A Rulebook for Arguments Review: Belajar Kaidah Berargumentasi dari Anthony Weston
Bahas Buku Kaidah Berargumentasi Karya Anthony Weston
Aku yakin kamu pernah memiliki
ide yang sangat bagus di dalam kepala, namun ketika menjelaskan ide tersebut,
orang-orang malah tidak paham dengan apa yang kamu katakan.
Aku juga yakin bahwa kamu pernah
berdebat atau melakukan persentasi makalah di hadapan seluruh teman dengan
berharap bahwa orang akan terpukau dengan persentasi yang kamu lakukan,
nyatanya? Zonk!
Di kehidupan sehari-hari kita, seringkali kita akan melihat orang yang berupaya untuk terlihat pintar
dibandingkan pintar beneran, dan sebenarnya, bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah, seringkali orang memang pintar beneran, namun keterampilan mereka dalam menjelaskan atau menyampaikan ide yang buruk membuat mereka lebih sering terlihat bodoh atau sok pintar dibandingkan pintar.
Bahkan aku yakin pada status
Whatsapp atau postingan IG kita lebih sering menemukan postingan yang membuat
kita merasa berkata ‘hah, maksud lo apa?’ dibandingkan mengangguk-angguk tercerahkan, meskipun, tentu saja,
pembuatnya sebenarnya ingin sekali mencerahkan orang lain.
Tidak perlu malu jikalau memang
ingin belajar. Tidak hanya kamu, kemampuan berbahasa yang buruk bahkan seringkali diperlihatkan
pemerintah kita yang tentu saja membuat kita sebagai rakyat geleng-geleng
kepala.
Bedanya, kamu mau mau belajar, mereka? Belum tentu.
Jadi…
Kenapa Kemampuan Berargumentasi Itu Penting?
Dalam buku A Rulebook for Arguments, Anthony Weston menjelaskan bahwa argumentasi bukan sekadar adu mulut, tetapi proses menyusun alasan logis untuk mendukung kesimpulan. Buku ini membahas cara menyusun argumen, menghindari logical fallacy, dan menulis opini secara terstruktur.
Hematnya, begini.
Sebagai makhluk sosial kita tidak
bisa lepas dari komunikasi.
Kita berkomunikasi untuk
didengarkan, dan lebih dalam, kita juga berbicara agar orang bisa memahami
secara betul apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan.
Saya rasa semua orang ingin
memiliki keterampilan untuk didengarkan meskipun bagi sebagian orang lainnya menguasai keterampilan itu teramat susah.
Salah satu problematika kebahasaan
kita adalah pembahasan kita seringkali lompat-lompat dan tidak terstruktur,
hasilnya poin-poin penting yang kita sampaikan terasa tidak ada artinya untuk orang lain.
Untuk memperbaiki permasalahan tersebut sejujurnya kita memerlukan satu keterampilan penting,
Keterampilan tersebut adalah berargumentasi.
Baiklah, begini,
Mari kita analogikan diri kita
sebagai orang yang berpengaruh, seumpama HRD yang sedang mencari karyawan,
orang yang akan diwawancarai beasiswa, CEO yang ingin menjelaskan proyeknya, atau
ketua organisasi yang siap berdebat.
Pertanyaan jelas akan diajukan,
dan jawaban mau tidak mau harus kita kemukakan. Untuk mempertahankan alasan ‘mengapa
kita menjawab begitu’ diperlukan sebagai penimbang benar tidaknya kita di mata
orang lain, sebagai alasan utama mereka percaya terhadap kita
Argumentasi sebenarnya berdiri
untuk hal ini, dan tanpa keterampilan ini, apa yang kita ucapkan sangat mudah
untuk diragukan.
Jadi begitulah pembaca yang budiman,
tulisan
ini menjelaskan tentang buku Kaidah Berargumentasi karya Anthony Weston, sebuah
buku yang diterjemahkan dari buku A Rulebook for Arguments yang telah
diterjemahkan ke banyak bahasa.
Pengantarnya sedikit panjang, jadi …bisakah kita memulainya?
Tentang Buku Ini
Berbeda dari banyak buku filsafat
atau buku-buku logika yang penjelasannya terasa berat, buku Kaidah
Berargumentasi ini justru ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami.
