Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Membentuk Tim Yang Sukses? Review Buku The Culture Code karya Daniel Coyle

 Review Buku The Culture Code karya Daniel Coyle

Ada pertanyaan dasar yang barangkali perlu kita tanyakan kepada diri kita sendiri, terlebih jikalau kita adalah seorang pemimpin maupun sedang berkeinginan membuat tim maupun komunitas;

Apa yang membuat satu tim lebih unggul dibandingkan tim yang lain? Mengapa tim ini cenderung berhasil sementara tim lainnya tidak? Bagaimana kebudayaan dalam tim tersebut dibentuk?

Pertanyaan itu setidaknya dijawab oleh buku The Culture Code karya Daniel Coyle. Buku yang saya percaya harus dibaca seseorang yang akan menjadi atau sedang menjadi pemimpin.

The Culture Code membahas tentang karakter yang dimiliki oleh tim-tim yang sukses, Coyle menganggapnya seperti sebuah gen kultural yang ada pada masing-masing kelompok sehingga menjadikan sebuah kelompok bisa mengungguli kelompok yang lain.

Lalu apakah hal-hal yang mendasari hal tersebut. Coyle menyebut tiga hal; keamanan, kerapuhan, dan tujuan. Saya akan membahasnya lebih lanjut nanti.

Review Buku The Culture Code karya Daniel Coyle
Sampul buku The Culture Code (saya mengambilnya dari internet)

Apa Dampak Buku The Culture Code Kepada Saya?

Membaca buku ini membuat saya tercerahkan. Awalnya saya mengira bahwasanya pemimpin yang baik dan ulung adalah seorang diktator sebagaimana digemborkan 48 Hukum Kekuasaan atau Buku La Principle, yang mana orang diktator terkadang memerintah seperti bos dan diikuti karena rasa takut.

Namun setelah membaca buku ini, saya menaydari bahwasanya ada hal yang lebih baik dalam menggerakkan orang dibandingkan rasa takut, yaitu adalah rasa hormat. Respect. Sebab jika kita membuat orang lain hormat kepada kita, maka kita akan menjadi pemimpin yang diidam-idamkan.

Namun bagamana membentuk rasa hormat itu? Dalam buku ini rasa hormat itu dibentuk oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut misalnya adalah keberadaan orang yang memiliki karakter supportif dalam tim, kemampuan pemimpin untuk membentuk rasa aman dan nyaman terhadap anggotanya, serta kemampuan pemimpin membentuk sebuah tujuan serta makna yang akan digapai oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin dan bos tentu adalah dua hal yang berbeda, pada buku ini pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sama sekali bukanlah orang yang bersikap bosy, mereka adalah orang yang sama seperti orang yang dipimpinnya, bahkan kadangkala memungut sampah atau membersihkan tempat-tempat yang kotor sebagaimana karyawan yang mereka gaji.

Membaca buku ini membuat saya tidak segan-segan membersihkan wastafel di pondok yang tersumbat oleh nasi dan sayur-sayur, sebab saya menyadari bahwa saya adalah seorang pemimpin juga.

Tiga Faktor Yang Membentuk Tim Yang Sukses

Rasa Aman

Sebuah kelompok yang baik tidak dibentuk oleh pemimpin yang memberikan rasa takut kepada anggotanya, melainkan pemimpin yang mengusir rasa takut itu sehingga membuat kelompoknya menjadi aman.

Sebagaimana hierarki kebuuhan manusia yang dibentuk Abraham Maslow, rasa aman merupakan salah satu bagian paling dasar setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi.

Mengapa rasa aman penting untuk dibentuk? Sebab rasa aman akan membentuk rasa nyaman itu sendiri. Perlahan-lahan melalui rasa aman itu yang dipimpin akan tumbuh menjadi lebih baik.

Hal tersebut bisa ditandai dengan keberanian mereka dalam berpendapat dan mengutarakan apa yang mengganjal. Hal ini jelas tidak akan ditemukan pada kepemimpinan yang membuat orang takut.

Coyle yakin bahwa rasa amanlah yang pada akhirnya membentuk keterhubungan antar pemimpin dengan anggota maupun anggota dengan anggotanya yang lain. Rasa aman ini pula, dalam penelitian yang dinukil Coyle, membuat keberadaan apel busuk bisa menjadi tidak berguna.

Saya akan membahas tentang apel busuk ini lain kali, atau kalau mau, bisa langsung membaca bukunya.

 

Kerapuhan

Setiap orang tentu akan melihat pemimpin sebagai orang yang kuat, yang akan berada dihadapan orang yang dipimpinnya apapun yang terjadi.

