Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Kita Dibodohi Agama? Review Buku Reopening Muslim Mind karya Mustafa Akyol

Review Buku Reopening Muslim Mind karya Mustafa Akyol

Salah satu buku yang sempat saya baca belakangan adalah buku Reopening Muslim Mind karya Mustafa Akyol. Bagi kalian yang belum mengetahui Mustafa Akyol, saya rasa saya bisa menspill beberapa hal tentang beliau agar nanti jika kalian membaca bukunya kalian tidak terkejut.

Mustafa Akyol adalah seorang liberalis. Ia termasuk dalam organisasi JIL atau Jaringan Islam Liberal, yang artinya; pandangannya terhadap beberapa aspek dalam Islam jelas adalah dalam sudut pandang liberal atau cenderung kebebasan.

Namun jelas kita tidak boleh langsung menjudge beliau kendati kita sama-sama tahu bahwa ia liberal, hal yang jelas, apa yang disampaikan oleh Akyol dalam buku ini layak kita renungkan bersama.

Apa Point Penting Buku Ini?

Buku ini menjelaskan kepada pembaca terkait bagaimana hal-hal yang ada di dunia Islam saat ini tiada bisa terlepas dari peran politik. Hematnya, bahkan agama telah dijadikan alat politik turun temurun, yang mana bahkan orang-orang Islam sampai tidak mengetahui hal yang mereka anggap benar selama ini juga ternyata adalah salah.

Salah satu pandangan unik yang diberikan Akyol adalah tentang perseteruan golongan Asya'ariyyah dan Muktazilah. Seperti yang kita ketahui Indonesia adalah negara yang didominasi oleh NU dan Muhammadiyah yang dekat ke Asyariyyah.

Namun mengapa itu terjadi?

Faktornya adalah sejarah. Akyol menjelaskan bahwasanya hal tersebut tiada lepas dari kepentingan para pemuka agama Islam di masa lampau yang politis. Ketika pertarungan ideologi antara Asyariyyah dan Muktazilah terjadi, Muktazilah kalah dan menyebabkan ideologinya terpinggirkan.

Sebelum lanjut saya rasa perlu menjelaskan bahwasanya Muktazilah adalah golongan Islam yang mengedepankan akal dibandingkan wahyu dan lainnya. Bagi Muktazilah semua mesti rasional dan logis sehingga dapat diterima akal.

Dampak dari pertarungan tersebut ternyata sangat besar untuk dunia Islam sebab secara tidak langsung Asyariyyah telah menjadi Islam arus utama, dan golongan-golongan lain seperti Muktazilah menjadi Islam garis sampingan.

Asyariyyah sebagai Islam arus utama tentu memiliki kehendak dalam menentukan mana baik dan buruk demi kebaikan umat Islam (Atau jika boleh ragu, demi kepentingannya sendiri juga) yang mana  tindakan politis tersebut jelas membuat banyak aturan-aturan Islam yang sebenarnya profan namun dianggap sakral oleh penganutnya.

Di masa sekarang kita seringkali melihat pertikaian agama yang disebabkan masing-masing kelompok benar sendiri. Orang menjadi banal terhadap hal yang profan dalam agama, bahkan Prof. Aksin Wijaya dalam buku Menalar Islam menjelaskan bahwasanya masyarakat seringkali tidak bisa membedakan mana yang tafsiran dan mana yang benar-benar Islam yang menyebabkan apa yang dibela umat muslim seringkali adalah hasil tafsiran, bukan Islam itu sendiri. 

Tentu kita menjadi tidak menegakkan Islam melainkan menegakkan tafsiran. Kita membela tafsiran tersebut mati-matian yang membuat kita terpecah: Wahabi dengan Wahabi, Salafi dengan Salafi, Hanafi dengan Hanafi, dan Syafi'i dengan Syafi'i, namun Islam menjadi redup karena mereka tidak bersatu.

Pertanyaannya; apakah ada cara menyatukannya kembali?

Muktazilah; Kekalahan Ibnu Rusyd Melawan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali seringkali dituduh menjadi aktor utama yang membuat umat Islam mengalami kemunduran. Pertarungan Imam Al-Ghazali yang Asyariyyah dan Ibnu Rusyd yang Muktazilah menjadi pertempuran ideologi yang sangat epik karena mempertemukan dua tokoh cencekiawan Islam pada masa itu.