Hal ini menurut saya adalah nilai
plus untuk Anthony Weston sebab bisa membawa suatu materi yang berat dengan bahasa
yang bisa dipahami sehingga kita sebagai pembaca bisa langsung membacanya tanpa harus menyuruh Chat GPT menjelaskannya dengan bahasa
bayi.
Selain itu, ukuran bukunya juga
kecil dan ringan sehingga portable dan enak dibawa ke mana-mana. Hanya dengan
kurang lebih 120 halaman saja, kamu sudah bisa memahami dasar-dasar
berargumentasi yang dikemukakan pak Weston.
Dalam buku ini, Weston membagi isi
bukunya menjadi beberapa bab pendek namun padat makna yang membahas banyak hal
dari definisi argumentasi hingga cara membangun argumen langkah demi langkah.
Dengan penjelasannya yang begitu
mudah dipahami, maka saya percaya bahwa siapapun bisa membacanya baik itu dari mahasiswa semester akhir yang suka merokok di kantin sampai pelajar SMP ingusan sekalipun. Bagi penulis esai, saya juga menyarankan membaca
buku ini agar bisa menulis secara terstruktur.
Hal itulah yang ditawarkan buku ini, hematnya buku ini tidak hanya menawarkan keterampilan berargumentasi saja, melainkanjuga menulis opini yang lebih berbobot.
Selain itu buku ini menawarkan dengan apik cara menghindari salah paham atau logical fallacy dalam kehidupan sehari-hari, dan tentunya, buku ini sangat mendukung cara berpikir lebih kritis.
Menguasai keterampilan tersebut, kita bisa lebih percaya diri dalam
berkomunikasi khususnya berargumentasi.
Namun sebelum lebih lanjut ke bukunya, sekiranya kita perlu bertanya;
Siapa Anthony Weston?
Anthony Weston adalah seorang profesor
sekaligus dosen filsafat di Elon University, North Carolina. Ia dikenal lewat
tulisan-tulisannya tentang logika, etika, dan cara berpikir kritis.
Pada bab awal bukunya, Weston
menjelaskan bahwa orang seringkali melihat perdebatan sebagai suatu hal yang
sia-sia, bagi Weston, hal tersebut terjadi karena salah pandang orang terhadap perdebatan
itu sendiri.
Mengapa demikian?
Mengutip Weston, ia menjelaskan
bahwa salah satu definisi kamus untuk argumen adalah perdebatan yang mana
seringkali membuat orang merasa bahwa berdebat berarti beradu mulut.
Sayangnya, sebenarnya itu bukan
argumen.
Menurut Weston, secara definisi argumentasi adalah menawarkan serangkaian alasan atau bukti untuk mendukung suatu kesimpulan.
Di sini, argumen bukan sekadar
pernyataan pandangan tertentu, dan bukan sekadar perselisihan. Argumen adalah
upaya untuk mendukung pandangan tertentu dengan alasan.
Karenanya, dapat diketahui bahwa
bagi Weston berargumentasi bukan berdebat yang hanya persoalan adu mulut, melainkan
membuat pendapat disertai bukti-bukti yang kuat.
Isi dan Pembahasan Buku
Di bagian awal buku, Weston
langsung menjelaskan tujuan utama buku ini: membantu pembaca membuat argumen
yang bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan.
Kegagalan orang berpendapat
menurut Weston terjadi sebab beberapa faktor, yang diantaranya:
- argumennya tidak runtut,
- terlalu emosional,
- penuh logical fallacy alias cacat logika.
Akibatnya, tulisan atau pendapat
mereka meskipun terlihat panjang namun sebenarnya terasa kosong. (Saya harap
tulisan ini tidak begitu, hm).
Jika saya melakukan dikotomi,
maka sebenarnya buku ini bisa terbagi ke banyak hal, namun setidaknya core
utamanya adalah ada pada berpikir kritis yang dilanjutkan dengan keterampilan
argumentasi dan keterampilan menulis.
Keduanya memiliki prinsip yang
sama, yaitu argumentasi atau tulisan yang bagus mesti terstruktur.
Bagaimana Cara Berargumentasi dan Menulis Opini yang Benar Menurut Anthony Weston?