Memang, pemimpin mestilah begitu. Pemimpin bahkan tidak boleh menampakkan diri mereka lemah sebab mereka akan membentuk perasaan aman melalui ketangguhan yang ia tampilkan.

Sayangnya, hal tersebut tidak selamanya benar dan tepat. Pada titik-titik tertentu pemimpin memang mesti menunjukann bahwa diri mereka adalah seorang manusia. Seorang yang sama rapuhnya dengan orang yang dipimpinnya.

Mengapa demikian? Ternyata baik langsung maupun tidak langsung kerapuhan bisa memperkuat keterhubungan antar pemimpin dengan anggota. Anggota merasa berharga dan memiliki tempat sehingga memenuhi apa yang pemimpin tidak bisa, sementara pemimpin merasa berharga sebab bisa ditrima.

Pada sisi kerapuhan ini pula pemimpin bahkan cenderung meminta bantuan kepada orang yang lebih ahli yang kadangkala ada di anggota mereka sendiri, pada titik inilah pemimpin cenderung tidak meletakkan dirinya menjadi manusia yang paling superior, melainkan memberikan rasa percaya kepada anggota bahwa mereka setara. Hal yang sekali lagi membuat yang dipimpin bisa tumbuh dengan baik.

Pemimpin mestilah kuat, namun dilain sisi mereka juga harus menyadari bahwa mereka adalah manuisa dan pada hakikatnya manuisa selalu membutuhkan manusia lainnya.

 

Tujuan

Manuisa berkumpul dan berkoloni bukan tanpa sebab, melainkan meeka terikat oleh satu hal; tujuan. Tujuan bisa beraam jenis, misalnya kita nongki bersama teman-teman kita di pinggir jalan, tujuannya bisa saja berbeda satu dengan lainnya, misalnya satu orang sedang ingin bermalas-malasan, satu orang sedang kabur dari rumah, satu orang lagi sedang kangen dengan teman-temannya.

Meski demikian, tentu ada hal yang membentuk dan membangun dalam diri kita sehingga kita berada pada kelompok maupun komunitas tertentu. Pasti ada makna kita melakukannya. Baik itu kita sadari atau tidak.

Orang yang bergabung ke dalam komunitas buku cenderung memiliki makna yang sama, yaitu disisi lain bertumbuh, namun disisi lain membangun literasi. Bahkan para pejabat korup kita di pemerintahan pastilah memiliki makna mengapa mereka melakukannya juga, alasannya itu silakan ditanyakan kepada mereka.

Dalam buku The Cultur Code, sebuah kelompok yang bagus memiliki tujuan jangka panjang yang mana tujuan itu ditopang oleh keterhubungan makna satu dengan makna yang lain.

Makna-makna yang menopang inilah yang senantiasa menggerakkan kita menuju sebuah titik yang pada akhirnya membuat kita sampai bersama. Hal inilah yang pada akhirnya membuat kita tergerak melakukan sesuatu.

Sederhananya, sebuah kelompok maupun komunitas seumpama kereta api yang orang-orang di dalamnya beragam namun bergerak pada rel yang sama, dan akan dibawa ke tempat yang sama oleh kereta api tersebut.

Ada makna dan tujuam kita di kereta api tersebut, barangkali makna itu adalah makna yang kita bangun sendiri, barangkali juga makna itu adalah makna yang dibentuk oleh komunitas.

Namun tentu, pasti selalu ada alasan kita bangun di pagi hari, melakukan hal yang bisa saja tidak kita suka sebab jika kita tidak melakukannya, sesuatu akan terjadi. Makna bisa dibangun dari hal-hal sederhana semacam itu.

Pada akhirnya?

Pada akhirnya, buku ini benar-benar layak dibaca. Terkhusus untuk mereka yang ingin menjadi seorang pemimpin. Buku ini akan membuat kita menyadari bahwa ada hal-hal sederhana yang bisa membuat orang lain bertumbuh.

Hal-hal sederhana yang barangkali tidak sempat kita bayangkan sebab ia selama ini berada dihadapan hidung kita.

Identitas Buku The Culture Code

Judul buku: The Culture Code, Rahasia Membentuk Tim Yang Sukses

Judul asli buku: The Culture Code : The Secrets of Highly Successful Groups

Penulis: Daniel Coyle

Penerjemah: Leinovar

Editor : Hikmawati Diyas Nussa

Tahun Terbit Buku: 2022, Cetakan ke-2

Penerbit: PT Rene Turos Indonesia

ISBN : 978-623-6083-24-6

Posting Komentar untuk "Bagaimana Membentuk Tim Yang Sukses? Review Buku The Culture Code karya Daniel Coyle"