Everybody Lies Review: Big Data, Google, dan Kebohongan Manusia
Everybody Lies Review: Big Data, Google, dan Kebohongan Manusia
Membaca buku Everybody Lies karya
Davidowitz membuat saya mengingat ucapan Mia Khalifa—mantan bintang film pornografi—ketika
diwawancarai. Mia Khalifa yang sudah tobat dari dunia perfilman pornografi
sering mendapati kritik oleh banyak orang, dan Mia Khalifa menjawab, “Mengapa
mereka mengkritisi? Mereka juga menonton film itu”.
Sederhana, namun hal tersebut mengungkapkan
banyak hal tentang bagaimana dunia bekerja, tepatnya, bagaimana kita sebagai
manusia memiliki lapisan kebohongan kita sendiri.
![]() |
| Cover buku Everybody Lies |
Dalam buku ini Davidowitz menjelaskan
bagaimana dunia telah bertransformasi, dan bagaimana di zaman sekarang hingga
di masa depan manusia yang akan menang ditentukan dari bagaimana mereka
memiliki data.
Namun persoalan data ini, ada
yang unik. Ternyata, semua yang kita miliki adalah data. Apapun itu, apapun
yang kita lihat, apapun yang kita rasa, dan bahkan, apapun yang kita ketahui
dan tidak kita ketahui.
Sebagai seorang pakar di bidang
data, Davidowitz menjelaskan bahwa seringkali kita berfokus pada data yang
terlihat, apa yang ada, namun kita seringkali lupa bahwa data sebenarnya juga
adalah adalah apa yang tidak terlihat.
Mengapa demikian?
Semua Orang Berbohong
Kita berbohong dengan apa yang
kita tampilkan di internet, dan bahkan, kita berbohong dengan apa yang kita
tampilkan kepada orang lain. Seumpama kita memiliki topeng, kita tidak mau
orang melihat wajah asli dari yang kita sembunyikan.
Kita juga berbohong dengan data
maupun survei yang kita isi ketika ada peneliti yang meminta agar kita mengisi
surveinya. Kita, berbohong pada banyak hal. Kita mengkritisi suatu namun
menjadi bagian darinya.
Benarkah kita berbohong?
Salah satu hal yang menjelaskan
fenomena ini adalah kasus News Feed Facebook yang membuat banyak publik marah.
Kemarahan mereka jelas berdasar, karena Facebook dengan kebaruannya itu seolah
merusak privasi masyarakat.
Facebook membuat orang menjadi
tahu kegiatan orang lainnya, bahkan menjadi tahu begitu banyak. Hilangnya sekat
privasi ini membuat adanya gerakan dari masyarakat untuk menentang hal
tersebut.
Namun Mark Zuckenberg tidak
peduli. Mengapa? Karena ia mengetahui ‘yang sebenarnya’.
Faktanya selepas Zuckenberg
mengeluarkan kebaharuan tersebut, lebih banyak orang yang mengunjungi Facebook,
jauh lebih banyak dibandingkan sebelum kebaharuan itu dibuat.
Pada Agustus terdapat 12 Miliar orang
yang melihat halaman Facebook, namun per Oktober, dengan beroperasinya News
Feed, mereka melihat 22 halaman.
Hal tersebut menjelaskan bahwasanya
apa yang ditampilkan masyarakat di publik terkadang tidak sesuai dengan
kenyataan yang ada sebenarnya.
Netflix
Pada awalnya Netflix membuat fitur
wishlist bagi penontonnya, dan hebat sekali, meski fitur itu mendapati banyak
pujian, namun data yang ditemukan Netflix malah aneh.
Orang di Netflix membuat wishlist
yang keren, tentang film dokumenter, tentang cinema berkualitas, namun apakah
orang kemudian menonton wishlistnya tersebut? Nyatanya, tidak.
Pengguna Netflix malah lebih
sering terjatuh pada drama recehan, menontonnya dan bahkan tidak pernah
menggubris wishlist film keren itu. Apa artinya? Artinya, mereka berbohong
dengan list yang mereka buat. List itu hanya sebagai topeng bahwa mereka ingin
dikenal sebagai penikmat film serius dan berat.
