. 

Orang-orang passenger sering kita temui, mereka haya bisa omon-omon tanpa memberikan sebuah dampak, selalu berbicara tentang hal yang semestnya begini dan semestinya begitu, dan menuntut orang lain harus melakukan apa yang ia mau. 

Orang bermental passenger hanya bisa menjadi ekor, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungakapkan apa yang ia inginkan, apalagi melaksanakannya. Ia cenderung menjadi penyusah dan tanpa suruhan, mereka tidak akan bergerak. Hematnya, orang yang bermental passenger bukanlah orang yang berani mengambil insisiatif.

Pada Akhirnya?

Pada akhirnya, kita mesti sadar bahwa dunia kita dirubah oleh orang-orang yang bermental driver. Jika bisa mengutip buku Pendidikan Yang Membebaskan karya Paulo Friere bahwasanya manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa memberikan makna pada sejarah hidupnya.

Sayangnya, sebagaimana ucap pak Rhenald Kasali, selalu ada driver dan passenger. Passenger tentu tidak memiliki kekuatan dalam memberikan makna pada hidupnya sendiri, seringkali oranglah yang memberikannya makna.

Sebab hidup dan memilih adalah kebebasan, kamu memiliki hak untuk menjadi driver maupun passenger.


Identitas Buku

Judul Buku:

Penulis :

Editor:

ISBN : 

Lain kali tak isi, bukunya di rumah.


Sekian review buku Self Driving. Sahabat bisa membaca review buku lainnya dengan mengklik link berikut: Review Buku.

Posting Komentar untuk "Apakah Kamu Seorang Driver atau Passenger? Review Buku Self Driving karya Rhenald Kasali"