Kedua cendekiawan tersebut sebenarnya sedang bertaruh pada satu hal; Islam di masa depan akan seperti apa?. Ibnu Rusyd yang Muktazilah tentu ingin masyarakat Islam mengedepankan akal dibandingkan yang lain, di lain sisi Imam Al-Ghazali ingin masyarakat Islam tetap berhati-hati dalam agama sebab ideologi Muktazilah dapat menjauhkan mereka dari Islam yang murni.

Seperti yang diketahui, Imam Al-Ghazali menang, namun apakah Ibnu Rusyd benar-benar kalah? Sejujurnya, tidak.

Apa yang terjadi adalah keblunderan Ibnu Rusyd dalam mengutip, yang mana ia sempat mengutip dewa dari Yunani. Sederhana? Memang, namun dampaknya untuk masyarakat Islam kala itu sampai membuatnya ditangkap, diikat kemudian diludahi oleh orang-orang. Bahkan Ibnu Rusyd mati dan tidak semahsyur yang lain. Ia mati terpinggirkan dari arus orang-orang yang bising.

Pendapat Imam Al-Ghazali lebih populer dibandingkan pendapatnya, akhirnya pendapatnya juga ikut diasingkan dan tidak mendapat tempat yang layak. Masalahnya, ketika kebenaran dipegang mayoritas, kebenaran bisa menjadi bias, dan yang menentang mayoritas bisa terasing dan dianggap kafir.

Ibnu Rusyd tidak benar-benar kalah melawan Al-Ghazali. Ibnu Rusyd kalah oleh otoritas yang ada pada masa itu, yaitu otoritas masyarakat yang merupakan mayoritas, mayoritas yang tidak sepaham dengannya.

Mayoritas itu adalah mayoritas yang banal, yang menerima agama dan fatwa tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Pun pada masa itu mustahil masyarakat yang sedemikian besar tidak digerakkan oleh seorang yang bisa saja membencinya, sehingga menggunakan pengaruh politisnya untuk menyingkirkan Ibnu Rusyd dari arus utama Islam.

Sekali lagi, seorang cendekiawan mati oleh politik yang digunakan sewenang-wenang.

Sedikit Tentang Muktazilah

Kebangkitan Muktazilah besar kemungkinan lahir dari bangkitnya JIL yang merupakan singkatan dari Jaringan Islam Liberal. Muktazilah yang memiliki core dalam akal dan rasionalitas bisa saja semakin memiliki tempat sebab masyarakat semakin muak terhadap institusi agama yang semakin menyimpang. Di lain sisi, terbukanya informasi membuat masyarakat memiliki pikiran yang lebih terbuka sehingga mereka bisa menentukan mana yang baik dan salah.

Agama tidak hanya soal kepatuhan, melainkan juga adalah perlawanan. Perlawanan paling baik adalah ketika orang-orang mendapatkan pencerahan yang membuat mereka menjadi sadar, yang mana  kesadaran itu menjadi kesadaran kolektif dan kemudian menggerakkan manusia pada makna yang sama, ke arah yang sama.

Revolusi agama bisa saja terjadi bilama institusi agama di Indonesia tidak melakukan pembenahan dan tidak terus-terusan melakukan hal yang menyimpang, berkaca pada revolusi-revolusi yang telah lalu;

Revolusi tidak pernah datang seperti meteor, melainkan seperti bola salju yang awalnya kecil kemudian menggelinding dan membesar, membesar dan membesar sehingga bisa meruntuhkan sebuah zaman. 

Percikan kesadaran sedang muncul pada tahap yang paling bawah. Kita sedang mengalami masa Disrupsi, dan kita tidak pernah tahu darimana ancaman itu sebenarnya muncul. Sebagaimana Ibnu Rusyd yang terpinggirkan di masa lampau, besar kemungkinan ideologi Al-Ghazali juga terpinggirkan dan menyisakan Asyariyyah menjadi Islam arus sekunder.

Tidak pernah ada yang tahu, kita hanya bisa berspekulasi.

Identitas Buku Reopening Muslim Mind karya Mustafa Akyol

Nama Buku : 

Nama Asli Buku:

Penulis :

Penerjemah :

Editor:

Tahun Terbit Buku:

ISBN :

Data identitas buku akan saya tulis kalau sudah ingat (bukunya di Lombok BTW, sementara saya di Jogja)



Posting Komentar untuk "Bagaimana Kita Dibodohi Agama? Review Buku Reopening Muslim Mind karya Mustafa Akyol"