Karena hal tersebut Netflix
merubah fiturnya. Kini fiturnya adalah fitur yang akan merekomendasikan film yang
di upvote pengguna, atau film yang paling banyak ditonton.
![]() |
| Ditulis di Takom |
Data ‘juga’ adalah apa yang tidak kita lihat
Sekali lagi saya katakan,
bahwasanya data bukan hanya apa yang terlihat, namun juga yang tidak terlihat. Sayangnya
seringkali orang hanya fokus pada apa yang terlihat, dan melupakan apa yang
tidak terlihat.
Tidak percaya? Beberapa fakta ini
dapat menjelaskannya.
Measuring Economic Growth from Outer Space
Tahukah anda bahwasanya ternyata
ekonomi sebuah negara bisa diketahui dari luar angkasa? Bayangkan kalau diri
anda menjadi astronot yang sedang mengambang, melihat Bumi dari luar sana; dan
anda bisa mengukur perekonomian suatu negara.
Aneh bukan? Anda mungkin akan
mengatakan bahawasanya itu mustahil. Namun jika benar, bagaimana caranya?
Penelitinya, yaitu J. Vernon
Henderson, Adam Stroreygard, dan David N. Weil menggunakan foto-foto negara
pada malam hari, mereka menggunakan satelit angkatan udara Amerika yang
mengelilingi Bumi 14 kali sehari.
Dalam hal ini Davidowitz
menggunakan contoh data, yaitu Indonesia ketika krisis moneter terjadi pada
tahun 1988. Ketika krisis moneter terjadi kala itu, keuangan negara hancur,
masyarakat tidak lagi aktif berbelanja, mereka menjadi defensif, mereka
menggunakan mode berhemat.
Apa dampaknya? Tidak hanya dalam
melakukan jual-beli, namun masyarkaat juga berhemat saat menggunakan lampu.
Benar, mereka berhemat dengan menggunakan listriknya.
Bagi orang yang ada di luar
angkasa, matinya satu lampu jelas tidak akan berarti, namun jikalau yang
melakukan tindakan tersebut adalah jutaan orang, jelas bagi orang yang ada di
luar angkasa, itu adalah pertanda sesuatu.
Cahaya lampu Korea Selatan
bertambah 72% pada periode 1992-2008 karena performa eknomi yang sangat kuat
pada masa itu. Pada tahun 1998 di bagian Selatan Madagaskar, Kota Ilakaka,
ledakan cahaya terjadi.
Mengapa? Pada tahun 1998 banyak
batu perhiasan ditemukan banyak orang disana, sehingga daerah yang nyaris tidak
ada lampu sebelum tahun 1998 tersebut mendapati ledakan cahaya dalam kurun
waktu 5 tahun disana. Benar, lokasi itu berubah total dari tempat pemberhentian
truk menjadi pusat perniagaan besar.
Laporan Kekerasan Terhadap Anak
Seringkali kita mengatakan bahwa berkurangnya
laporan kekerasan seksual atau sejenisnya adalah bukti bahwa kinerja pemerintah
baik. Sayangnya, tidak demikian.
Berkurangnya laporan tidak
berarti bahwa kekerasan yang terjadi juga berkurang, masalahnya terletak pada
ketidakmampuan para pelapor untuk melapor karena satu dan lain hal.
Seth Stepen Davidowitz menemukan data
dengan menelusuri apa yang dicari orang di Google, dan apa yang ia temukan
mengejutkan. Kekerasan nyatanya masih banyak terjadi yang ditandai dengan
banyaknya pencarian terkait kekerasan di penelurusan. Para user mempertanyakan
hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan, yang mana mengindikasikan bahwa hanya
karena laporan ke pemerintah berkurang, tidak berarti kekerasan tersebut
berkurang juga.
Davidowits memaparkan banyak data
dalam buku ini, yang disampaikan dengan gaya Mark Manson. Bahkan masih banyak
yang belum sempat saya sampaikan, misalnya seperti media massa dan media
digital sebenarnya tidak seperti yang kita pikirkan.
Buku ini membuat saya lebih aware
terhadap apa yang tidak terlihat, dan barangkali bahwasanya apa yang tidak
dianggap sebagai data juga adalah data itu sendiri.


Posting Komentar untuk "Everybody Lies Review: Big Data, Google, dan Kebohongan Manusia"