Cara Berargumentasi Yang Benar
Pertama, ingat bahwa berargumentasi dan berdebat adalah dua hal yang berbeda. Kita berargumentasi untuk sampai pada suatu kesimpulan, yang mana kesimpulan itu berasas pada bukti-bukti dan alasan yang rasional dan logis.
Karenanya, hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah menentukan satu hal; apa yang mau dibuktikan?
Cara Menulis Opini Yang Benar
Jika anda menyadari kebudayaan-kebudayaan lain maka anda akan menyadari beragam adat-istiadat manusia. Jika anda memahami keberagaman praktik-praktik sosial, anda mempertanyakan adat istiadat sendiri. Jika anda memperoleh keraguan tentang cara anda melakukan sesuatu, maka anda akan menjadi lebih toleran. Oleh karena itu, jika anda memperluas pengetahuan anda dalam bidang antropologi, maka lebih mungkin bagi anda untuk menerima orang dan praktik lain tanpa kritisisme.
Apakah anda memahami gagasan dari
tulisan tersebut? Coba bandingkan dengan metode rantai berikut:
Jika anda mempelajari kebudayaan-kebudayaan lain, maka anda akan menyadari beragam adat istiadat manusia. Jika anda menyadari keberagaman adat-istiadat manusia, maka anda mempertanyakan adat-istiadat anda sendiri. Jika anda mempertanyakan adat-istiadat anda sendiri, maka anda menjadi lebih toleran. Oleh karena itu, jika anda mempelajari kebudayaan lain, maka anda menjadi lebih toleran.
Anda pasti lebih mudah memahami argumen yang kedua bukan? Mengapa?
Karena argumen yang kedua berkesinambunagn antara satu dengan lainnya sehingga membentuk suatu susunan kalimat yang kokoh, sistematis, dan struktural.
Dibandingkan dengan argumen yang pertama yang lebih
susah dicerna, argumen kedua lebih mudah masuk kedalam pikiran kita karena hematnya, terstruktur.
Kelebihan dan Kerkuangan Buku
Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya, kelebihan buku ini adalah selain mudah dipahami yang bahkan cocok untuk anak SMP sekalipun, ia juga portable dan mudah dibawa kemana-mana.
Keringkasan buku ini sebenarnya menjadi poin bagus-buruknya, bagusnya, kita bisa membaca yang penting dari yang penting tanpa harus terikat pada penjelasan bertele-tele dari banyak buku sejenisnya.
Kekurangannya tentu ada, misalnya sebab bukunya ringkas maka penjelasan yang digunakan juga menggunakan prinsip Parsimoni yang kuat.
Weston hanya menggunakan sedikit contoh dan berharap kita bisa memahami contoh tersebut, masalahnya untuk 1 contoh dirasa masih kurang-kurang gitu.
Selain itu karena dulu saya membaca terjemahannya, terdapat terjemahan yang kurang tepat sehingga menghilangkan makna sebenarnya.
Memang sederhana, namun karena kurang tepatnyaterjemahan itu saya membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami bukunya, bahkan sampai membaca versi englishnya.
Pengalaman Saya dengan Buku Ini
Selepas membaca buku ini,
sungguh, saya jadi bisa memiliki kemampuan berargumen yang sangat baik. Saya
bisa menyampaikan informasi dengan lebih terstruktur dan dengan cermat menganalisa
ucapan orang-orang lain.
Hebatnya, buku ini juga membuat
saya menjuarai lomba esai berkali-kali, membuat saya meraup keuntungan yang cukup per-lomba yang diadakan. Lucunya, saya membeli buku ini dengan harga
20.000 rupiah saja.
Betul, hanya 20.000 rupiah.
Bukunya tergeletak tak terurus di toko buku Airlangga Mataram. Menemukannya,
saya langsung membaca bebeberapa halaman dan menemukan sebuah buku yang pada
akhirnya bisa merubah kehidupan saya untuk selamanya.
Apa yang ingin saya katakan adalah, tulisan yang anda baca disini hanyalah 5% dibandingkan keseluruhan informasi yang dikemukakan Weston.
Percayalah, membaca buku ini adalah sebuah anugerah bagi mereka yang ingin masuk kedalam gerbang keterampilan berargumentasi.

Posting Komentar untuk "A Rulebook for Arguments Review: Belajar Kaidah Berargumentasi dari Anthony Weston"